Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Tafsir al Mishbah Jilid 1 - Detail Buku
Halaman Ke : 237
Jumlah yang dimuat : 623
« Sebelumnya Halaman 237 dari 623 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

Kelompok IV ayat 64 Surah al-Baqarah (2) an-Nasa'1 meriwayatkan melalui Abu Sa'id al-Khudri, bahwa Nabi saw. bersabda: “Sesungguhnya salah seorang manusia yang paling bejat adalah seorang fasiq yang membaca al-Qur'an sedang dia tidak memperhatikan sesuatu darinya,” yakni tidak mengamalkannya Di atas terbaca bahwa gunung Thur Sina diletakkan di atas kepala mereka sebagai ancaman, atau mereka merasa yakin setelah melihat asap berterbangan, serta mendengar guntur dan menyaksikan kilat, mereka yakin bahwa gunung akan menimpa mereka, baru kemudian mergka diberi pilihan, melaksanakan kandungan Taurat atau gunung Thur Sina runtuh di atas mereka. Nah, di sini timbul pertanyaan, “Bukankah ini ancaman dan bukankah ancaman ini telah mencabut hak pilih mereka? Bukankah ini bertentangan dengan hak pilih yang sejak semula Allah telah anugerahkan kepada manusia?” Kita berkata: Tidak! Karena ancamam tersebut tidak mencabut hak pilih mereka. Selanjutnya apakah ketaatan kepada Allah harus disertai dengan ancaman? Bukankah ini pemaksaan untuk taat? Jawabannya serupa dengan menjawab pertanyaan yang diajukan kepada seorang ayah yang mengancam akan memukul anaknya bila ia tidak minum obat. Ini bukti kasih sayang. Karena kalau tidak, hidupnya terancam. Akal anak yang diancam itu belum dapat memahami kemaslahatan minum obat kecuali dengan membujuk atau mengancam. Memang akal manusia ketika itu, yakni pada masa Nabi Musa as. belum sampai pada satu tingkat kedewasaan seperti kedewasaan seseorang yang bersedia meminum obat yang pahit dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan. Itu pula sebabnya bukti-bukti kebenaran para nabi sebelum manusia mencapai tingkat kedewasaan bepikir yakni sebelum kehadiran Nabi Muhammad saw., selalu bersifat indrawi terlihat dan terjangkau oleh panca indra, bukan bersifat akli sebagaimana halnya mukjizat al-Qur'an. Namun untuk ke sekian kalinya, orang-orang Yahudi enggan dan ingkar janji, sehingga Allah mengingatkan mereka lagi: AYAT 64 ya a ES ah Sa àn Jai Yi a a A ga grt $ A5


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 237 dari 623 Berikutnya » Daftar Isi