Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Surah al-Baqarah (2) Kelompok IV ayat 58-59 lakukan itu tidak menyentuh sedikit pun keagungan Allah karena itu pada hakikatnya, Tidaklah mereka menganiaya Kami, akan tetapi merekalah sejak dahulu hingga kini yang berulangkali menganiaya diri mereka sendiri. Kata “berulangkali” dipahami dari penggunaan kata (US) kina dan bentuk kata kerja mudhari' yang menunjuk penganiayaan mereka, yaitu kata (Usekky) yaghliman. Memang, walaupun seluruh makhluk durhaka, kekuasaan dan keagungan Allah tidak tersentuh atau berkurang. Sebaliknya, walau seluruh makhluk taat kepada-Nya pada puncak tertinggi ketaatan, itu pun tidak akan menambah keagungan-Nya, karena Dia berada pada puncak yang tiada puncak lagi sesudahnya. Mereka menganiaya diri sendiri, karena apa yang mereka peroleh akan punah, kalaupun bertahan, tidak akan terbawa mati. Yang terbawa tidak lain kecuali amal, sedang amal mereka buruk, dan keburukan itu menjadikan mereka tersiksa. Jika demikian, mereka telah menganiaya diri mereka sendiri. Betapapun nikmatnya makanan dan naungan di padang pasir yang selama itu mereka nikmati, namun tentu saja nikmat hidup di kota, tetap merupakan suatu dambaan. Nah, setelah empat puluh tahun mereka hidup dalam kebingungan di padang Th (baca OS. al-Ma'idah (5J: 26), mereka memperojeh nikmat dan meraih kemenangan melawan musuh mereka sehingga mereka dapat kembali memasuki kota idaman. Ayat berikut mengingatkan mereka akan nikmat ini. AYAT 58-59 + . A a no ntu. f .. -+ E ian .. r » Da Bap anna PI KASN ME Ai Laga Aga MSG AAN lh AN a sii > dala tan - P se e P E ATS r Iya yii JAD KOAP Cynnal y ag S aS pS AN dar 1 2 ” 2» + sæ Ti ” ir te ai- 5. Da - ng “Ng rr Ls Los AA POF aa uili é Wu “4 Ia Se g ý oap oyini Dan Ingatlah, ketika Kami berfirman: “Masuklah kamu ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak di mana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbang sambil bersujud, dan katakanlah: Hiththah’, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahan kamu. Dan kelak Kami akan menambah untuk para mubsinin.” Lalu orang-orang yang galim mengganti perintah dengan