Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Surah al-Baqarah (2) Kelompok, I ayat 19-20 betapa enggan mereka mendengar dan betapa keras upaya mereka menutup pendengaran mereka masing-masing, sampai mereka menggunakan seluruh jari-jari mereka bukan hanya satu jari atau bahkan ujung jari, dan itupun dengan memasukkan jari-jari ke dalam telinga sehingga mereka mengharap tidak ada celah masuk buat suara. Mereka melakukan itu untuk menghindar, padahal Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui meliputi orang-orang yang kafir. Sehingga mereka tidak dapat menghindar karena telah terkepung dari segala penjuru. Hampirhampir saja kilat itu yakni kilatan listrik di udara menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan dengan penuh kehatihatian di bawah sinar itu, dan bila kilat yang begitu cepat cahayanya menghilng sehingga gelap menimpa mereka, mereka berdiri yakni berhenti tidak bergerak Mereka tidak memanfaatkan hujan deras yang turun, tetapi sibuk dengan guntur dan kilat, yakni sibuk dan takut menghadapi kecaman dan kritik alQur'an yang dapat membongkar isi hati mereka. Kesibukan tersebut bertujuan menutupi kemunafikan mereka. Mutawalli asy-Sya'rawi memahami ayat ini dalam arti bahwa orangorang munafik mengabaikan hujan, yakni petunjuk Ilahi yang turun dari langit tanpa usaha mereka. Padahal hujan, yakni petunjuk itu, mampu menumbuh suburkan hati mereka, sebagaimana hujan menumbuh kembangkan tumbuhtumbuhari. Mereka mencurahkan seluruh perhatian kepada hal-hal sampingan. Bukankah hujan sebelum tercurah dari langit didahului oleh guntur dan gelapnya awan? Bukankah ketika itu sinar matahari tertutupi oleh gelapnya awan dan cahaya bulan serta bintang-bintang pun terhalangi olehnya? Mereka tidak menyambut kedatangan air yang tercurah itu, tetapi sibuk dengan kegelapan, guntur dan kilat. Demikianlah orang-orang munafik menyambut nikmat Allah dengan sikap dan perbuatan yang tidak pada tempatnya. Mereka tidak dapat bersabar sejenak pun untuk menahan dorongan nafsu mereka. Mereka menginginkan yang cepat lalu mengabaikan air yang membawa manfaat banyak serta berkesinambungan (akhirat) dan mengarah kepada hal-hal yang bersifat sementara dan lahiriah (dunia). Sebenarnya, jikalau Allah menghendaki niscaya dapat saja Dia menlenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka sehingga usaha mereka menutup telinga dengan jari-jari atau menghindar dari sambaran kilat akan sia-sia belaka, karena sesungguhnya Allah kuasa atas segala sesuatu dan dengan demikian keadaan mereka pun bisa sama dengan orang-orang kafir yang buta tuli itu, tetapi Allah tidak melakukan hal itu untuk memberi mereka kesempatan bertaubat.