Celak Tidak Berpengaruh terhadap Puasa



لا تأثير للكحل على الصوم

Celak Tidak Berpengaruh terhadap Puasa

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Celak Tidak Berpengaruh terhadap Puasa ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

١- هل الاكتحال يبطل الصيام بمعنى إذا وضعت المرأة الكحل في نهار الصيام هل يبطل صيامها سواء كان ذلك في الفرض أو التطوع؟ ٢- لا يجوز للمرأة أن تصوم تطوعاً إلا بإذن زوجها فهل إذا سمح الرجل لزوجته بالصيام تطوعاً يكون له أجر؟ جزاكم الله عنا خير الجزاء.

1- Apakah memakai celak membatalkan puasa? Dalam artian, jika seorang wanita memakai celak di siang hari saat berpuasa, apakah puasanya batal, baik itu puasa fardu maupun puasa sunnah? 2- Tidak diperbolehkan bagi wanita untuk berpuasa sunnah kecuali dengan izin suaminya; maka jika seorang suami mengizinkan istrinya untuk berpuasa sunnah, apakah ia mendapatkan pahala? Semoga Allah membalas kalian dengan balasan yang terbaik.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: فإن مجرد الاكتحال الذي لم يصحبه وجود طعم أو لون للكحل في حلق الصائم لا يبطل الصوم، فرضاً كان أو نفلاً، وهذا محل اتفاق.

Segala puji bagi Allah, selawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du: Sesungguhnya semata-mata memakai celak yang tidak disertai dengan masuknya rasa atau warna celak ke kerongkongan orang yang berpuasa tidaklah membatalkan puasa, baik itu puasa fardu maupun puasa sunnah, dan ini adalah hal yang disepakati.

أما إذا وصل طعم أو لون الكحل إلى الحلق، فإن من العلماء من يقول ببطلان الصوم لذلك، لكن الصحيح أنه لا يبطل الصوم، ولا يؤثر عليه، لأنه ليس بأكل ولا شرب، ولا في معناهما، وهذا هو اختيار شيخ الإسلام ابن تيمية وطائفة من المحققين، والله أعلم بالصواب.

Adapun jika rasa atau warna celak tersebut sampai ke kerongkongan, maka sebagian ulama berpendapat bahwa puasa menjadi batal karenanya. Namun yang benar adalah hal itu tidak membatalkan puasa dan tidak berpengaruh padanya, karena ia bukan termasuk makan ataupun minum, dan tidak pula semakna dengan keduanya. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan sekelompok ulama peneliti. Wallahu a’lam bish shawab.

٢/ فمن المعروف أن المرأة لا يحق لها أن تتطوع بصوم وزوجها حاضر إلا بإذنه، لقوله صلى الله عليه وسلم:

2/ Telah diketahui bahwa seorang wanita tidak berhak melakukan puasa sunnah saat suaminya ada di rumah kecuali dengan izinnya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“لا يحل للمرأة أن تصوم وزوجها شاهد إلا بإذنه” متفق عليه، واللفظ للبخاري.

“Tidak halal bagi seorang wanita untuk berpuasa sedangkan suaminya berada di rumah kecuali dengan izinnya.” (Muttafaq ‘alaih, dan redaksi ini milik Bukhari).

قال الحافظ قوله: إلا بإذنه يعني في غير صيام أيام رمضان، وكذا في غير رمضان من الواجب إذا تضيق الوقت. ا.هـ. وعند الدرامي عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

Al-Hafizh berkata mengenai sabda beliau “kecuali dengan izinnya”: yakni pada selain puasa hari-hari Ramadan, begitu juga pada puasa wajib selain Ramadan jika waktunya sudah sempit. Dan dalam riwayat Ad-Darimi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“لا تصوم المرأة يوماً تطوعاً في غير رمضان وزوجها شاهد إلا بإذنه”.

“Janganlah seorang wanita berpuasa sunnah sehari pun di luar Ramadan sedangkan suaminya berada di rumah kecuali dengan izinnya.”

وعند الطبراني عن ابن عباس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

Dan dalam riwayat At-Tabarani dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“من حق الزوج على زوجته أن لا تصوم تطوعاً إلا بإذنه، فإن فعلت لم يقبل منها”.

“Termasuk hak suami atas istrinya adalah hendaknya sang istri tidak berpuasa sunnah kecuali dengan izinnya, jika ia melakukannya maka (puasa itu) tidak diterima darinya.”

وإنما منع صوم المرأة تطوعاً بغير إذن زوجها الحاضر لتأكد حقه عليها وأولويته على تطوعها بالصيام، فإذا ما تنازل عن حقه وسمح لها بالقيام بهذه الطاعة العظيمة بنية إعانتها عليها كان ممتثلاً، لقول الله تعالى:

Larangan bagi wanita untuk berpuasa sunnah tanpa izin suaminya yang sedang di rumah hanyalah karena kuatnya hak suami atas dirinya dan prioritas hak suami dibandingkan ibadah sunnah puasanya. Maka apabila suami merelakan haknya dan mengizinkannya untuk melakukan ketaatan yang agung ini dengan niat membantunya dalam beribadah, maka sang suami telah mengamalkan firman Allah Ta’ala:

(وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى) [المائدة: ٢]

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” [Al-Maidah: 2]

فيكون له أجر امتثال أمر الله تعالى، وأجر الإعانة على الخير. والله أعلم.

Maka sang suami mendapatkan pahala karena mengamalkan perintah Allah Ta’ala dan pahala karena membantu dalam kebaikan. Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.