Tujuh Orang yang Dinaungi Allah dalam Naungan-Nya (3)



السبعة الذين يظلهم الله في ظله

Tujuh Orang yang Dinaungi Allah dalam Naungan-Nya (Bagian 3)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Tujuh Orang yang Dinaungi Allah dalam Naungan-Nya masuk dalam Kategori Hadits

والرابع: رجلان تحابَّا في الله اجتمعا عليه وتفرَّقا عليه، لأن أوثق عرى الإيمان الحب في الله والبغض في الله.

Yang keempat: Dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, karena ikatan iman yang paling kuat adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.

قال تعالى:

Allah Ta’ala berfirman:

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ ﴾ [المائدة: 54].

 “Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang berlaku lemah lembut terhadap orang yang beriman, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui” [Al-Ma’idah: 54].

وفي الحديث عن أبي أمامة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

Dan dalam hadits dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ

Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan karena Allah, maka sungguh ia telah menyempurnakan iman 1

وعن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال :

Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai, maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian kerjakan kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian 2

وهذه إحدى الخصال التي يجد بها العبد حلاوة الإيمان ولذته، فهذان الرجلان لم تجمعهما قرابة ولا رحم ولا مصالح دنيوية، وإنما جمع بينهما حب الله تعالى، حتى فرق بينهما الموت وهما على ذلك.

Dan ini adalah salah satu sifat yang dengannya seorang hamba merasakan manisnya iman dan kenikmatannya, maka kedua laki-laki ini tidak disatukan oleh kekerabatan atau hubungan keluarga atau kepentingan duniawi, tetapi yang menyatukan mereka adalah kecintaan kepada Allah Ta’ala, hingga kematian memisahkan mereka dan mereka tetap dalam keadaan seperti itu.

فعن أبي مالك الأشعري رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال :

Dari Abu Malik Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِنَّ لِلَّهِ عِبَادًا لَيْسُوا بِأَنْبِيَاءَ وَلا شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمُ النَّبِيُّونَ وَالشُّهَدَاءُ بِقُرْبِهمْ ومَقْعَدِهِمْ مِنَ اللَّهِ

Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang bukan nabi dan bukan syuhada, yang para nabi dan syuhada iri kepada mereka karena kedekatan mereka dan tempat duduk mereka dari Allah

فجثى رجل من الأعراب من قاصية الناس وألوى بيده إلى نبي الله صلى الله عليه وسلم فقال :

maka seorang laki-laki Badui dari tepi orang banyak berlutut dan mengangkat tangannya kepada Nabi Allah صلى الله عليه وسلم lalu berkata:

“يا نبي الله، ناس من الناس ليسوا بأنبياء ولا شهداء، يغبطهم الأنبياءُ والشهداءُ على مجالسهم وقربهم من الله؟! انْعَتْهُمْ لنا – يعني صفهم لنا –

“Wahai Nabi Allah, orang-orang dari manusia yang bukan nabi dan bukan syuhada, yang para nabi dan syuhada iri kepada mereka atas majelis mereka dan kedekatan mereka dari Allah?! Sifatkanlah mereka kepada kami – maksudnya gambarkan mereka kepada kami

فسُرَّ وجه رسول الله صلى الله عليه وسلم لسؤال الأعرابي فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم :

maka wajah Rasulullah صلى الله عليه وسلم berseri karena pertanyaan si Badui tersebut, lalu Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

هُمْ نَاسٌ مِنْ أَفْنَاءِ النَّاسِ وَنَوَازِعِ القَبَائِلِ، لَمْ تَصِلْ بَيْنَهُمْ أَرْحَامٌ مُتَقَارِبَةٌ، تَحَابُّوا فِي اللهِ وَتَصَافَوْا، يَضَعُ اللهُ لَهُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ، فَيُجْلِسُهُمْ عَلَيْهَا، فَيَجْعَلُ وُجُوهَهَمْ نُورًا، وَثِيَابَهُمْ نُورًا، يَفْزَعُ النَّاسُ يَوْمَ القِيَامَةِ وَلاَ يَفْزَعُونَ؛ وَهُمْ أَوْلِيَاءُ اللهِ الَّذِينَ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

Mereka adalah orang-orang dari berbagai golongan manusia dan pendatang dari suku-suku, tidak ada hubungan kekerabatan yang dekat yang menghubungkan mereka, mereka saling mencintai karena Allah dan saling bersih hati, Allah meletakkan bagi mereka pada hari kiamat mimbar-mimbar dari cahaya, lalu mendudukkan mereka di atasnya, menjadikan wajah mereka cahaya, dan pakaian mereka cahaya, manusia ketakutan pada hari kiamat sedangkan mereka tidak ketakutan; dan mereka adalah wali-wali Allah yang tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati 3

والخامس: رجل دعته امرأة إلى نفسها، وليست كأي امرأة، بل هي امرأة لها مكانة ومنزلة رفيعة، وقد أعطاها الله من الجمال ما يجعل الفتنة بها أَشَدَّ، والتعلق بها أعظم فيا الله! كيف ينجو مَن وقع في مثل ذلك الموقف إلا بإيمان عميق وبصيرة نافذة؟!

Yang kelima: Seorang laki-laki yang diajak oleh seorang wanita kepada dirinya, dan bukan wanita biasa, bahkan ia adalah wanita yang memiliki kedudukan dan tempat yang tinggi, dan Allah telah memberinya dari kecantikan yang menjadikan fitnah dengannya lebih keras, dan keterikatan dengannya lebih besar, ya Allah! Bagaimana bisa selamat orang yang jatuh dalam keadaan seperti itu kecuali dengan iman yang mendalam dan pandangan yang tajam?!

قال القاضي عياض: “وخص ذات المنصب والجمال لكثرة الرغبة فيها، وعسر حصولها، وهي جامعة للمنصب والجمال، لا سيما وهي داعيةٌ إلى نفسها طالبة لذلك، قد أغنت عن مشاقّ التوصّل إلى مراودة ونحوها، فالصبر عنها لخوف الله تعالى، وقد دعت إلى نفسها مع جمعها المنصب والجمال من أكمل المراتب، وأعظم الطاعات، فرتب الله تعالى عليه أن يظله في ظله. وذات المنصب هي ذات الحسب والنسب الشريف”

Qadhi ‘Iyadh berkata : “Dan ia mengkhususkan yang memiliki kedudukan dan kecantikan karena banyaknya keinginan kepadanya, dan sulitnya mendapatkannya, dan ia menggabungkan kedudukan dan kecantikan, terlebih lagi ia yang mengajak kepada dirinya sendiri meminta hal itu, telah membebaskan dari kesusahan dalam cara merayu dan semacamnya, maka bersabar darinya karena takut kepada Allah Ta’ala, dan ia telah mengajak kepada dirinya sendiri dengan menggabungkan kedudukan dan kecantikan adalah termasuk kesempurnaan derajat yang paling tinggi, dan ketaatan yang paling agung, maka Allah Ta’ala menetapkan baginya bahwa Dia akan menaunginya dalam naungan-Nya. Dan yang dimaksud yang memiliki kedudukan adalah yang memiliki kehormatan dan nasab yang mulia” 4

Bersambung ke Bagian Berikutnya in sya Allah

Sumber : Alukah

Catatan Kaki

  1. Sunan Abu Dawud (4/220) nomor (4681), dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam “Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir” (2/1034) nomor (5965).
  2. Shahih Muslim (1/74) nomor (54).
  3. Musnad Al-Imam Ahmad (5/343) dan “Syarhus Sunnah” karya Al-Baghawi (13/50-51) nomor (3464), dan kedua pentahqiqnya Syu’aib dan Zuhair berkata: Dan dikeluarkan oleh Ahmad (5/341, dan 343) dan Syahr bin Hausyab diperselisihkan tentangnya dan ia memiliki syahid yang serupa dari hadits Ibnu Umar, dikeluarkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (4/170-171) dan menshahihkannya dan disetujui oleh Adz-Dzahabi, dan yang lain dari hadits Abu Hurairah pada Ibnu Hibban dalam Shahihnya (2508) dan sanadnya shahih.
  4. Shahih Muslim dengan Syarh An-Nawawi (3/122).


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.