Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
: Surah al-Baqarah (2) Kelompok VI ayat 91 Du Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kepada apa yang diturunkan Allah”, mereka berkata: “Kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami,” Dan mereka kafir kepada selainnya sedang dia itu adalah yang haq; membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: “Mengapa kamu dahulu membunuh nabinabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?” Ayat ini menjelaskan lebih jauh kewajaran mereka mendapat “murka, di atas murka”, yakni kedurhakaan mereka bukan hanya yang disebut pada ayat yang lalu, tetapi seperti maksud penekanan pada ayat di atas dengan memulai uraiannya dengan kata “dan” di samping kedurhakaan yang lalu juga ada kedurhakaan mereka yang lain yaitu: Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kepada apa yakni al-Qur'an yang diturunkan Allah melalui Nabi Muhammad saw.”, mereka berkata: “Kami hanya akan tetap beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami yakni apa yang disampaikan oleh Nabi Misa yaitu Taurat.” Dan mereka kafir kepada selainnya yakni kepada al-Our'an dan kitab-kitab yang lain yang diturunkan sesudahnya, sedang dia alQur'an z!u adalah Kitab yang benar-benar mencapai puncak pag, yakni puncak kebenaran dalam segala seginya sebagaimana dipahami dari kata (Jl) d/ pada (31) a-hagg. Kitab al-Yur'an itu membenarkan apa yang ada pada mereka yang pernah disampaikan oleh Nabi Misi as. dan nabi-nabi yang lalu.» Membantah pernyataan mereka di atas, ayat ini memerintahkan Nabi Muhammad saw.: Katakanlah: “Maka jika benar apa yang kamu katakan itu bahwa kamu hanya percaya kepada apa yang diturunkan kepada kamu, mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?” Ajakan ayat di atas kepada orang-orang Yahudi berbunyi: (SJ yie ipai) åminû bimâ angala Allåh/ berimanlah kepada apa yang diturunkan Allah, tidak dikatakan, “berimanlah kepada al-Qur'an yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw.” Ini untuk mengisyaratkan bahwa apa pun dan siapa pun yang membawa ajaran dan bimbingan Allah swt, apakah dia Nabi Muhammad saw. atau orang lain, apakah dia wahyu langsung berupa kitab suci atau bukan wahyu langsung berupa tuntunan Nabi, maka itu semua hendaknya dipercaya. Hal itu juga untuk menghidari penyebutan nama Nabi Muhammad yang mereka benci itu. Jawaban mereka atas ajakan ini sungguh sangat tidak masuk akal. Mereka berkata, “Kami percaya kepada apa yang telah diturunkan kepada kami,