Allah memberikan sebuah perumpamaan yang mana Dia menjelaskan di dalamnya kerusakan akidah para penganut kesyirikan: seorang lelaki budak belian yang lemah dari bertindak yang ia tidak memiliki sesuatu pun, serta seorang lelaki lainnya yang merdeka, ia memiliki harta halal yang Allah rezekikan ia dengannya, ia memiliki wewenang bertindak padanya, dan ia memberikan darinya di kerahasiaan maupun terang-terangan, maka apakah seorang yang berakal akan berkata dengan adanya penyetaraan di antara dua lelaki tersebut? Maka demikian pula Allah Sang Pencipta, Pemilik, lagi Dzat yang berwenang bertindak tidaklah sama dengan makhluk-Nya serta hamba-hamba-Nya, lantas bagaimana mungkin kalian menyetarakan di antara keduanya? Segala puji bagi Allah semata, karena Dialah yang berhak mendapatkan sanjungan serta pujian, bahkan kebanyakan orang-orang musyrik tidak mengetahui bahwasanya sanjungan serta nikmat adalah milik Allah, dan bahwasanya Dia semata yang berhak mendapatkan ibadah.