Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Kelompok IV ayat 40 Surah al-Baqarah (2) nikmat yang diperoleh dapat mengalihkan pikiran dari nikmat yang diperoleh orang lain, sehingga iri hati tidak akan timbul. Agaknya ini merupakan salah satu tujuan perintah al-Qur'an untuk meng ingat nikmat Allah swt. Firman-Nya: ( Sale Sail gi Hesti) ni mati allati an'amtu 'alaikum/ m'mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepada kamu menggarisbawahi dua hal. Pertama, nikmat itu adalah milik-Nya semata dan berada di sisi-Nya tidak pada selain-Nya. Yang kedua, bahwa nikmat itu adalah anugerah-Nya sendiri yang bersumber dari-Nya semata, bukan karena hasil upaya mereka. Jika demikian halnya, maka sangat wajar bagi mereka yang memperolehnya untuk memenuhi ketentuan yang ditetapkan-Nya yang disimpulkan oleh penggalan ayat ini dengan kata penuhilah janji-Ku. Maksudnya, penuhilah janji-janji kamu terhadap-Ku. Apakah janji mereka? Janji mereka antara lain tunduk patuh kepada Allah, mempercayai para rasul yang diutus-Nya, termasuk mengakui dan membela Nabi Muhammad saw. Penggunaan kata (A48) 'ahd/ perjanjian dinilai oleh Thahir Ibn “Asyur sebagai salah satu aspek kemukjizatan al-Our'an. Karena, kata tersebut merupakan kata yang digunakan oleh Bani Isra'il dalam kitab Taurat. Tetapi ini tidak dikenal kecuali oleh para pemuka agama Yahudi yang bersikap sangat tertutup. Nah, penggunaan kata itu dalam ayat yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. ini, sedang beliau tidak pernah membaca dan tidak pandai menulis, merupakan bukti bahwa apa yang beliau sampaikan itu benar-benar adalah wahyu Allah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib. Kata (OpayW) farhabiin terambil dari kata («&)) rahiba yaitu rasa takut yang menjadi seseorang lari meninggalkan medan. Demikian Al-haraly sebagaimana dikutip oleh al-Biga'i. Firman-Nya: ( O 4A) S4) wa iyyaya farhabin/ hanya kepada-Ku kamu semua barus takut ditekankan di sini karena boleh jadi ada di antara mereka yang tidak melaksanakan janji itu karena takut dikecam, atau disiksa, atau mungkin juga karena melupakan ancaman siksa Allah. Maka karena itu, hendaklah hanya kepada-Ku kamu semua harus takut. Siapa yang takut kepada Allah, Allah menjadikan segala sesuatu takut kepada-Nya. Dan siapa yang takut kepada selain Allah, Allah menjadikan dia takut kepada segala sesuatu, bahkan kepada bayangannya sendiri.