Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Kelompok XVI ayat 202 Surah al Baggrah (2) AYAT 202 AN DA sa aa KIP adi Aaja MN a a "Mereka itulah orang-orang yang mendapat nashib dari apa yang telah mereka usahakan, dan Allah sangat cepat perbitungan-Nya).” Mereka itulah, yakni yang berdoa sambil berusaha meraih apa yang didoakannya, orang-orang yang mendapat nashtb dari apa yang mereka telah usahakan, baik niat, ucapan, perbuatan: dan Allah sangat cepat perhitunganNya, namun tidak keliru tidak mengurangi kebaikan dan tidak pula melebihkan kesalahan, serta selalu adil dan bijaksana. Kata (mai) ngshib terambil dari kata ( ~a ) nashaba yang pada mulanya berarti menegakkan sesuatu sehingga nyata dan tampak. Nashib atau nasib adalah bagian tertentu yang telah ditegakkan sehingga menjadi nyata dan jelas dan tidak dapat dielakkan. Apa yang mereka peroleh itu adalah berkat apa yang mereka usahakan. Jika Anda memilih pendapat yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “mereka” adalah orang-orang yang telah melaksanakan ibadah haji, maka apa yang telah mereka usahakan adalah amal-amal baik yang mereka kerjakan selama musim haji, yang telah dirinci pada ayat-ayat yang lalu, dimulai dengan menyempurnakan haji, tidak melakukan rafats, fus#g dan ndil, wukuf di Arafah dan banyak berzikir, walau ibadah haji telah rampung. Tentu saja itu semua dilakukan dengan penghayatan makna yang meresap ke dalam kalbu serta tercermin dalam sikap dan tingkah laku. Itulah haji yang mabrur, haji yang doa pelakunya diterima Allah. Makna ayat ini bertemu dengan hadits populer yang menyatakan: Haji yang mabrur tidak ada ganjarannya kecuali surga. Jika Anda memilih pendapat yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “mereka” adalah siapa pun, maka yang dimaksud “apa yang telah mereka usahakan,” adalah usaha-usaha baik yang mereka lakukan dalam rangka meraih apa yang mereka mohonkan itu, yakni memperoleh itu bukan sekadar ketulusan berdoa dengan lidah tetapi juga disertai dengan kesungguhan bekerja serta kesucian akidah. Doa memang harus disertai dengan usaha. Pertolongan Allah baru datang setelah usaha maksimal diupayakan. “Ikatlah terlebih dahulu untamu, baru berserah diri kepada Allah.”