Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
: 11 Kelompok I ayat 19-20 Surah al-Baqarah (2) bas 223 ng DA rt “3 Jangan diduga ayat ini bertentangan dengan ayat sebelumnya yang melukiskan mereka buta dan tuli. Tidak! Demikian tulis asy-Sya'rawi. Yang buta adalah mata hati mereka yang mengantar kepada pengetahuan hakiki, dan yang tuli adalah pendengaran yang melahirkan keinsafan dan pemahaman. Adapun mata kepala bukannya tidak dapat melihat fenomena, atau telinga tidak dapat mendengar suara. Memang kalau Allah menghendaki, dapat saja Dia membutakan mata kepala dan merusak gendang telinga mereka, tetapi Allah tidak melakukan itu, agar kelak di hari Kemudian, mereka tidak berdalih bahwa, “kami tidak melihat dan tidak juga mendengar.” Sementara ulama memahami ayat ini sebagai perumpamaan tentang keadaan orang-orang munafik yang bercampur dalam dirinya antara daya tarik kebaikan dan keburukan. Keduanya saling dorong mendorong. Ketika mendengar ajakan kebaikan ia mengarah kepada kebaikan, dan sebaliknya pun demikian. Keadaan itu dipersamakan dengan hujan lebat, yang merupakan sesuatu yang sangat baik — khususnya di wilayah padang pasir yang hujannya langka. Tetapi ketika hujan itu turun, terjadi aneka peristiwa, ada kilat ada guntur, yang menakutkan, tetapi ada juga air yang tercurah demikian deras. Thahir Ibn “Asyar memahami ayat ini sebagai gambaran tentang keadaan orang-orang munafik ketika menghadiri majlis Rasul saw. dan mendengar ayat-ayat al-Our'an yang mengandung ancaman serta beritaberita yang menggembirakan. Dengan demikian, ayat-ayat al-Qur'an diibaratkan dengan hujan yang lebat, apa yang dialami dan dirasakan oleh orang-orang munafik diibaratkan dengan aneka kegelapan, sebagaimana yang dialami pejalan diwaktu malam yang diliputi oleh awan tebal sehingga menutupi cahaya bintang dan hujan. Guntur adalah kecaman dan peringatanperingatan keras al-Qur'an. Kilat adalah cahaya petunjuk al-Qur'an yang dapat ditemukan di celah peringatan-peringatannya itu. Firman-Nya: Mereka menyumbat telinga mereka dst adalah untuk menyimpulkan keadaan mereka ketika hujan lebat itu turun. Ini menggambarkan rasa takut yang menyelimuti jiwa orang-orang munafik itu ketika ayat-ayat al-Our'an turun. Mereka seperti seorang yang takut pecah gendang telinganya, dibutakan oleh kilat matanya, sehingga ia tak mampu berjalan. Firman-Nya: Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, maksudnya sesekali ia tersentuh oleh kandungan ayat alQur'an, dan ketika itu ia berjalan mengikutinya, tetapi itu hanya sesaat — seperti saat kilat itu bercahaya — sehingga bila cahaya itu menghilang, yakni