في رمضان تربية الأبناء ليكونوا من المتقين!
Mendidik Anak Menjadi Bertaqwa di Bulan Ramadhan (Bagian Kedua)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Mendidik Anak Menjadi Bertaqwa di Bulan Ramadhan ini masuk dalam Kategori Tarbiyah
لابد أن يحيط المربي أبناءه بالبدائل الصحيحة للمنكرات الشائعة، وهذا مما يجعل وصف المحضن التربوي ينطبق على الأسرة، فتكون أوقاتهم جميعًا مشغولة بالعبادات والفضائل ذات الأثر الكبير
Seorang pendidik harus membekali anak-anaknya dengan alternatif yang benar sebagai pengganti kemungkaran yang umum terjadi. Hal inilah yang membuat istilah “pusat pendidikan” (mahadhan tarbawi) layak disematkan kepada keluarga, sehingga waktu mereka semua terisi dengan ibadah dan keutamaan yang memiliki dampak besar.
وهذه الدرجة من التعظيم يصل إليها الأبناء من خلال الاعتقاد الراسخ بمراقبة الله تعالى لهم، وإثابتهم على صيامهم الذي لا يطلع عليه إلا هو سبحانه، وهذا الذي يجعله سرٌ بين العبد وربّه، مع تلقينهم النصوص التي تؤكد هذا المعنى الجليل في نفوسهم، عن أبي هريرة رضي الله عنه قال:
Derajat pengagungan ini dapat dicapai oleh anak-anak melalui keyakinan kokoh bahwa Allah Ta’ala senantiasa mengawasi mereka, serta memberikan pahala atas puasa mereka yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali Dia Yang Maha Suci. Inilah yang menjadikan puasa sebagai rahasia antara hamba dan Tuhannya, diiringi dengan mengajarkan dalil-dalil yang memperkuat makna agung ini dalam jiwa mereka. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
«يقولُ اللهُ عزَّ وجلَّ كلُّ عمَلِ ابنِ آدمَ له إلا الصيامَ فهو لِي وأنا أجزِي بِهِ إنَّمَا يتْرُكُ طعامَهَ وشَرَابَهُ مِن أجْلِي..»
“Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya. Sungguh ia telah meninggalkan makanannya dan minumannya demi Aku’.” (HR. Bukhari: 1894)
الأصل في معنى كلمة التقوى أنها من الوقاية، وهي ما يحمي به الإنسان نفسه. وفي الاصطلاح: أن يجعل المسلم بينه وبين ما حرّم الله حاجزًا وحاجبًا
Asal makna kata takwa adalah berasal dari kata *al-wiqayah* (perlindungan), yaitu sesuatu yang digunakan manusia untuk melindungi dirinya. Secara istilah: hendaknya seorang Muslim membuat penghalang dan tabir antara dirinya dengan apa yang diharamkan Allah.
وعوامل الهدم الإعلامية من حولنا لا تريد لهذا المعنى أن يسلَم لنا ولأبنائنا، وهذا هو التحدي الكبير الذي يواجهه المربي في أطول موسم للعبادة كل عام، فهناك فرقٌ كبير بين ما أراده الله تعالى لنا من فريضة الصيام وبين ما تقدمه آلة الإعلام وتكرّس له أموالها وبرامجها المخططة بعناية لإفساد الشهر المعظّم في الإسلام.
Namun, faktor-faktor penghancur dari media di sekitar kita tidak menginginkan makna ini selamat bagi kita maupun anak-anak kita. Inilah tantangan besar yang dihadapi pendidik pada musim ibadah terpanjang setiap tahunnya. Ada perbedaan besar antara apa yang Allah Ta’ala inginkan bagi kita melalui kewajiban puasa dengan apa yang disuguhkan oleh mesin media yang mencurahkan harta dan program-programnya—yang direncanakan dengan sangat hati-hati—untuk merusak bulan yang diagungkan dalam Islam.
فتروّج لما يفسد ويشوّه مفهوم التقوى، مثل التركيز على الإكثار من العبادات في رمضان كالإكثار من ختمات القرآن، وإعداد وجبات الإفطار وتوزيعها على المساكين، والعمرة بعد العمرة…وغير ذلك، دون التعرض للمعنى الأصيل للتقوى وهو الكفّ والامتناع عن المحرمات هيبةً وإجلالًا لله تعالى،
Media mempromosikan hal-hal yang merusak dan menyimpangkan konsep takwa, seperti hanya fokus pada banyaknya ibadah di bulan Ramadhan—seperti memperbanyak khatam Al-Quran, menyiapkan hidangan buka puasa dan membagikannya kepada orang miskin, umrah demi umrah, dan sebagainya—tanpa menyentuh makna asli dari takwa, yaitu menahan diri dan menjauh dari hal-hal yang diharamkan karena rasa segan dan pengagungan kepada Allah Ta’ala.
فهذه الصورة المبتورة لممارسة التعبد في رمضان ليست من التقوى في شيء، وكان النبي صلى الله عليه وسلم يؤكد على المفهوم الصحيح للتقوى أثناء الصيام مبيّنًا كيف يهدم مرتكب الحرام صيامه، عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
Gambaran ibadah yang terpotong dalam Ramadhan seperti ini sama sekali bukan bagian dari takwa. Nabi ﷺ senantiasa menekankan konsep takwa yang benar saat berpuasa, seraya menjelaskan bagaimana pelaku keharaman dapat menghancurkan pahala puasanya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَن لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ والعَمَلَ به، فليسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ في أنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وشَرَابَهُ»
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh terhadap tindakannya meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari: 1903)
وهكذا فهم السلف معنى التقوى، عن عطية بن عروة السعديّ قال: لا يبلغُ العبدُ أن يَكونَ منَ المتَّقينَ حتَّى يدعَ ما لا بأسَ بِهِ حذرًا ممَّا بِهِ بأسٌ (أخرجه الطبراني:446).
Demikianlah para pendahulu yang saleh (Salaf) memahami makna takwa. Dari Athiyyah bin Urwah as-Sa’di, ia berkata: “Seorang hamba tidak akan mencapai derajat takwa hingga ia meninggalkan hal-hal yang tidak berbahaya karena khawatir terjerumus pada hal-hal yang berbahaya.” (HR. Thabrani: 446)
ما يفعله المربي أعلى صوتًا مما يقوله! يستطيع المربي بتقديم القدوة الصالحة من نفسه أن يدرّب أبنائه على ممارسة التقوى قوْلًا وعملًا في رمضان، مستعينًا بالله تعالى،
Apa yang dilakukan oleh seorang pendidik suaranya lebih keras daripada apa yang ia katakan! Pendidik dapat memberikan keteladanan yang baik dari dirinya sendiri untuk melatih anak-anaknya mempraktikkan takwa baik dalam perkataan maupun perbuatan di bulan Ramadhan, dengan memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala.
ومعالجًا لهذا الخلل الحاصل في مفهوم التقوى (الإقبال على العبادات في رمضان مع مصاحبة المنكرات)، ومبيّنًا مثل من يفعل ذلك كمثل رجلٌ يبني بإحدى يديه، ويهدم ما بناه باليد الأخرى، فكثرةَ العباداتِ والطَّاعاتِ لا تُغني عن صاحبِها إذا ما تداخَلَ معها اجتراح السيئات.
Ia juga harus memperbaiki kekeliruan dalam konsep takwa (yaitu antusias beribadah namun tetap dibarengi kemungkaran), dan menjelaskan bahwa perumpamaan orang yang melakukan hal itu seperti seseorang yang membangun dengan satu tangan, namun meruntuhkan apa yang ia bangun dengan tangan yang lain. Banyaknya ibadah dan ketaatan tidak akan bermanfaat bagi pelakunya jika dicampuri dengan perbuatan dosa.
Kembali ke bagian sebelumnya | Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : Islamway
Leave a Reply