Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Kelompok VII ayat 108 Surah al-Baqarah (2) atau bertanya hal-hal yang tidak wajar dari nabi mereka. Apakah kamu menghendaki wahai kaum muslimin untuk meminta atau bertanya kepada Rasul kamu, yakni Muhammad saw., seperti dahulu Musa telah dimintai atau ditanyai oleh orang-orang Yahudi? Mereka meminta untuk melihat Allah dengan mata kepala di dunia ini, atau menginginkan tuhan-tuhan yang lain bersama Allah, atau sebagaimana mereka bertanya tentang sapi yang harus mereka sembelih? i Permintaan dan pertanyaan yang dikecam di sini bukanlah semua permintaan atau pertanyaan. Sekian banyak pertanyaan yang dijawab oleh Nabi saw. dan oleh al-Our'an, serta sekian banyak pula permintaan mereka yang dikabulkan. Yang dikecam adalah pertanyaan yang tidak berarti, atau permintaan yang bukan pada tempatnya. Permintaan melihat Tuhan misalnya, bukanlah permintaan yang wajar. Allah adalah obyek iman. Sedang yang diimani adalah sesuatu yang atrak dan tidak terlihat dengan mata kepala, tidak juga terjangkau hakikatnya oleh indra dan nalar. Obyek iman dijangkau oleh mata hat, dan bukan mata kepala. Siapa yang hendak melihat obyek-obyek keimanan dengan mata kepalanya, maka ia tidak menggunakan mata hatinya. Yang tidak menggunakan mata hatinya adalah tidak beriman. Siapa yang tidak percaya adanya Allah kecuali dengan melihat-Nya dengan mata kepala, ia telah menukar iman dengan kekufuran. Dan barang siapa yang menukar iman dengan kekafiran, antara lain dengan berpaling dan menolak ayat-ayat Allah, dan meminta petunjuk selainnya atau dari selain-Nya, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan tengah. Sesat adalah hilangnya arah yang dituju. Dengan demikian, orang yang bertanya atau meminta bukan pada tempatnya, maka ia telah menempuh jalan yang keliru. Ia, ketika itu tidak berada di jalan tengah. Yang tidak berada di tengah, maka :a berada di pinggir. Biasanya yang di pinggir dapat terjerumus ke jurang, atau paling tidak, itu bukan jalan yang disiapkan untuk pejalan, dan bukan jalan yang mudah untuk dilalui. Jangan bertanya tentang bagaimana Allah, atau meminta untuk melihat-Nya. Demikian juga, jangan meminta melihat obyek-obyek keimananan, karena dia tidak dapat dilihat dengan mata kepala. Hal itu bukan karena ketiadaan wujudnya, tetapi karena kelemahan potensi mata manusia. Kelelawar tidak dapat melihat di siang hari, walau matahari bersinar dengan terang, karena kemampuan mata kelelawar tidak dapat menangkap kecuali saat remang.