Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Surah al-Baqarah (2) Kelompok IV ayat 54 3 Lanjutan ayat ini menjelaskan cara bertaubat, yaitu “Bunuhlah diri kamu," yakni hendaklah yang tidak menyembah anak sapi membunuh yang pernah menyembahnya, atau hendaklah masing-masing yang berdosa membunuh dirinya sendiri. Demikian ditemukan maknanya dalam riwayat-riwayat, yang sulit diterima oleh sementara nalar, sehingga sebagian ulama memahaminya dalam arti bunuhlah hawa nafsu kamu yang mendorong kepada kedurhakaan. Sebenarnya kita tidak perlu terlalu memaksakan pengertian "mgjagi seperti di atas. Sejak dahulu hingga kini, kita masih menemukan orangorang yang bersedia mengorbankan dirinya serta menghilangkan nyawanya, demi sesuatu yang luhur. Gerakan bunuh diri atau harakiri yang dilakukan oleh prajurit-prajurit Jepang pada masa perang dunia, atau bom-bom yang diikat sendiri oleh pejuang-pejuang Palestina pada tubuh mereka dan kemudian meledakkannya bersama dirinya dalam perjuangan melawan Isra'il, atau upaya membakar diri sendiri sebagai protes yang dilakukan sekian orang dewasa ini, kesemuanya dapat menghilangkan keraguan memahami kata membunuh diri kamu pada ayat di atas dalam artinya yang hakiki. Wanita-wanita Hindu yang suaminya meninggal pun ikut membakar diri atas dorongan kepercayaan agama. Menghilangkan nyawa atas perintah Allah demi terhapusnya dosadosa, dan untuk meraih kedudukan tinggi di akhirat kelak ditegaskan Misa as. sebagai sesuatu yang “Lebih baik bagi kamu di sisi al-Bari” kamu,” yakni Tuhan yang menciptakan kamu dengan harmonis. Adalah wajar, jika Allah yang menciptakan mereka dalam keadaan harmonis, lalu keharmonisan itu mereka rusak dengan menyembah anak sapi, adalah wajar jika Allah meminta agar nyawa yang diciptakan Allah itu dikembalikan kepada-Nya. Apakah nanti Dia perbaiki dan kembalikan lagi sehingga menjadi harmonis atau tidak, itu adalah wewenang-Nya. Namun demikian Nabi Musa as. memberi harapan kepada mereka, yakni jika mereka tulus melaksanakan perintah itu, “Maka Allah akan menerima taubat kalian, sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat dan Maha Pengasih.” Sekali lagi, penggalan ayat ini menunjukkan bahwa tidak tertutup kemungkinan bila terbukti mereka melaksanakan perintah itu, Allah memaafkan mereka, atau setelah dilaksanakan oleh sebagian, Allah memaafkan yang lain, agar tidak terjadi kepunahan di kalangan mereka. Selanjutnya Allah memerintahkan untuk merenungkan nikmat yang lebih besar, yaitu nikmat kebangkitkan mereka setelah kematian, sekaligus mengisyaratkan makna yang dikandung oleh penutup ayat 54 ini.