Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Kelompok III ayat 37 Surah al-Baqarah (2) mencicipi buah pohon terlarang, Allah berfirman, Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu.” Anda baca di sini Allah menggunakan kata menyeru mereka yang mengisyaratkan jarak yang jauh, padahal sebelum mendekat ke pohon, kata yang digunakan adalah “berfirman.” Di sisi lain, pohon pada ayat di atas ditunjuk dengan kata ifu, padahal sebelum mencicipinya pohon itu ditunjuk dengan kata iri. Perbedaan redaksi ayat al-Baqarah (2): 35 dan al-A'raf [7]: 22, mengisyaratkan bahwa setelah berdosa, Allah dan masusia menjauh dari posisi sebelum berdosa. Nah, bila manusia menyesal dan bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan dan memohon ampun, maka dia bertaubat, yang arti harfiahnya adalah kembali. Allah yang menerima taubat manusia juga kembali ke posisi semula sehingga Dia pun bertaubat, yang biasa diartikan menerima taubat manusia. Allah melakukan'hal itu, terhadap Adam dan istrinya, demikian juga terhadap siapapun yang melakukan hal serupa karena memang Dia Maha Pengampun, yakni berulang-ulang memberi pengampunan kepada orang banyak; Jagi Maha Penyayang, yakni mencurahkan anugerah kepada hambahamba-Nya. Kata (11) at-tawwab terambil dari akar kata yang terdiri dari hurufhuruf ta”, wauw dan ba'. Maknanya hanya satu yaitu kembali. Kata ini mengandung makna bahwa yang kembali pernah berada pada satu posisi — baik tempat maupun kedudukan — kemudian meninggalkan posisi itu, selanjutnya dengan “kembali” ia menuju kepada posisi semula. Kata kerja yang menggunakan akar kata yang terangkai oleh ketiga huruf di atas beraneka macam bentuknya, sedang pelakunya, sekali Allah dan dikali lain manusia. Jika demikian Allah pun “bertaubat” dalam arti kembali. Kata /awwab seringkali diartikan Penerima taubat. Tetapi makna ini belum mencerminkan secara penuh kandungan kata /awwdh, walaupun kita tdak dapat menilainya keliru. Imam Ghazali mengartikan at-tawwdb sebagai Dia (Allah) yang kembali berkali-kali menuju cara yang memudahkan taubat untuk hambahamba-Nya, dengan jalan menampakkan tanda-tanda kebesaran-Nya, menggiring kepada mereka peringatan-pcringatan-Nya, serta mengingatkan ancaman-ancaman-Nya, sehingga bila mereka telah sadar akan akibat buruk dari dosa-dosa, dan merasa takut dari ancaman-ancaman-Nya, mereka kembali (bertaubat) dan Allahpun kembali kepada mereka dengan anugerah pengabulan.