Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Kelompok IV ayat 74 Surah al-Baqarah (2) itu keadaan batu sedang hati kamu hai Bani Isr2'1l tidaklah seperti itu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” Kata (3 m4) gaswah digunakan untuk menyifati benda maupun hati. Maknanya adalah keberadaan sesuatu dalam satu keadaan yang sama, tidak dapat berubah ke keadaan yang berbeda dari keadaannya yang lalu. Sebenarnya kekerasan hati mereka telah terjadi jauh sebelum ini. Karena itu, kata ( $) Isumma/ kemudian di sini dipahami oleh banyak ulama bukan dalam arti selang waktu yang lama. Tetapi ia di$unakan untuk menunjukkan bahwa kekerasan hati seharusnya telah sirna setelah peristiwa penghidupan kembali si terbunuh melalui penyembelihan sapi itu. “Sungguh sangat jauh bagi seorang yang berakal untuk bersikap keras kepala setelah melihat tanda-tanda kebesaran Allah itu,” demikian tulis asy-Syihab alKhaffaji sebagaimana dikutip oleh al-Jamal. Tetapi orang-orang Yahudi tidak demikian. Hati mereka lebih membatu dan pikiran mereka semakin keras. Ada di antara manusia yang bat, yang menilainya “bahkan lebih keras dari batu.” Demikian ibarat keadaan hati mereka yang menolak kebenaran. Tidak sedikitpun celah di hati mereka yang dapat dijadikan pintu masuknya hidayah, tidak juga ada celah untuk keluarnya rahmat kasih sayang yang dianugerhkan Allah melalui naluri manusia. Berbeda dengan batu yang walau keras dan padat, ada di antaranya yang memiliki celah sehingga air dapat keluar dari celahnya. Bahkan ada yang sedemikian besar celahnya sehingga air yang mengalir di sekelilingnya memancar keluar dengan deras. Bukankah “ada batu yang mengalir sungaisungai darinya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air darinya?” Selanjutnya Allah menjelaskan bahwa, Sungguh ada di antara batu yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Maksudnya, ada batu yang meluncur dan ketinggian jatuh ke bawah. Hal itu berarti bahwa batu itu taat kepada hukum-hukum alam yang ditetapkan Allah baginya. Bukankah batu dan segala sesuatu tidak dapat mengelak dari apa yang dinamai hukum-hukum alam, yang pada hakikatnya adalah hukum-hukum Allah yang ditetapkanNya tehadap alam? Ayat ini menyatakan bahwa ia meluncur karena takut kepada Allah. Apakah batu takut? Bukankah ia benda mati dan tak bernyawa? Maka bagaimana ia dapat takut? Dari satu sisi, dapat dikatakan bahwa dalam pandangan al-Qur'an, segala sesuatu di alam raya ini hidup dengan kehidupan yang sesuai dengan kondisinya. Karena itu tegas al-Qur'an, “Langit yang