الوصول إلى التقوى هو هدف الصوم الأسمى
Mencapai Takwa adalah Tujuan Utama Puasa
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Mencapai Takwa adalah Tujuan Utama Puasa ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
هل يجوز أن يذكر أحد الدعاة المشهورين على أحد الفضائيات أنه اتخذ شعاراً لرمضان هذا العام هو (أنا مش شايف غيرك يارب في الكون)؟
Apakah boleh salah seorang pendakwah terkenal menyebutkan di sebuah saluran satelit bahwa ia mengambil slogan untuk Ramadhan tahun ini, yaitu: (Aku tidak melihat siapapun selain-Mu, ya Rabb, di semesta ini)?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:
فإننا لا نعرف ماذا يُقصد من هذا الشعار، ولكننا نقول: إن الواجب على كل مسلم السعي الحثيث لتحقيق الغاية من مشروعية الصوم، وهو تحصيل التقوى، قال تعالى:
Sesungguhnya kami tidak mengetahui apa yang dimaksud dari slogan tersebut, namun kami katakan: Sesungguhnya wajib bagi setiap Muslim untuk berusaha sungguh-sungguh guna mewujudkan tujuan dari disyariatkannya puasa, yaitu meraih takwa. Allah Ta’ala berfirman:
“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ” {البقرة: ١٨٣}.
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” {Al-Baqarah: 183}.
فالوصول إلى التقوى هو الغاية العظمى والهدف الأسمى، ولابد من تحقيق هذه الغاية بالوسائل المشروعة من الالتزام بآداب الصوم، وتجنب كل ما يعرضه للفساد، والإكثار من العمل الصالح، فإن كان هذا الشعار يرتبط به العمل والتطبيق فحسن.
Maka mencapai takwa adalah tujuan yang agung dan sasaran yang utama, dan tujuan ini harus diwujudkan dengan sarana-sarana yang disyariatkan, mulai dari komitmen terhadap adab-adab puasa, menghindari segala hal yang dapat merusak puasa, serta memperbanyak amal saleh. Jika slogan ini berkaitan dengan amal dan penerapan, maka itu baik.
أما إن كان فارغاً عن العمل، فينبغي تركه، لأنه بذلك يصرف النفس عن حقيقة العمل، وعمقه إلى التمسك بعناوين مجردة. والله أعلم.
Adapun jika ia kosong dari pengamalan, maka hendaknya ditinggalkan, karena hal tersebut dapat memalingkan jiwa dari hakikat amal dan kedalamannya menuju pegangan pada slogan-slogan hampa semata. Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply