Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Surah al-Baqarah (2) Kelompok VI ayat 102 terhadapnya. Namun demikian perlu dicatat bahwa ini bukan berarti mempercayai semua dongeng dan kebohongan, atau mengikuti setiap mitos. Lebih baik dan lebih selamat bagi akal manusia untuk bersikap terhadap hal-hal yang belum diketahuinya itu dengan sikap yang luwes; tidak menolak secara mutlak tidak juga menerimanya secara mutlak sampai ia mampu setelah meningkatnya cara dan sarana yang dimilikinya untuk mengungkap apa yang hingga kini masih gagal diungkapnya, atau dia mengakui bahwa ada sesuatu yang berada di luar kemampuannya, ia mengakui batas-batas dirinya, serta memperhitungkan adanya sesuatu yang misterius baginya di alam raya ini. Demikian lebih kurang Sayyid Quthub. Itu tentang sihir. Adapun sihir yang dibicarakan al-Qur'an dalam konteks uraian tentang Fir'aun dan Nabi Misa as. maka di sana ditemukan Allah berfirman: “Mereka menyihir/ menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan) (OS. al-A'raf (7J: 116). Dalam ayat lain Allah menyatakan menyangkut tali temali dan tingkat-tongkat yang digunakan oleh para penyihir Fir'aun: “Maka tiba: tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Misd seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka” (OS. Thaha (20): 66). Firman-Nya melalu kata-kata “terbayang” dan “seakan-akan”, menunjukkan bahwa apa yang terjadi kejika itu bukan sebenarnya. Memang keterbayangan itu, mempengaruhi jiwa manusia, dan ini pada gilirannya memberi dampak buruk terhadap yang disihir. Betapapapun terdapat perbedaan pendapat tentang sihir, kita dapat berkata dengan penuh keyakinan bahwa melalui sihir, setan memperdaya manusia, khususnya pada apa yang disebut B/ack Magic, bahkan tidak mustahil setan memperbodoh dan memperdaya manusia dengan apa yang dinamai White Magic. Bukankah setan sangat pandai memperindah sesuatu yang buruk, antara lain dengan memberi nama-nama baik untuk hal-hal yang buruk? Bukankah al-Qur'an mengecam sihir melalui kisah Nabi Misa dan para penyihir Fir'aun? Bukankah Allah berfirman: “Tidak akan beruntung tukang sihir itu, dari mana saja ia datang” (OS. Thaha (20): 69). Sebelum mengakhiri uraian ini boleh jadi tidak ada salahnya mengemukakan pendapat sementara ulama tentang siapa, kedua malaikat yang dinamai Harut dan Mart serta mengapa dan untuk apa ia hadir ke pentas bumi ini? Di atas telah dikemukakan bahwa ada yang memahaminya dalam arti dua orang manusia yang sedemikian taat kepada Allah swt.