ضوابط العذر بالجهل من عدمه
Batasan-batasan Memberikan Uzur Karena Ketidaktahuan dan Tidak Memberikannya
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Batasan-batasan Memberikan Uzur Karena Ketidaktahuan dan Tidak Memberikannya ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
كثر الخلاف في مسألة العذر بالجهل وهل هي خلافية أم لا؟ حيث هناك قسم يقول إنها خلافية والخلاف فيها خلاف فقهي وقسم يقول إنها ليست خلافية بل قول أهل السنة والجماعة أنه لا يوجد عذر بالجهل والمخالف فيها متلبس ببدعة؟ نرجو منكم ذكر الأدله من الطرفين كما آمل منكم أن تخبروني عن فضيلة الشيخ الذي سيجيب على السؤال. وبارك الله فيكم وأدام علمكم وفضلكم.
Banyak perselisihan mengenai masalah pemberian uzur karena ketidaktahuan (al-‘udhr bi al-jahl), apakah masalah ini termasuk masalah khilafiyah atau bukan? Ada kelompok yang mengatakan bahwa ini adalah masalah khilafiyah dan perselisihannya adalah khilaf fikh; sementara kelompok lain mengatakan bahwa ini bukan masalah khilafiyah, melainkan pendapat Ahlussunnah wal Jama’ah adalah tidak ada uzur karena ketidaktahuan, dan barangsiapa yang menyelisihinya maka ia telah terjerumus ke dalam bid’ah. Kami mohon Anda menyebutkan dalil-dalil dari kedua belah pihak, dan saya berharap Anda memberitahu saya tentang Syekh yang menjawab pertanyaan ini. Semoga Allah memberkati Anda dan melestarikan ilmu serta keutamaan Anda.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:
فالعذر بالجهل يختلف باختلاف المسائل واختلاف الأشخاص، فهناك مسائل لا يعذر فيها بالجهل إلا لمن هو حديث عهد بالإسلام، أو نشأ ببادية بعيدة.
Pemberian uzur karena ketidaktahuan berbeda-beda berdasarkan perbedaan masalah dan perbedaan orangnya. Ada masalah-masalah yang tidak diberikan uzur karena ketidaktahuan di dalamnya, kecuali bagi orang yang baru masuk Islam atau orang yang tumbuh besar di pedalaman yang jauh.
وهذه المسائل منها ما هي مسائل علمية كالإيمان بالقدر ونحوه، ومنها ما هي مسائل عملية كوجوب الصلاة والزكاة أو تحريم الظلم والكذب ونحو ذلك. فمن نشأ في أوساط المسلمين لا يعذر بالجهل في هذه المسائل، وأما إذا نشأ في بادية بعيدة أو كان حديث عهد بالإسلام فإنه يعذر بجهله فيها.
Masalah-masalah ini ada yang berupa masalah ilmiah (akidah) seperti iman kepada takdir dan semisalnya, dan ada pula yang berupa masalah amaliah seperti wajibnya salat dan zakat, atau haramnya kezaliman, kebohongan, dan semisalnya. Barangsiapa yang tumbuh besar di tengah-tengah kaum Muslimin tidak diberikan uzur karena ketidaktahuan dalam masalah-masalah ini. Adapun jika ia tumbuh di pedalaman yang jauh atau baru saja masuk Islam, maka ia diberikan uzur karena ketidaktahuannya.
قال شيخ الإسلام ابن تيمية:
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
“والتكفير هو من الوعيد، فإنه وإن كان القول تكذيباً لما قاله الرسول صلى الله عليه وسلم، لكن قد يكون الرجل حديث عهد بإسلام أو نشأ ببادية بعيدة، ومثل هذا لا يكفر بجحده وما يجحده حتى تقوم عليه الحجة.”
“Pengafiran (takfir) termasuk dalam ancaman (al-wa’id). Sesungguhnya meskipun suatu perkataan merupakan pendustaan terhadap apa yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun bisa jadi orang tersebut baru masuk Islam atau tumbuh di pedalaman yang jauh. Orang seperti ini tidak dikafirkan karena pengingkarannya sampai ditegakkan hujah atasnya.”
وقد يكون الرجل لا يسمع تلك النصوص أو سمعها، ولم تثبت عنده أو عارضها عنده معارض آخر وجب تأويلها، وإن كان مخطئاً. وكنت دائماً أذكر الحديث الذي في الصحيحين في الرجل الذي قال:
Bisa jadi seseorang tidak mendengar nash-nash tersebut, atau telah mendengarnya namun tidak tsabit (kuat) menurutnya, atau ada pertentangan baginya yang mengharuskan takwil meskipun ia keliru. Saya selalu menyebutkan hadis dalam Shahihain tentang seorang pria yang berkata:
“إذا أنا مت فأحرقوني ثم اسحقوني ثم ذروني في اليم، فوالله لئن قدر الله علي ليعذبني عذاباً ما عذبه أحداً من العالمين” ففعلوا به ذلك،
“Jika aku mati, bakarlah aku, kemudian tumbuklah aku hingga halus, lalu tebarkanlah aku di laut. Demi Allah, jika Allah mampu membangkitkanku niscaya Dia akan mengazabku dengan azab yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorang pun di alam semesta.” Lalu keluarganya melakukannya.
فقال الله له: “ما حملك على ما فعلت؟” قال: “خشيتك”، فغفر له. فهذا رجل شك في قدرة الله وفي إعادته إذا ذري، بل اعتقد أنه لا يعاد،
Allah bertanya kepadanya: “Apa yang membuatmu melakukan itu?” Ia menjawab: “Karena rasa takutku kepada-Mu.” Maka Allah mengampuninya. Ini adalah orang yang ragu akan kekuasaan Allah dan kemampuan-Nya mengembalikan dirinya jika telah ditebarkan, bahkan ia meyakini tidak akan dikembalikan.
وهذا كفر باتفاق المسلمين، لكن كان جاهلاً لا يعلم ذلك، وكان مؤمناً يخاف الله أن يعاقبه، فغفر له بذلك.
Perbuatan ini adalah kekufuran menurut kesepakatan kaum Muslimin, namun ia melakukannya karena bodoh (jahil) dan tidak mengetahui hal itu, sementara ia adalah seorang mukmin yang takut Allah akan menghukumnya, maka Allah mengampuninya karena hal tersebut.
وقال شيخ الإسلام أيضاً:
Syaikhul Islam juga berkata:
“وأما الفرائض الأربع، فإذا جحد وجوب شيء منها بعد بلوغ الحجة فهو كافر، وكذلك من جحد تحريم شيء من المحرمات الظاهرة المتواتر تحريمها كالفواحش والظلم والكذب والخمر ونحو ذلك.
“Adapun empat kewajiban (rukun Islam selain syahadat), jika seseorang mengingkari kewajibannya setelah sampai hujah padanya maka ia kafir. Demikian pula orang yang mengingkari keharaman sesuatu yang keharamannya sudah jelas dan mutawatir, seperti perbuatan keji (fawahish), kezaliman, kebohongan, khamar, dan semisalnya.
وأما من لم تقم عليه الحجة مثل أن يكون: حديث عهد بإسلام، أو نشأ ببادية بعيدة لم تبلغه فيها شرائع الإسلام ونحو ذلك… فإنهم يستتابون وتقام الحجة عليهم، فإن أصروا كفروا حينئذ، ولا يحكم بكفرهم قبل ذلك.”
Adapun orang yang belum ditegakkan hujah atasnya seperti orang yang baru masuk Islam atau tumbuh di pedalaman yang jauh di mana syariat Islam belum sampai padanya… maka mereka diminta bertaubat dan ditegakkan hujah atas mereka. Jika mereka tetap bersikeras, barulah saat itu mereka dikafirkan, dan tidak dihukumi kafir sebelum hal tersebut dilakukan.”
وقال السيوطي:
As-Suyuthi berkata:
“كل من جهل تحريم شيء مما يشترك فيه غالب الناس لم يقبل منه دعوى الجهل، إلا أن يكون قريب عهد بالإسلام أو نشأ ببادية بعيدة يخفى فيها مثل ذلك، كتحريم الزنى والقتل والسرقة والخمر والكلام في الصلاة والأكل في الصوم.” ا.هـ.
“Setiap orang yang tidak mengetahui keharaman sesuatu yang diketahui oleh orang banyak pada umumnya, maka klaim ketidaktahuan darinya tidak diterima, kecuali jika ia baru saja masuk Islam atau tumbuh di pedalaman yang jauh di mana hal-hal tersebut tersembunyi baginya, seperti keharaman zina, membunuh, mencuri, khamar, berbicara dalam salat, dan makan saat berpuasa.” (Selesai).
فهذه إشارة موجزة فيها ضابط للمسائل التي لا يعذر فيها بالجهل، وفيها بيان لمن هو الذي يعذر فيها بالجهل.
Ini adalah isyarat singkat yang di dalamnya terdapat batasan untuk masalah-masalah yang tidak diberikan uzur karena ketidaktahuan, serta penjelasan mengenai siapa saja yang diberikan uzur karena ketidaktahuan di dalamnya.
وهذا هو الحق الذي نعتقده في هذه المسألة. ونعتذر للأخ السائل عن ذكر اختلاف العلماء وأقوالهم في هذه المسألة، لأن ذلك ربما استغرق مجلداً كاملاً. نسأل الله تعالى أن يجمع شمل الأمة على الحق. والله أعلم.
Inilah kebenaran yang kami yakini dalam masalah ini. Kami memohon maaf kepada penanya karena tidak menyebutkan perbedaan pendapat ulama dan perkataan-perkataan mereka dalam masalah ini, karena hal tersebut mungkin akan menghabiskan satu jilid buku penuh. Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar menyatukan umat di atas kebenaran. Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply