{"id":2149,"date":"2010-01-01T12:15:23","date_gmt":"2010-01-01T12:15:23","guid":{"rendered":"https:\/\/rezaervani.com\/palestina\/?p=2149"},"modified":"2025-10-24T12:20:54","modified_gmt":"2025-10-24T12:20:54","slug":"siapa-yang-menikam-siapa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/rezaervani.com\/palestina\/2010\/01\/01\/siapa-yang-menikam-siapa\/","title":{"rendered":"Siapa yang Menikam Siapa?"},"content":{"rendered":"<h2 style=\"text-align: center;\"><strong>Siapa yang Menikam Siapa?<\/strong><\/h2>\n<h3 style=\"text-align: center;\">Muhammad al-Mubarak (Ahli Hukum Internasional)<\/h3>\n<p style=\"text-align: center;\">Artikel Siapa yang Menikam Siapa? diarsipkan di <a href=\"https:\/\/rezaervani.com\/palestina\/category\/analisa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kategori Analisa<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pernyataan yang disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Liga Arab, Amr Moussa, pada Sabtu, 26 Desember 2009, bahwa \u201cperpecahan Palestina merupakan tikaman terbesar terhadap perjuangan Palestina,\u201d sesungguhnya mencerminkan pepatah Arab kuno: <em>\u201cDiam berabad-abad, lalu bicara dengan kebodohan.\u201d<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebab, sementara sang diplomat kawakan itu tidak mengucapkan sepatah pun tentang pihak mana yang \u201cmenikam\u201d pihak lainnya dan menyebabkan perpecahan itu \u2014 meskipun hal itu jelas tidak tersembunyi darinya \u2014 jutaan orang di dunia Arab menunggu satu kata kebenaran darinya, sebagai pemimpin organisasi regional tertinggi yang mewakili bangsa Arab, mengenai tembok baja yang sedang dibangun negaranya terhadap rakyat Gaza yang terkepung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, justru di saat genting seperti ini, pria yang dipercaya untuk memperjuangkan kepentingan bangsa Arab tampil dengan pernyataan politik yang keliru dan berpihak, berdiri di sisi pihak yang kalah \u2014 sebagaimana organisasi yang ia pimpin pernah lakukan sebelumnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Siapa tahu, mungkin pernyataan Sekretaris Jenderal Liga Arab itu \u2014 meskipun bermasalah \u2014 dimaksudkan dengan \u201ckebijaksanaannya\u201d untuk mengakhiri apa yang ia anggap sebagai satu-satunya hambatan bagi terwujudnya perdamaian menyeluruh dan abadi di kawasan, yaitu perpecahan internal Palestina.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena setelah Liga Arab berhasil \u201cmembebaskan\u201d tanah-tanah Arab yang diduduki Israel, dan setelah sikapnya yang \u201ctegas\u201d menentang agresi Amerika terhadap Irak, serta keberhasilannya \u201cmencegah\u201d intervensi asing di Somalia dan Sudan, kini tidak tersisa bagi Sekretaris Jenderal yang \u201cpenuh kasih\u201d itu selain menyelesaikan perpecahan Palestina agar bisa tidur nyenyak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, bila benar beliau begitu peduli untuk mengakhiri perpecahan Palestina, mungkin ada baiknya terlebih dahulu mengetahui siapa yang sebenarnya menyebabkan perpecahan itu. Karena faktanya, Liga Arab sendiri pernah membentuk sebuah komite beranggotakan lima orang di bawah kepemimpinannya untuk menyelidiki peristiwa yang terjadi di Gaza, melalui keputusan para Menteri Luar Negeri Arab dalam pertemuan darurat pada 15 Juni 2007 \u2014 dengan tujuan mengetahui \u201csiapa yang menikam siapa.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Akan tetapi, anehnya, hingga kini Sekretaris Jenderal belum pernah mengungkap hasil penyelidikan tersebut, yang seharusnya disampaikan \u201cdalam waktu satu bulan\u201d sejak tanggal keputusan itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tak ada yang tahu apakah dana Liga Arab habis untuk menyelesaikan penyelidikan itu \u2014 setelah sebelumnya mengumumkan pengeluaran sebesar 50 juta dolar demi melindungi penyu Laut Merah dari kepunahan \u2014 atau mungkin \u201ckebijaksanaan\u201d sang Sekretaris Jenderal menuntut agar hasil penyelidikan itu disembunyikan di laci kantornya yang berlapis gading, setelah ia mengetahui siapa penikam dan siapa yang tertikam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beranjak dari pertanyaan \u201csiapa yang menikam siapa,\u201d Amr Moussa menimbulkan pula keraguan akan kredibilitasnya ketika terus-menerus memuji posisi Presiden Palestina Mahmoud Abbas (yang masa jabatannya telah berakhir) terkait penentangannya terhadap pembangunan permukiman Yahudi dan upaya Yahudisasi Yerusalem.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya ingin sekali mempercayai klaim sang Sekretaris Jenderal bahwa Abbas \u201cbersikeras menghentikan Yahudisasi Yerusalem,\u201d andai saja Menteri Urusan Yerusalem di pemerintahan Abbas \u2014 yang tentunya jauh lebih dekat kepadanya daripada Moussa \u2014 tidak mengundurkan diri beberapa bulan lalu sebagai bentuk protes atas ketidakseriusan Abbas dan otoritas Palestina dalam menghadapi kebijakan Yahudisasi tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya juga ingin mempercayai pernyataan Moussa bahwa Otoritas Palestina sungguh-sungguh berupaya mengakhiri perpecahan internal, andai saja Jenderal Amerika Keith Dayton, yang bertanggung jawab atas urusan keamanan di wilayah Palestina, tidak pernah menyatakan secara terbuka bahwa otoritas Palestina bekerja sama dengannya untuk menggagalkan Perjanjian Mekkah dan menumpas Hamas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang lebih mengkhawatirkan lagi dari pernyataan Amr Moussa adalah komentarnya bahwa keberatan-keberatan Hamas terhadap dokumen rekonsiliasi Mesir \u201ctidak lebih dari sekadar detail sepele.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Terlepas dari nada meremehkan terhadap sebuah gerakan yang mewakili sebagian besar rakyat Palestina, menganggap remeh hal-hal rinci dalam sebuah perjanjian hukum menunjukkan ketidakpahaman yang serius terhadap prinsip hukum itu sendiri. Sebab, sikap semacam inilah \u2014 entah karena niat baik atau buruk \u2014 yang sering kali menyeret bangsa ini ke dalam jebakan hukum internasional yang berbahaya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sekretaris Jenderal Liga Arab seharusnya paham bahwa dalam sebuah perjanjian hukum, tidak ada yang disebut \u201cdetail sepele.\u201d Bila ia ragu, mungkin ia perlu meninjau kembali kesalahan fatal yang pernah dilakukan pendahulunya, Anwar Sadat, ketika ia mengabaikan rincian yang dianggapnya \u201ctak penting,\u201d sementara pihak Israel kala itu menolak mengalah walau hanya sejengkal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dan jika perjanjian Camp David sudah terlupakan dari ingatan sang \u201csesepuh berusia tujuh puluhan\u201d itu, cukuplah ia menengok Perjanjian Oslo, yang masih menjerat Otoritas Palestina hingga kini, untuk memahami kesalahan yang dilakukan Yasser Arafat dan para politikus bersamanya ketika mengabaikan rincian yang mereka anggap \u201csepele.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kenyataannya, pernyataan yang dilontarkan oleh \u201cahli hukum internasional\u201d sekaligus \u201cpenjaga amanah\u201d bangsa Arab itu tidak lain hanyalah <em>\u201ckata batil yang dimaksudkan untuk kebatilan\u201d<\/em> \u2014 dan hal semacam ini tidaklah aneh dalam sejarah pejabat besar Arab tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Orang yang pernah menyatakan secara resmi \u201cproses perdamaian telah mati\u201d pada 15 Juli 2006, lalu kemudian \u201cmenghidupkannya kembali,\u201d tentu tidak akan merasa bersalah untuk mengatakan satu hal dan kebalikannya sekaligus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dan diplomat veteran yang pernah menolak diwawancarai oleh seorang penyiar berhijab dengan ucapan \u201ctidak ada salam dan tidak ada bicara,\u201d hanya karena sang jurnalis menolak menjabat tangannya, seharusnya tetap diam dalam kasus ini juga \u2014 terlebih karena pernyataannya kali ini pun muncul \u201ctanpa salam dan tanpa bicara\u201d dari pihak Palestina.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sekretaris Jenderal yang kini tampak kebingungan dan tidak tahu bagaimana bersikap ketika melihat seorang presiden dari negara Islam besar keluar dari Forum Davos sebagai bentuk protes karena tidak diberi kesempatan berbicara setara dengan presiden Israel, mungkin memang sebaiknya tetap dalam kebingungannya mengenai perpecahan Palestina \u2014 dan tak mengapa bila ia tidak memahami apa yang sedang terjadi di sekelilingnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Akhirnya, mungkin memang lebih baik bagi Sekretaris Jenderal \u201cLiga Para Penyu\u201d itu untuk tetap sibuk dengan urusan penyu, tikus, reptil, dan serangga sebagaimana yang tengah disibukkan oleh organisasinya, agar ia tenang dan membiarkan urusan umatnya yang jauh lebih besar berjalan tanpa gangguannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/www.aljazeera.net\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sumber : al Jazeera<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Siapa yang Menikam Siapa? Muhammad al-Mubarak (Ahli Hukum Internasional) Artikel Siapa yang Menikam Siapa? diarsipkan di Kategori Analisa<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2150,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[16],"tags":[213],"class_list":["post-2149","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-analisa","tag-sikap-liga-arab-terhadap-palestina"],"featured_image_urls":{"full":["https:\/\/rezaervani.com\/palestina\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/liga_arab.jpg",1280,720,false],"thumbnail":["https:\/\/rezaervani.com\/palestina\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/liga_arab-150x150.jpg",150,150,true],"medium":["https:\/\/rezaervani.com\/palestina\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/liga_arab-300x169.jpg",300,169,true],"medium_large":["https:\/\/rezaervani.com\/palestina\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/liga_arab-768x432.jpg",640,360,true],"large":["https:\/\/rezaervani.com\/palestina\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/liga_arab-1024x576.jpg",640,360,true],"1536x1536":["https:\/\/rezaervani.com\/palestina\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/liga_arab.jpg",1280,720,false],"2048x2048":["https:\/\/rezaervani.com\/palestina\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/liga_arab.jpg",1280,720,false],"morenews-featured":["https:\/\/rezaervani.com\/palestina\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/liga_arab-1024x576.jpg",1024,576,true],"morenews-large":["https:\/\/rezaervani.com\/palestina\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/liga_arab-825x575.jpg",825,575,true],"morenews-medium":["https:\/\/rezaervani.com\/palestina\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/liga_arab-590x410.jpg",590,410,true]},"author_info":{"display_name":"Talaqqi Online","author_link":"https:\/\/rezaervani.com\/palestina\/author\/rezaerva\/"},"category_info":"<a href=\"https:\/\/rezaervani.com\/palestina\/category\/analisa\/\" rel=\"category tag\">Analisa<\/a>","tag_info":"Analisa","comment_count":"0","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/rezaervani.com\/palestina\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2149","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/rezaervani.com\/palestina\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/rezaervani.com\/palestina\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rezaervani.com\/palestina\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rezaervani.com\/palestina\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2149"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/rezaervani.com\/palestina\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2149\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2152,"href":"https:\/\/rezaervani.com\/palestina\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2149\/revisions\/2152"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rezaervani.com\/palestina\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2150"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/rezaervani.com\/palestina\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2149"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/rezaervani.com\/palestina\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2149"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/rezaervani.com\/palestina\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2149"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}