Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
en Ps £ Kelompok II ayat 7 Surah al-Fatihah (1) ka 3. Iri hati dan membangkang, akibat anugerah Allah untuk orang lain, 4. Membantah keterangan-keterangan Rasul, 5. Mempersekutukan Allah dan mempersonifikasikannya dalam bentuk sapi, 6. Melakukan pelanggaran-pelanggaran dalam perolehan rezeki seperti suap, 7. Menyalah gunakan kekuasaan dan lain-lain. Pelanggaran-pelanggaran yang juga dikaitkan dengan murka Tuhan tetapi dikemukakan bukan dalam konteks pembicaraan menyangkut orang Yahudi, adalah: 1. Membunuh seorang mukmin dengan sengaja tanpa alasan yang benar, 2. Berprasangka buruk kepada Tuhan serta meragukan kehadiran bantuan-Nya, 3. Lari dari peperangan (perjuangan) membela kebenaran, 4. Murtad atau memilih kekufuran sebagai ganti keimanan, atau menentang ajaran agama yang haq, 5. Perzinaan yang dilakukan seorang wanita yang sedang terikat perkawinan tanpa bertobat. Dalam ayat ketujuh surah al-Fatihah ini tidak dijelaskan siapa yang dimurkai Tuhan itu, namun dari penelusuran seperti yang dilakukan di atas, kita dapat menemukan bahwa siapapun yang melakukan pelanggaran semacam itu pasti dimurkai Tuhan. Di sisi lain, perlu ditegaskan bahwa walaupun telah ditemukan macam-macam pelanggaran yang mengakibatkan “phadhab (murka) Tuhan, tetapi itu bukan berarti bahwa hanya pelanggaran yang disebutkan itulah yang dapat mengakibatkan dosa atau siksa Tuhan, karena masih banyak pelanggaran lain yang tidak dikaitkan secara tegas dengan kata ghadah. Masih banyak siksa dan kegagalan hidup yang dialami seseorang yang bukan sebagai akibat pelanggaran-pelanggaran yang disebut di atas. Kembali kepada redaksi ayat ghair al-maghdhab ‘alaihim (bukan orangorang yang dimurkai). Kalau di atas telah dijelaskan siapa yang mendapat murka, kini kita dapat bertanya siapa yang murka? Agaknya cukup jelas bahwa yang murka adalah Allah swt. Jika demikian, mengapa ayat ini tidak menyebut-Nya secara langsung? Melalui redaksi ayat ketujuh ini, Allah swt. mengajarkan manusia agar tidak menisbahkan sesuatu yang berkesan negatif terhadap Allah swt. Ketika berbicara tentang nikmat secara tegas dinyatakan bahwa sumbernya adalah Allah swt. Perhatikanlah Firman-Nya: (bs Gani ai Sie) shirath alladgina an'amta 'alaihim