Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Tafsir al Mishbah Jilid 1 - Detail Buku
Halaman Ke : 91
Jumlah yang dimuat : 623
« Sebelumnya Halaman 91 dari 623 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

Kelompok II ayat 6 Surah al-Fatihah (1) dari sekadar permohonan hidayah agama. Yakni mengaitkan permohonan tersebut dengan segala bentuk ragam dan tingkat-tingkat hidayah Allah swt. yang dikemukakan sebelum ini. “Dengan demikian, ayat keenam ini dapat dipahami dalam arti sebagai permohonan agar kiranya Allah swt. menganugerahkan kepada si pemohon — melalui naluri, panca indra, akal dan agama kemampuan untuk menggapai jalan lurus lagi luas itu. Sebingga ash-shirath al-mustagim tidak saja dirasakan di dalam naluri atau dilihat dicium, didengar dan diraba oleh panca indra, tetapi juga dibenarkan oleh akal, serta dari saat kesaat memperoleh bimbingan dan pengetahuan yang bersumber dari Allah swt., kemudian diberi pula kemampuan untuk melaksanakannya.” Demikian uraian penulis di sana. Kalau makna yang bersifat di atas diterapkan pada aneka makna hidayah dalam pandangan Thahir Ibn “Asyir, maka itu berarti bahwa permohonan hidayah ini mencakup hidayah tingkat pertama sampai dengan hidayah keempat. Jika pemohonannya adalah adalah orang-orang mukmin — yang tidak mencapai tingkat kenabian — maka hidayah keempat yang dimaksud adalah hidayah dalam bentuk ilham dan tajalliayah (kecerahan hati yang melahirkan pandangan yang jelas tentang sesuatu) bukan wahyu sebagaimana diperoleh oleh para nabi. Kata (ds ali) ash-shirit terambil dari kata (& mw) saratha, dan karena huruf (— ) sin dalam kata ini bergandengan dengan huruf ()), maka huruf (—) sin terucapkan (-) shid (Hye) shirdt atau ()) gai ( b153) giràt. Asal katanya sendiri bermakna menelan. Jalan yang lebar dinamai sirdth karena sedemikian lebarnya sehingga ia bagaikan menelan si pejalan. Kata shirdih ditemukan dalam al-Our'an sebanyak 45 kali. Kesemuanya dalam bentuk tunggal, 32 kali di antaranya dirangkaikan dengan kata mustagim, selebihnya dirangkaikan dengan berbagai kata seperti as-sawy, sawd” dan alyahim. Selanjutnya bila shirath dinisbahkan kepada sesuatu maka penisbahan nya adalah kepada Allah swt. seperti kata shirdthaka (jalan-Mu) atau shirathf (jalan-Ku) atau shirdth al Aziz al-Hamid (jalan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha terpuji) dan kepada orang-orang mukmin, yang mendapat anugerah nikmat Ilahi seperti dalam ayat alFatihah ini shirdtha allagina an 'amta 'alaihim. Ini berbeda dengan kata sabí yang juga seringkali diterjemahkan dengan jalan. Kata sabi ada yang berbentuk jamak seperti subu/ as-salim jalan-jalan kedamaian), ada pula yang tunggal yang dinisbahkan kepada Allah, seperti sabilillih, atau kepada orang bertakwa, seperti sabi/ al-muttagin. Ada juga yang dinisbahkan kepada setan dan tirani seperti sabil ath-thaghut atau orang-orang berdosa seperti sabi/ al-mujrimin.


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 91 dari 623 Berikutnya » Daftar Isi