Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Kelompok VII ayat 118 Surah al-Baqarah (2) Ayat ini adalah lanjutan dari ucapan sesat dan bodoh, yang diucapkan oleh orang-orang kafir. Kalau sebelumnya mereka menduga Allah memiliki anak, di sini mereka — yakni Bani Isra'il dan kaum musyrik Mekah — mempertanyakan sebab mengapa Allah swt. tidak berbicara langsung dengan mereka: Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata, mengapa kami tidak mendengar suara Allah? Mengapa Allah tidak berdialog dan berbicara langsung dengan kami dalam menyampaikan perintah dan tuntunan-Nya? Mengapa harus melalui Nabi Muhammad saw? Atau paling tidak, datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami, yakni mereka menuntut bukti yang bersifat indrawi, yang dapat mereka lihat, raba atau dengar. Itu permintaan mereka untuk dapat percaya. Sebelum menjawab, Allah terlebih dahulu menghibur Nabi-Nya dengan berfirman: Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka (antara lain leluhur Bani Isra'il yang hidup pada masa Nabi Misa as.) ada yang lelah mengucapkan seperti ucapan mereka itu kepada nabi-nabi sebelummu wahai Muhammad. Leluhur orang Yahudi yang mengajukan permintaan di atas, pernah juga meminta kepada Nabi Musa as. agar diperlihatkan Tuhan kepada mereka. Mereka berkata, “Kami tidak akan percaya kalau kami tidak melihat Allah secara terang” (C9S. al-Baqarah (2): 55). Persamaan ucapan dan keinginan itu, menurut lanjutan ayat yang dibahas ini, karena hati mereka serupa dalam kesesatan dan sikap kepala batu. Mengapa Allah tidak memberi bukti-bukti yang bersifat indrawi? Di tempat lain, Allah menjelaskan bahwa, “Sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami yang bersifat indrawi, melainkan karena tanda-tanda itu telah kami paparkan, tetapi didustakan oleh orang-orang dahulu yang sifat mereka sama dengan yang meminta kepadamu sekarang. Sebagai contoh, Kami telah berikan kepada Isamud, unta — yang Kami ciptakan dari batu — yang mengeluarkan susu yang dapat mereka minum sebagai mukjizat indrawi yang sangat jelas. Tetapi mereka lalu menganiaya unta betina itu, dan mereka tetap tidak beriman. Kalau sekarang kami penuhi permintaan mereka, hasilnya akan sama saja, mereka pun tidak akan beriman (baca OS. al-Isra” (17): 59). Ayat 118 ini ditutup dengan menyatakan bahwa “Sesungguhnya Kami lelah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang mau meyakini.” Yakni, sebenarnya aneka bukti rasional telah Allah kemukakan, baik dalam kitab suci yang terbaca, maupun “kitab alam” yang terhampar. Bukti-bukti telah Allah jelaskan dengan bahasa dan cara-Nya, juga dengan bahasa Rasul,