Doa Setelah Shalat: Bentuk yang Dibolehkan dan yang Dilarang



الدعاء بعد الصلاة…. الصورة الجائزة… والصورة الممنوعة

Doa Setelah Shalat: Bentuk yang Dibolehkan dan yang Dilarang

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Doa Setelah Shalat: Bentuk yang Dibolehkan dan yang Dilarang ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

السلام عليكم سؤالي هو – هل الدعاء بعد الصلاة بشكل جماعي أو فردي بدعة أم لا ؟

Assalamu’alaikum. Pertanyaan saya adalah – apakah berdoa setelah shalat secara berjamaah atau sendiri-sendiri termasuk bid’ah atau tidak?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:

فقد قال النبي صلى الله عليه وسلم لمعاذ بن جبل: 

Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz bin Jabal :

“لا تنس أن تقول دبر كل صلاة: اللهم أعني على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك” رواه أحمد وأبو داود والنسائي.

“Janganlah engkau lupa untuk mengucapkan di setiap akhir (dubur) shalat: Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik (Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu).” Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawood, dan An-Nasa’i.

واختلف أهل العلم في المقصود بدبر الصلاة في هذا الحديث وأمثاله من أحاديث الدعاء، فقال بعضهم: المقصود به الدعاء بعد الانتهاء والسلام من الصلاة، وهو قول له حظه من النظر والاستدلال، وعليه جمهور أهل العلم، وقال آخرون منهم ابن تيمية وابن القيم: المقصود به آخر الصلاة قبل السلام، وهو قول قوي تؤيده المرجحات الآتية:

Para ahli ilmu berbeda pendapat mengenai maksud dari “dubur as-salat” (di akhir shalat) dalam hadits ini dan hadits-hadits doa yang serupa. Sebagian berpendapat bahwa maksudnya adalah berdoa setelah selesai dan salam dari shalat. Ini adalah pendapat yang memiliki argumen dan pendalilan yang kuat, dan dipegang oleh mayoritas ulama. Sedangkan ulama lainnya, di antaranya Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim, berpendapat bahwa maksudnya adalah bagian akhir shalat sebelum salam. Ini adalah pendapat yang kuat yang didukung oleh beberapa penguat berikut:

الأول: أن الغالب استعمال كلمة الدبر للجزء من الشيء، فدبر الحيوان جزء منه، وكذلك دبر الصلاة.

Pertama: Bahwa penggunaan kata “dubur” (belakang/akhir) secara umum merujuk pada bagian dari sesuatu tersebut; seperti ekor hewan yang merupakan bagian dari hewan itu sendiri, demikian pula akhir shalat.

الثاني: أن ما نقل عن النبي صلى الله عليه وسلم من فعله بعد الصلاة لم ينقل فيه دعاء، وإنما نقل الاستغفار والتهليل والتسبيح، وغيره من الأذكار.

Kedua: Bahwa apa yang diriwayatkan dari perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah shalat tidaklah menyebutkan adanya doa, melainkan yang diriwayatkan adalah istighfar, tahlil, tasbih, dan dzikir lainnya.

الثالث: أن الدعاء داخل العبادة أفضل من الدعاء خارجها.

Ketiga: Berdoa di dalam ibadah lebih utama daripada berdoa di luar ibadah.

وعليه فنقول: الأفضل أن يدعو الإنسان قبل تسليمه من الصلاة، وله أن يدعو بعد الصلاة، لكن لا يداوم على ذلك لعدم نقله عن النبي صلى الله عليه وسلم، إلا أن يدعو بعد فراغه من الأذكار التي تقال عقب الصلاة فحسن، لأنه سيكون دعاء بعد عمل آخر هو الذكر.

Berdasarkan hal tersebut, kami katakan: Yang lebih utama adalah seseorang berdoa sebelum salam dari shalat. Namun, ia juga boleh berdoa setelah shalat, akan tetapi hendaknya tidak terus-menerus melakukannya karena hal itu tidak diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kecuali jika ia berdoa setelah selesai dari dzikir-dzikir setelah shalat, maka itu adalah hal yang baik, karena doa tersebut dilakukan setelah amal shalih lainnya, yaitu dzikir.

وبهذا يتبين أن دعاء الإمام لنفسه بعد الصلاة، أو دعاء أحد المأمومين لنفسه ليس من البدعة في شيء.

Dengan demikian, jelaslah bahwa doa imam untuk dirinya sendiri setelah shalat, atau doa salah seorang makmum untuk dirinya sendiri, bukanlah termasuk bid’ah sama sekali.

أما الدعاء الجماعي -أي أن يدعو أحدهم ويؤمن الباقون- فهذا لم ينقله أحد عن النبي صلى الله عليه وسلم، ولا عن خلفائه، ولا عن أحد من أصحابه، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم، وقد قال صلى الله عليه وسلم: “من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد” رواه البخاري ومسلم وغيرهما.

Adapun doa secara berjamaah —yaitu salah seorang berdoa dan yang lainnya mengaminkan— maka hal ini tidak pernah diriwayatkan oleh seorang pun dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pula dari para khalifahnya, dan tidak dari seorang pun sahabatnya. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amal tersebut tertolak.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, dan selainnya.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.