Dan tidaklah sepatutnya bagi seorang manusia dari kalangan anak cucu Adam bahwasanya Allah mengajaknya bicara melainkan melalui wahyu yang Allah wahyukan kepadanya, ataukah Dia mengajaknya bicara dari balik hijab, sebagaimana Dia Subhanahu mengajak bicara Musa 'alaihissalam, ataukah Dia mengirimkan seorang utusan laksana turunnya Jibril 'alaihissalam kepada orang yang diutus kepadanya, lalu ia mewahyukan dengan izin Tuhannya bukan semata karena hawa nafsunya akan apa yang Allah kehendaki pewahyuannya, sesungguhnya Dia Ta'ala Maha Tinggi dengan zat-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, serta perbuatan-perbuatan-Nya, sungguh Dia telah memaksa segala sesuatu dan tunduklah bagi-Nya seluruh makhluk, lagi Maha Bijaksana di dalam pengaturan urusan-urusan makhluk-Nya. Dan di dalam ayat ini terdapat penetapan sifat berbicara bagi Allah Ta'ala di atas wajah yang layak bagi keagungan-Nya dan agungnya otoritas-Nya.