Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Surah al-Baqarah (2) Kelompok IV ayat 67-71 untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak ada sesuatu padanya.” Mereka berkata, “Sekarang barulah engkau menerangkan menyangkut sapi yang sebenarnya.” Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu. Ayat ini masih merupakan uraian tentang Bani Isra'il dengan aneka nikmat Allah yang dianugerahkan kepada mereka serta berbagai kecaman atas sikap buruk mereka. Kalau ayat-ayat yang lalu dapat dikatakan sebagai uraian tentang kedurhakaan mereka menyangkut hak-hak Allah secara umum, maka ayat-ayat berikut menggambarkan kekerasan hati dan kedangkalan pengetahuan mereka tentang makna keberagamaan serta bagaimana seharusnya sikap terhadap Allah swt. dan Nabi-Nya. Ada seorang terbunuh yang tidak dikenal siapa pembunuhnya oleh masyarakat Bani Isra'il di masa Nabi Musa as. Mereka ingin mengetahui siapa pembunuhnya untuk menghilangkan kerisauan dan tuduh menuduh di antara mereka. Nah, melalui ayat ini Bani Isra'il diperintahkan agar merenungkan ketika Nabi Musa as. menyampaikan kepada leluhur masyarakat Yahudi yang hidup semasa dengan turunnya ayat-ayat ini bahwa: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi,” apapun sapi itu, jantan atau betina (karena kata Baqarah bukan dalam arti sapi betina tetapi menunjuk jenis sapi). Mereka enggan melaksanakannya dengan berbagai dalih. Mereka tidak percaya walaupun Nabi Misa as. dengan tegas menyatakan bahwa yang memerintah adalah Allah. Mereka bahkan berkata, “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan atau bahan olok-olok? Bagaimana kami tidak berkata demikian. Kami bermohon kepadamu untuk berdoa agar Tuhan menjelaskan siapa pembunuh sebenarnya, lalu engkau menyuruh kami menyembelih seekor sapi.” Demikian lebih kurang tanya mereka yang mengandung keraguan terhadap kekuasan Allah swt. serta kenabian Musa as. Mid sang Nabi mulia itu menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil.” Maksudnya, tiada yang menjadikan orang lain buah ejekan dan bahan olok-olok kecuali orang jahil, apalagi ini berkaitan dengan nyawa manusia dan atas nama Allah pula. Aku sungguh berkata benar. Demikian lebih kurang maksud jawaban Nabi Musi as. Bisa jadi, alasan Allah memilih sapi untuk menjadi alat menjawab pertanyaan mereka adalah dalam rangka menghilangkan bekas-bekas