Maka tatkala mereka melihat kebun mereka dalam keadaan terbakar niscaya mereka mengingkarinya, dan mereka berkata: Sungguh kita benar-benar telah salah jalan menuju kepadanya, namun tatkala mereka mengetahui bahwasanya ia benar-benar kebun mereka, mereka berkata: Bahkan sebenarnya kita adalah orang-orang yang terhalang dari kebaikannya; dikarenakan sebab tekad kita di atas kekikiran dan penghalangan orang-orang miskin. Berkata orang yang paling adil di antara mereka: Bukankah aku telah berkata kepada kalian mengapa kalian tidak mengecualikan dan kalian mengucapkan: 'Insya Allah'? Mereka berkata setelah mereka kembali menuju ketepatan mereka: Maha Suci Allah Tuhan kami dari kezaliman pada apa yang menimpa kita, bahkan kitalah orang-orang yang telah menzalimi diri kita sendiri dengan peninggalan pengecualian serta maksud kita yang buruk. Lalu menghadaplah sebagian mereka kepada sebagian lainnya, seraya masing-masing dari mereka mencela yang lainnya atas peninggalan mereka terhadap pengecualian dan atas maksud mereka yang buruk, mereka berkata: Wahai kecelakaan kami sesungguhnya kami dahulu adalah orang-orang yang melampaui batas di dalam penghalangan kami terhadap orang-orang fakir serta penyelisihan terhadap perintah Allah, mudah-mudahan Tuhan kami akan memberikan bagi kita yang lebih baik daripada kebun kita; dikarenakan sebab tobat kita dan pengakuan kita dengan kesalahan kita. Sesungguhnya kita hanya kepada Tuhan kita semata adalah orang-orang yang berharap, lagi orang-orang yang mengharapkan pemaafan, serta para pencari kebaikan. Dengan semisal hukuman tersebut yang mana Kami telah menghukum dengannya para pemilik kebun niscaya akan menjadi hukuman Kami di dunia bagi setiap orang yang menyalahi perintah Allah, dan kikir dengan apa yang Allah berikan kepadanya berupa nikmat sehingga ia tidak menunaikan hak Allah di dalamnya, padahal benar-benar azab akhirat adalah lebih agung dan lebih keras daripada azab dunia, seandainya mereka mengetahuinya niscaya mereka tercegah dari setiap sebab yang mewajibkan hukuman.