يجب القضاء والإطعام عن كل ما أفطره المرء بعد البلوغ
Wajib Qadha dan Memberi Makan Untuk Puasa yang Ditinggalkan Setelah Baligh
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Wajib Qadha dan Memberi Makan Untuk Puasa yang Ditinggalkan Setelah Baligh ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
شخص عمره 36 عاماً ملتزم بالفروض والنوافل ولكنه لم يبدأ بالصيام إلا عندما كان عمره 20 عاماً .هل يصوم السنوات التي لم يصمها؟
Seseorang berusia 36 tahun, ia menjaga kewajiban-kewajiban dan amalan sunnah, tetapi ia baru mulai berpuasa ketika usianya 20 tahun. Apakah ia harus mengqadha puasa pada tahun-tahun yang tidak ia kerjakan?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: فيجب عليك قضاء كل شهر أفطرته بعد بلوغك سن الاحتلام، كما يجب عليك أن تطعم ثلاثين مسكيناً مع قضاء كل شهر. أما وجوب القضاء فلأنه مازال باقياً في ذمتك، وأما وجوب الإطعام فهو كفارة عن تأخير القضاء عن وقته المحدد له من الشارع وهو الأحد عشر شهراً التي تكون بين رمضان ورمضان.
Segala puji bagi Allah, selawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du: Maka engkau wajib mengqadha setiap bulan (Ramadan) yang engkau tinggalkan setelah engkau mencapai usia baligh (mimpi basah). Begitu juga engkau wajib memberi makan tiga puluh orang miskin bersamaan dengan mengqadha setiap bulan tersebut. Adapun kewajiban qadha adalah karena puasa tersebut masih menjadi tanggunganmu (hutang), sedangkan kewajiban memberi makan adalah sebagai kafarat atas penundaan qadha dari waktu yang telah ditentukan oleh syariat, yaitu sebelas bulan di antara dua Ramadan.
وهنالك نقطة يجب التنبيه لها وهي أن أي يوم أصبحت فيه عاقداً النية على الصوم، ثم أفسدت فيه صيامك بجماع في نهار رمضان تجب عليك فيه كفارة منتهك الحرمة، وهي عتق رقبة فإن لم تجد فصيام شهرين متتابعين فإن عجزت فإطعام ستين مسكيناً، كما ثبت ذلك فيما رواه البخاري من حديث أبي هريرة رضي الله عنه. فإذا كان فطرك بغير جماع، فقد اختلف أهل العلم: فمنهم من ألزمك بهذه الكفارة ومنهم من لم يلزمك بها.
Ada poin yang perlu diperhatikan, yaitu jika pada suatu hari engkau sudah berniat puasa, kemudian engkau merusak puasamu dengan melakukan hubungan intim di siang hari Ramadan, maka engkau wajib membayar kafarat karena telah melanggar kehormatan (bulan Ramadan). Kafaratnya adalah memerdekakan budak, jika tidak mampu maka berpuasa dua bulan berturut-turut, dan jika tidak mampu maka memberi makan enam puluh orang miskin, sebagaimana yang telah tetap dalam hadis riwayat Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Adapun jika pembatalan puasamu bukan karena hubungan intim, para ulama berbeda pendapat: ada yang mewajibkan kafarat ini kepadamu dan ada yang tidak mewajibkannya.
وعلى كل فعليك أن تكثر من التوبة والأعمال الصالحة فقد ارتكبت أمراً عظيماً بتعطيلك ركناً من أركان الإسلام هذه الفترة الطويلة ، فقد قال صلى الله عليه وسلم في الحديث المتفق عليه وهذا لفظ مسلم:
Bagaimanapun, hendaknya engkau memperbanyak taubat dan amal saleh, karena engkau telah melakukan perkara besar dengan mengabaikan salah satu rukun Islam dalam jangka waktu yang lama ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadis yang disepakati kesahihannya (Muttafaq ‘alaih) dan ini adalah redaksi Muslim:
“بني الإسلام على خمس، أن يعبد الله ويكفر بما دونه وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة، وحج البيت وصوم رمضان”
“Islam dibangun di atas lima perkara: hendaknya Allah disembah dan diingkari tuhan selain-Nya, mendirikan salat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, dan puasa Ramadan.”
ولا يخفى عليك ماذا يعني الركن بالنسبة للبناء. والعلم عند الله تعالى .
Tentu tidak tersembunyi bagimu apa arti sebuah rukun bagi suatu bangunan. Dan ilmu (kebenaran) ada di sisi Allah Ta’ala.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply