Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Kelompok VII! ayat 128 Surah al-Baqarah (2) Ty yang tinggi sehingga terlihat dari segala penjuru. Itu agaknya makna “meninggikan dasar-dasar Baitullah.” Ayat yang memerintahkan untuk mengingat apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim, yakni meninggikan bangunan Baitullah dengan menggunakan bentuk kata kerja masa kini (mudhdri') yaitu kata (&x) yarfa'u, mengundang setiap orang untuk membayangkan dan menghadirkan dalam benaknya, bagaimana kedua insan pilihan itu membangun Ka'bah, menyusun batu demi batu sampai sempurna bangunan berbentuk kubus.itu. Mereka tidak menerima upah dari siapa pun. Mereka hanya bermohon agar amalnya diterima Allah sebagai pengabdian: Terimalah dari kami amal kami, yakni meninggikan dasar-dasar Ka'bah, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar permohonan kami dan Maha Mengetahui kerja, niat dan tujuan kamu. Ayat di atas memisahkan nama Nabi Ibrahim dari nama Nabi Ismafil. Pemisahan itu adalah penyebutan karya mereka yaitu meninggikan dasardasar Baitullah. Ini menurut Thahir Ibn “Asyir adalah untuk membedakan tingkat upaya Nabi Ibrahim as. dan putranya. Memang putranya ketika itu masih remaja. ATAT 128 Ha, Se edan BG La Pan Ig Gap Pj Se g “Tuhan kami! Jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada-Mu Lan jadikanlah) anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” Selanjutnya Nabi Ibrahim as. meneruskan permohonannya: Tuhan kami, jadikanlah kami berdua, yakni saya dan anak saya, Ismafil, orang yang tetap dan bertambah tunduk patuh kepada-Mu dan jadikanlah juga anak cucu kami, umat yang tunduk patuh kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami caracara dan tempat-tempat ibadah haji kami. Ibadah murni (#abdhah) secara umum dan ibadah haji khususnya, adalah aktivitas pendekatan diri kepada Allah swt., yang ditentukan langsung waktu, kadar, dan caranya oleh Allah swt. dan disampaikan oleh Rasul-Nya. Tidak ada peranan akal dalam hal ibadah itu, kecuali mencari