العادة السرية…حكمها..أضرارها النفسية والبدنية
Masturbasi: Hukum, Dampak Psikologis, dan Fisiknya
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Masturbasi: Hukum, Dampak Psikologis, dan Fisiknya ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
هل العادية السرية حرام
Apakah masturbasi (al-adah as-sirriyah) itu haram?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: فإن النبي صلى الله عليه وسلم لم يرشد الشباب إلى الاستمناء (العادة السرية ) ولو كان خيراً لأرشد إليه، وإنما أرشد إلى الزواج أو الصوم فقال:
Segala puji bagi Allah, selawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du: Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengarahkan para pemuda untuk melakukan istimna (masturbasi), dan seandainya hal itu baik, niscaya beliau akan mengarahkannya. Beliau justru mengarahkan untuk menikah atau berpuasa, sebagaimana sabda beliau:
“يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج، فإنه أغض للبصر وأحصن للفرج، ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء”
“Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian yang telah mampu untuk menikah, maka menikahlah, karena sesungguhnya pernikahan itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa, karena puasa itu baginya adalah tameng (penjaga dari zina).” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).
ولقد قرر الأطباء أن ممارسة العادة السرية تؤدي إلى أضرار بدنية، ونفسية، فهي تستنفد قوى البدن، وتسبب الاكتئاب، وتشغل فاعلها عن الواجبات، وقد تقوده إلى ارتكاب الفواحش، فكثير من الرجال يصاب بالضعف الجنسي بسبب هذه العادة ويظهر ذلك جلياً عند الزواج ..إلخ. بل إن الكثير ممن اعتادوا ذلك لم يفلحوا في الزواج، فوقع الطلاق…
Para dokter telah menetapkan bahwa praktik masturbasi menyebabkan dampak buruk secara fisik dan psikologis. Hal itu menghabiskan kekuatan tubuh, menyebabkan depresi, menyibukkan pelakunya dari kewajiban-kewajiban, dan dapat menyeretnya ke dalam perbuatan keji. Banyak pria yang mengalami lemah syahwat karena kebiasaan ini, dan hal itu terlihat nyata saat sudah menikah. Bahkan banyak dari mereka yang terbiasa melakukannya tidak berhasil dalam pernikahan sehingga terjadi perceraian.
ومنهم من استمر في هذه الممارسة بعد الزواج وبعد إنجاب الأطفال ولا يزال يبحث عن طريق الخلاص، أما الفتاة فقد تزول (بكارتها) بفعلها كما يقول الأطباء، وإذا كانت تمارس العادة السرية بصورة مستمرة ومتكررة ولمدة طويلة، وتعيش في خيالاتها خاصة، فإن قدرتها على الاستمتاع بعد الزواج يمكن أن تتأثر فلا تشعر بما تشعر به الفتيات اللاتي لا يمارسن تلك العادة ولا يرين متعة فيها، وهذا ما يعرف بالإدمان، وهو من أخطر الأمور. قال الشيخ مصطفى الزرقا رحمه الله: “وما كان مضراً طبياً فهو محظور شرعاً، وهذا محل اتفاق بين الفقهاء” انتهى.
Di antara mereka ada yang terus melanjutkan praktik ini meski sudah menikah dan memiliki anak, serta masih terus mencari jalan keluar. Adapun bagi wanita, tindakan tersebut dapat menghilangkan selaput daranya sebagaimana dikatakan para dokter. Jika ia melakukannya secara terus-menerus dalam waktu lama, terutama dengan hidup dalam imajinasi, maka kemampuannya untuk menikmati hubungan setelah menikah dapat terpengaruh; ia tidak akan merasakan apa yang dirasakan gadis-gadis yang tidak melakukan kebiasaan tersebut. Inilah yang dikenal sebagai kecanduan, dan itu termasuk perkara yang sangat berbahaya. Syaikh Mustafa az-Zarqa rahimahullah berkata: “Apa pun yang secara medis berbahaya, maka secara syariat dilarang, dan ini adalah hal yang disepakati di antara para fukaha.”
وما أحسن ما أفتى به الشيخ حسنين مخلوف مفتي الديار المصرية الأسبق حيث قال: “ومن هنا يظهر أن جمهور الأئمة يرون تحريم الاستمناء باليد، ويؤيدهم في ذلك ما فيه من ضرر بالغ بالأعصاب والقوى والعقول، وذلك يوجب التحريم، ومما يساعد على التخلص منها أمور، على رأسها:
Dan alangkah baiknya fatwa dari Syaikh Hasanain Makhlouf, mantan Mufti Mesir, yang menyatakan: “Dari sini jelaslah bahwa mayoritas imam berpendapat haramnya istimna dengan tangan. Hal ini didukung oleh adanya dampak buruk yang fatal bagi saraf, kekuatan fisik, dan akal, yang mana hal itu mewajibkan pengharaman. Di antara hal-hal yang membantu melepaskan diri darinya adalah:
١- المبادرة بالزواج عند الإمكان ولو كان بصورة مبسطة لا إسراف فيها ولا تعقيد .
1- Bersegera menikah jika sudah memungkinkan, meskipun dalam bentuk yang sederhana tanpa berlebih-lebihan atau kerumitan.
٢- وكذلك الاعتدال في الأكل والشرب حتى لا تثور الشهوة، والرسول صلى الله عليه وسلم في هذا المقام أوصى بالصيام في الحديث الصحيح.
2- Serta moderasi (tidak berlebihan) dalam makan dan minum agar syahwat tidak bergejolak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini telah mewasiatkan untuk berpuasa dalam hadis yang sahih.
٣- ومنها البعد عن كل ما يهيج الشهوة كالاستماع إلى الأغاني الماجنة والنظر إلى الصور الخليعة، مما يوجد بكثرة في الأفلام بالذات.
3- Menjauh dari segala hal yang merangsang syahwat seperti mendengarkan lagu-lagu yang tidak senonoh dan melihat gambar-gambar porno, yang banyak ditemukan terutama dalam film-film.
٤- توجيه الإحساس بالجمال إلى المجالات المباحة كالرسم للزهور والمناظر الطبيعة غير المثيرة.
4- Mengalihkan apresiasi terhadap keindahan ke bidang-bidang yang mubah, seperti melukis bunga atau pemandangan alam yang tidak merangsang.
٥- ومنها تخير الأصدقاء المستقيمين والانشغال بالعبادة عامة، وعدم الاستسلام للأفكار.
5- Memilih teman-teman yang saleh/lurus dan menyibukkan diri dengan ibadah secara umum, serta tidak menyerah pada pikiran-pikiran (negatif).
٦- الاندماج في المجتمع بالأعمال التي تشغله عن التفكير في الجنس.
6- Berbaur dalam masyarakat dengan aktivitas-aktivitas yang menyibukkannya dari memikirkan seks.
٧- عدم الرفاهية بالملابس الناعمة، والروائح الخاصة التي تفنن فيها من يهمهم إرضاء الغرائز وإثارتها.
7- Tidak berlebihan dalam kemewahan seperti pakaian yang terlalu lembut atau wewangian khusus yang diciptakan oleh mereka yang mementingkan pemuasan dan perangsangan naluri.
٨- عدم النوم في فراش وثير يذكر باللقاء الجنسي.
8- Tidak tidur di atas kasur yang terlalu empuk yang dapat mengingatkan pada aktivitas seksual.
٩- البعد عن الاجتماعات المختلطة التي تظهر فيها المفاتن، ولا تراعى الحدود.
9- Menjauh dari pertemuan-pertemuan campur baur (ikhtilath) yang menonjolkan kecantikan/daya tarik dan tidak mengindahkan batasan-batasan syariat.
وبهذا وأمثاله تعتدل الناحية الجنسية ولا تلجأ إلى هذه العادة التي تضر الجسم والعقل، وتغري بالسوء”. انتهى . انظر مجلة الأزهر المجلد الثالث، صفحة 91 عدد شهر محرم 1391هـ
Dengan cara-cara ini dan yang semisalnya, sisi seksual akan menjadi stabil dan tidak akan lari kepada kebiasaan yang merusak tubuh dan akal serta membujuk pada keburukan.” (Selesai kutipan dari Majalah Al-Azhar Jilid Ketiga, hal. 91, edisi Muharram 1391 H).
وبناء على ما تقدم فإننا ننصح بعدم الالتفات إلى الأقوال الضعيفة أو المرجوحة التي قد يفهم منها إباحة (العادة السرية ) خاصة وأن الجمهور يقول بتحريمها، فالمالكية والشافعية يقولون بتحريمها كما في أضواء البيان (5/525) عند تفسير آية (5_7) من سورة المؤمنون ) لـ محمد الأمين الشنقيطي، وأما الأحناف فيقول العلامة الزرقا في بيان مذهبهم:
Berdasarkan penjelasan di atas, kami menasihatkan agar tidak menoleh kepada pendapat-pendapat yang lemah atau kurang kuat yang mungkin dipahami sebagai pembolehan masturbasi, terlebih lagi mayoritas ulama (jumhur) mengharamkannya. Madzhab Maliki dan Syafi’i mengharamkannya sebagaimana disebutkan dalam Adhwa al-Bayan (5/525) saat menafsirkan ayat 5-7 dari surat al-Mu’minun oleh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi. Adapun madzhab Hanafi, Al-Allamah az-Zarqa menjelaskan pendapat mereka:
قالوا: “إنها من المحظورات في الأصل، لكنها تباح بشروط ثلاثة: أن لا يكون الرجل متزوجاً، وأن يخشى الوقوع في الزنا -حقيقة- إن لم يفعلها، وألا يكون قصده تحصيل اللذة بل ينوي كسر شدة الشبق الواقع فيه.”
Mereka berkata: “Sesungguhnya hal itu pada asalnya termasuk perkara yang dilarang, namun diperbolehkan dengan tiga syarat: pelakunya tidak sedang menikah, ia benar-benar khawatir terjerumus ke dalam zina jika tidak melakukannya, dan tujuannya bukan untuk mendapatkan kelezatan, melainkan berniat untuk meredam syahwat yang sangat memuncak pada dirinya.”
والحاصل أن القواعد العامة في الشريعة تقضي بحظر هذه العادة لأنها ليست الوسيلة الطبيعة لقضاء الشهوة، بل هي انحراف، وهذا يكفي للحظر والكراهة، وإن لم يدخل في حدود الحرام القطعي كالزنا، ولكن تحكم هنا قاعدة الاضطرار أيضاً من قواعد الشريعة، فإذا خشي الوقوع في محظور أعظم كالزنى أو الاضطرابات النفسية المضرة، فإنها تباح في حدود دفع ذلك على أساس أن الضرورات تقدر بقدرها”. إلخ انتهى.
Kesimpulannya, kaidah-kaidah umum dalam syariat menetapkan larangan terhadap kebiasaan ini karena ia bukan sarana alami untuk menyalurkan syahwat, melainkan sebuah penyimpangan. Ini sudah cukup sebagai alasan pelarangan dan kemakruhan, meskipun tidak masuk dalam kategori haram mutlak seperti zina. Namun, di sini juga berlaku kaidah darurat; jika seseorang khawatir terjerumus ke dalam larangan yang lebih besar seperti zina atau gangguan psikologis yang berbahaya, maka diperbolehkan dalam batas untuk menolak bahaya tersebut berdasarkan kaidah bahwa darurat itu diukur sesuai kadarnya.
وبناء على ما تقدم من مذهب الحنفية فإنهم لم يبيحوا هذه العادة وإنما إذا اضطر إليها وخشي الوقوع في الزنا فإنه يرتكب أخف الضررين. ثم إن الفاعل إذا كان يقصد بفعله تحصيل اللذة فلا شك أنه يفعل الحرام، وربما كان أكثر من يفعلون العادة السيئة يفعلونها من أجل تحصيل اللذة أو التسلية فهم غير مضطرين إليها…..
Berdasarkan penjelasan madzhab Hanafi tadi, mereka tidak membolehkan kebiasaan ini secara mutlak; melainkan jika seseorang terpaksa dan takut terjerumus zina, maka ia mengambil risiko yang paling ringan (akhaffu dhararain). Kemudian, jika pelakunya bermaksud untuk mencari kelezatan, maka tidak diragukan lagi ia melakukan keharaman. Dan kemungkinan besar kebanyakan orang yang melakukan kebiasaan buruk ini melakukannya demi kelezatan atau hiburan, sehingga mereka tidak dalam kondisi darurat.
أما مذهب الحنابلة فقد نصوا على أن الاستمناء محرم، وأن صاحبه يستحق التعزير، وأنه لا يباح إلا عند الضرورة، وقد سبق بيان حد الضرورة.
Adapun madzhab Hambali, mereka menegaskan bahwa istimna adalah haram dan pelakunya berhak mendapatkan takzir (hukuman), serta tidak diperbolehkan kecuali dalam keadaan darurat, dan batasan darurat telah dijelaskan sebelumnya.
بقي أن نقول: إن هذه العادة السيئة تعطي شعوراً خداعاً، وتوقع صاحبها في الأوهام والخيالات، فعليك بمقاومة النفس والتغلب على إغوائها، وننصحك بالتوبة إلى الله بصدق، والالتجاء إليه أن يخلصك من هذه العادة المرذولة، وعليك بالإكثار من تلاوة القرآن والصوم وغيرها من العبادات، مع الالتزام بكل النصائح التسع التي سبق ذكرها. والله أعلم.
Terakhir, perlu kami sampaikan: bahwa kebiasaan buruk ini memberikan perasaan semu dan menjatuhkan pelakunya ke dalam ilusi serta khayalan. Maka, wajib bagimu untuk melawan nafsu dan mengalahkan godaannya. Kami menasihatkanmu untuk bertaubat kepada Allah dengan sungguh-sungguh, serta bersandar kepada-Nya agar Dia membebaskanmu dari kebiasaan rendah ini. Perbanyaklah membaca Al-Qur’an, berpuasa, dan ibadah lainnya, sembari mematuhi sembilan nasihat yang telah disebutkan sebelumnya. Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply