Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
kelompok VI ayat 102 Surah al-Baqarah (2) sehingga keduanya dinamai malaikat. Ada lagi yang berpendapat bahwa mereka benar-benar adalah malaikat. Konon, setelah para malaikat melihat ulah manusia di bumi yang mengakibatkan kerusakan dan pertumpahan darah, mereka kembali mengecam “khalifah” itu dan menduga bahwa malaikat lebih wajar menyandang tugas tersebut daripada Adam dan anak cucunya. Inilah “ unekwek” malaikat yang kedua, setelah unek-unek yang pertama mereka ungkapkkan ketika Allah menyampaikan rencana-Nya mencipta Adam sebagai khalifah (QS. al-Baqarah (2): 30). Menanggapi unek-unek pertama, Alah membuktikan kekeliruan mereka melalui ujian lisan dan teoritis: “Dia (Allah) mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mremukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: Beritakanlah kepadaKu nama benda-benda itujika kamu memang orang-orang yang benar (dalam digaanmn)'. Mereka menjawab: Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui wain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah yang Maba Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. al-Baqarah [2]: 31-32). Para malaikat mengaku tak mengetahui, dan dengan demikian terbukti kekeliruan dugaan mereka apalagi setelah Adam diperintah Allah menyampaikan apa yang tidak mereka ketahui itu (untuk lebih jelaslah bacalah kembali QS. al-Baqarah [2]: 33). Untuk membuktikan kekeliruan unek-unek kedua, Allah menguji nereka dalam bentuk praktek. Para malaikat dipersilakan memilih dua malaikat mewakili mereka melaksanakan tugas kekhalifahan ke bumi. Tepiihlah Harat dan Marut. Di bumi keduanya menghadapi banyak godaan -sebagaimana halnya godaan terhadap manusia. Ternyata keduanya trpelincir menghadapi rayuan. Konon oleh rayuan wanita. Itu sekelumit Isahnya ditemukan dengan panjang Jebar dalam berbagai kitab tafsir. Kisah ini dipahami oleh sementara pakar sebagai kisah simbolik. Manusia biasanya menduga dirinya lebih pandai dan lebih benar dari pihak kn yang sedang melaksanakan satu tugas dalam satu arena, misalnya pemerintahan atau lapangan permainan. Bukankah pemain seringkali dinilai aah dan keliru oleh penonton? Bukankah kelompok opposisi seringkali menganggap kebijaksanaan Pemerintah keliru? Tetapi penilaian mereka wdak selalu benar. Persilakanlah penonton bermain, berilah kendali pemerintahan kepada penentang, tidak jarang terbukti bahwa dugaan nereka tentang kemampuannya dan ketidakmampuan pihak lain, ternyata