ذكر كثير من عُلَمَاء التَّفْسِير والتاريخ أَن أول من بني لَهُ الْحمام سُلَيْمَان بن دَاوُد عَلَيْهِ السَّلَام، وَكَانَ سَبَب ذَلِك قدوم بلقيس عَلَيْهِ، لما رأى فِي سَاقهَا شعرًا كثيرا، فَسَأَلَ الجان عَن مَا يُزِيلهُ، فصنعوا لَهُ النورة، وصنعوا لَهُ الْحمام وَالله أعلم. وَقيل: إِن سُلَيْمَان عَلَيْهِمَا السَّلَام لما دخله فَوجدَ حره فَقَالَ: أوه من عَذَاب الله أوه قبل أَن لَا ينفع أوه.
ثمَّ لَا تزَال الْأَعَاجِم من ذَلِك الزَّمَان يعتادونه، وَكَذَلِكَ الرّوم والقبط، وَغَيرهم من الْأُمَم.
وَأما الْعَرَب بِبِلَاد الْحجاز وَنَحْوهَا، فَلم يَكُونُوا يَحْتَاجُونَ إِلَيْهَا، وَلم يعرف ببلادهم إِلَّا بعد موت النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم فِي زمن الصَّحَابَة.
والْحَدِيث الَّذِي يرْوى أَن النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم دخل حمام الْجحْفَة، مَوْضُوع بِاتِّفَاق أهل الْمعرفَة بِالْحَدِيثِ، وَلَيْسَ بِصَحِيح.
وَإِنَّمَا روى الإِمَام الْحَافِظ أَبُو بكر بن أبي شيبَة فِي كِتَابه الَّذِي صنفه: عَن إِسْمَاعِيل بن علية عَن أَيُّوب عَن عِكْرِمَة: أَن ابْن عَبَّاس رَضِي الله عَنْهُمَا، دخل حمام الْجحْفَة، وَهَذَا إِسْنَاد صَحِيح.
Data Terjemah Kitab ini ada di Database Terjemah Kitab. Data ini adalah data yang belum divalidasi ke database utama. Semua editing dan penyimpanan mengarah ke Database Terjemah Kitab
Banyak ulama tafsir dan sejarah menyebutkan bahwa orang pertama yang membangun pemandian adalah Sulaiman bin Daud 'alaihis salam. Hal ini terjadi karena kedatangan Ratu Bilqis menghadapnya. Ketika melihat banyak bulu di kaki Bilqis, Sulaiman bertanya kepada jin tentang cara menghilangkannya. Jin kemudian membuatkan krim penghilang bulu (nura) dan pemandian untuknya. Wallahu a'lam.
Diceritakan bahwa ketika Sulaiman 'alaihimas salam memasuki pemandian dan merasakan panasnya, ia berkata, "Oh, siksaan Allah, oh, sebelum terlambat, oh."
Sejak saat itu, bangsa-bangsa non-Arab, seperti Romawi, Koptik, dan lainnya, terbiasa menggunakan pemandian.
Adapun orang Arab di Hijaz dan sekitarnya, mereka tidak membutuhkan pemandian dan tidak dikenal di wilayah mereka sampai setelah Nabi Muhammad wafat shallallahu alaihi wa sallam, yaitu pada masa sahabat.
Hadits yang diriwayatkan tentang Nabi shallallahu alaihi wa sallam memasuki pemandian di Juhfah adalah palsu menurut kesepakatan para ahli hadits dan tidak sahih.
Imam dan hafidz Abu Bakar bin Abi Syaibah meriwayatkan dalam kitabnya, dari Ismail bin Ulaiyah, dari Ayyub, dari Ikrimah, bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma memasuki pemandian di Juhfah. Sanad ini sahih.