يجب القضاء على من صام أقل من تسعة وعشرين يوما
Wajib Qadha bagi Siapa yang Berpuasa Kurang dari Dua Puluh Sembilan Hari
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Yang Berpuasa Kurang dari 29 Hari Wajib Qadha ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته سمعنا أنه يجب علينا قضاء يوم في رمضان، هل هذا صحيح؟
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kami mendengar bahwa kami wajib mengqadha sehari di bulan Ramadan, apakah ini benar?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: فإذا كنتم قد صمتم في بلدكم رمضان في بلاد تتفقون أنتم وأهلها في مطلع واحد وكان ما صمتم بناء على رؤيتكم أو رؤية غيركم من المسلمين تسعة وعشرين يوما أو ثلاثين يوما، فلا يجب عليكم قضاء شيء من رمضان، فقد قال صلى الله عليه وسلم:
Segala puji bagi Allah, selawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du: Jika kalian telah berpuasa Ramadan di negeri kalian, di negeri-negeri yang kalian dan penduduknya bersepakat dalam satu tempat terbit hilal (mathla’), dan puasa kalian tersebut didasarkan pada rukyah kalian atau rukyah kaum Muslimin lainnya selama dua puluh sembilan atau tiga puluh hari, maka kalian tidak wajib mengqadha apa pun dari Ramadan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
“الصوم يوم تصومون والفطر يوم تفطرون والأضحى يوم تضحون.” رواه الترمذي وصححه الألباني
“Puasa adalah hari di mana kalian berpuasa, berbuka (Idul Fitri) adalah hari di mana kalian berbuka, dan Idul Adha adalah hari di mana kalian berkurban.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).
قال الترمذي: وفسر بعض أهل العلم الحديث فقال: إنما معنى هذا أن الصوم والفطر مع الجماعة وعظم الناس. وقال الخطابي في معنى الحديث: إن الخطأ مرفوع عن الناس فيما كان سبيله الاجتهاد، فلو أن قوما اجتهدوا فلم يروا الهلال إلا بعد ثلاثين فلم يفطروا حتى استوفوا العدد، ثم ثبت عندهم أن الشهر كان تسعا وعشرين، فإن صومهم وفطرهم ماضٍ لا شيء عليهم من وزر أو عيب، وكذلك هذا في الحج إذا أخطأوا يوم عرفة، فإنه ليس عليهم إعادته.
At-Tirmidzi berkata: Sebagian ahli ilmu menafsirkan hadis ini dengan berkata: “Sesungguhnya makna hal ini adalah bahwa puasa dan berbuka itu dilakukan bersama jamaah dan mayoritas orang.” Al-Khattabi berkata mengenai makna hadis tersebut: “Sesungguhnya kesalahan diangkat (dimaafkan) dari manusia dalam hal-hal yang jalannya adalah ijtihad. Maka seandainya suatu kaum telah berijtihad lalu mereka tidak melihat hilal kecuali setelah tiga puluh hari sehingga mereka tidak berbuka sampai menyempurnakan bilangan tersebut, kemudian terbukti bagi mereka bahwa bulan tersebut (sebenarnya) berjumlah dua puluh sembilan hari, maka puasa dan berbuka mereka tetap berlaku dan tidak ada dosa maupun celaan atas mereka. Demikian pula halnya dalam haji jika mereka keliru dalam menentukan hari Arafah, maka mereka tidak wajib mengulanginya.”
وإذا كنتم قد صمتم أقل من تسعة وعشرين يوما، فيجب عليكم قضاء ما يكمل به رمضان تسعة وعشرين يوما، لأن الشهر لا ينقص عن تسعة وعشرين يوما كما هو معلوم. وراجع للأهمية الفتوى الأخرى هنا
Dan jika kalian berpuasa kurang dari dua puluh sembilan hari, maka kalian wajib mengqadha untuk menyempurnakan Ramadan menjadi dua puluh sembilan hari, karena bulan (qamariyah) tidak kurang dari dua puluh sembilan hari sebagaimana telah diketahui. Untuk hal-hal penting lainnya, silakan merujuk pada fatwa lain disini :
- Dasar dalam Berpuasa atau Berbuka Adalah Rukyah Hilal, Bukan Mengikuti Negara Tertentu
- Perbedaan Tempat Terbit Hilal (Mathla’) Memiliki Pertimbangan Syariat
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply