ثبات أذاني المغرب والعشاء لا مانع منه إذا كان حسب ضوابط الوقت الشرعي
Ketetapan Jarak Waktu Antara Adzan Maghrib dan Isya Tidak Mengapa Jika Sesuai dengan Batasan Waktu Syar’i
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Ketetapan Jarak Waktu Antara Adzan Maghrib dan Isya Tidak Mengapa Jika Sesuai dengan Batasan Waktu Syar’i ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
يلاحظ أن الفرق بين أذاني المغرب والعشاء في السعودية ثابت طول العام، ولا يتغير إلا في شهر رمضان حيث يؤخر أذان العشاء نصف ساعة، مع أن البلاد المجاورة يتغير فيها موعد العشاء ففي الشتاء يتقدم وفي الصيف يتأخر،
Teramati bahwa perbedaan (jarak waktu) antara adzan Maghrib dan Isya di Arab Saudi tetap sepanjang tahun, dan tidak berubah kecuali pada bulan Ramadhan di mana adzan Isya diakhirkan setengah jam. Padahal di negara-negara tetangga, waktu Isya berubah-ubah; di musim dingin lebih awal dan di musim panas lebih lambat.
فهل إذا صلى المرء صلاة المغرب شتاء قبل أذان العشاء بعشر دقائق يكون مدركا لها في الوقت، وهل إذا صلى المغرب في رمضان قبيل أذان العشاء المؤخر عن وقته المعتاد يكون مدركا لها، ولماذا يؤخر الأذان في رمضان ولا يؤذن في الوقت وتؤخر الإقامة؟
Apakah jika seseorang melaksanakan shalat Maghrib di musim dingin sepuluh menit sebelum adzan Isya dianggap telah mendapati shalat pada waktunya? Dan apakah jika ia shalat Maghrib di bulan Ramadhan sesaat sebelum adzan Isya yang diakhirkan dari waktu biasanya dianggap telah mendapatinya? Mengapa adzan diakhirkan pada bulan Ramadhan dan tidak dikumandangkan tepat pada waktunya saja lalu iqamahnya yang diakhirkan?
وجزاكم الله خيرا.
Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:
فأوقات الصلاة بينها النبي صلى الله عليه وسلم وحددها بأمارات ثابتة، وإن اختلفت من مكان إلى مكان، ومن زمان إلى زمان،
Waktu-waktu shalat telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau menentukannya dengan tanda-tanda yang tetap, meskipun berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya, serta satu waktu dengan waktu lainnya.
فقد روى مسلم في صحيحه من حديث عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال:
Imam Muslim telah meriwayatkan dalam Shahihnya dari hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“وَقْتُ الظهر إذا زالت الشمس، وكان ظل الرجل كطوله، ما لم يحضر وقت العصر، ووقت العصر ما لم تصفرَّ الشمس، ووقت المغرب ما لم يغب الشفق، ووقت صلاة العشاء إلى نصف الليل الأوسط، ووقت صلاة الصبح من طلوع الفجر ما لم تطلع الشمس”.
“Waktu Zhuhur adalah jika matahari telah tergelincir dan bayangan seseorang sama dengan tingginya selama belum datang waktu Ashar. Waktu Ashar adalah selama matahari belum menguning. Waktu Maghrib adalah selama belum hilang mega merah (syafaq). Waktu shalat Isya adalah hingga tengah malam. Dan waktu shalat Subuh adalah dari terbitnya fajar selama matahari belum terbit.”
فزوال الشمس وغروبها، وطلوع الفجر، يختلف من مكان إلى آخر، ولكل بلد حكمه بحسب هذه الضوابط،
Maka tergelincirnya matahari, terbenamnya matahari, dan terbitnya fajar berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya, dan setiap negeri memiliki hukumnya masing-masing berdasarkan batasan-batasan ini.
والأئمة والمؤذنون محمولون على العدالة، ومعرفة الأحكام، ويقلَدون في أوقات الصلاة وما يتبع ذلك من الصوم والفطر. وهذه الضوابط التي بينها النبي صلى الله عليه وسلم هي المعوَّل عليها في تحديد أوقات الصلوات – ابتداء وانتهاءً – لصلاحيتها لكل زمان ومكانٍ، ولتمكُّن كل أحد من معرفتها وإدراكها والاستدلال بها.
Para imam dan muadzin dianggap memiliki sifat adil dan mengetahui hukum-hukum tersebut, sehingga mereka diikuti dalam hal waktu shalat dan perkara yang mengikutinya seperti mulai berpuasa dan berbuka. Batasan-batasan yang dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam inilah yang menjadi pegangan dalam menentukan waktu-waktu shalat —baik awal maupun akhirnya— karena kesesuaiannya untuk setiap zaman dan tempat, serta memungkinkan setiap orang untuk mengetahui, memahami, dan berdalil dengannya.
وأما ما سواها من تقاويم ونحوها، فإنما هي وسائل لتسهيل معرفة تلك الضوابط والعمل بمقتضاها. والواجب على المسلم هو التعويل أساساً على الضوابط التي وضعها الشارع، ولا حرج في الاستدلال عليها بما يعين على معرفتها مما وضعته جهات مختصة موثوق بعلمها وأمانتها.
Adapun selain itu berupa kalender (jadwal) dan semisalnya, hanyalah sarana untuk memudahkan dalam mengetahui batasan-batasan tersebut dan beramal sesuai konsekuensinya. Wajib bagi seorang Muslim untuk bersandar secara mendasar pada batasan yang ditetapkan oleh pembuat syariat, dan tidak ada halangan dalam berdalil dengannya menggunakan apa yang membantu mengetahuinya dari jadwal yang disusun oleh pihak-pihak berwenang yang dipercaya ilmu dan amanahnya.
وأما الفرق الذي ذكره السائل الكريم أنه ثابت بين أذاني المغرب والعشاء، فلا مانع منه إذا كان ذلك مستنداً إلى تلك الضوابط المشار إليها – كما هو المظنون – إن شاء الله تعالى بالقائمين على الأمر هنالك، وخاصة أن الواقع لا يمنع أن يكون ذلك الفرق ثابتاً في البلاد التي ليلها ونهارها طبيعيان.
Adapun perbedaan yang disebutkan penanya bahwa hal itu tetap antara adzan Maghrib dan Isya, maka tidak ada halangan jika hal itu didasarkan pada batasan-batasan yang dimaksud —sebagaimana yang diduga kuat (insya Allah)— oleh para pihak yang berwenang di sana, terutama karena kenyataannya tidak menghalangi perbedaan tersebut untuk bersifat tetap di negeri-negeri yang siang dan malamnya berlangsung normal.
مع أننا لا نعتقد أن الفرق الزمني بين مغيب الشمس الذي هو أول دخول وقت المغرب، وبين مغيب الشفق الذي هو أول دخول وقت العشاء يصل إلى ساعة ونصف، بل نعتقد أنه أقل من ذلك.
Meskipun demikian, kami tidak beranggapan bahwa perbedaan waktu antara terbenamnya matahari (awal waktu Maghrib) dan hilangnya mega merah (awal waktu Isya) mencapai satu setengah jam, melainkan kami beranggapan durasinya kurang dari itu.
وننبه هنا إلى أن تقديم أذان الصلاة عن أول دخول وقتها لا يجوز، كما أن تعمد تأخيره عن أول الوقت لا ينبغي، وخاصة إذا كان ذلك بصفة دائمة مستمرة، لأن الأذان شرع للإعلام بدخول أول الوقت، فإيقاعه في غير ذلك قد يترتب عليه تغرير بالعامة الذين يعتقدون أن دخول الوقت مرتبط بالأذان فقط، ويبنون على ذلك تصرفات قد توقعهم في ارتكاب ما لا يجوز، كتقديم الصلاة عن وقتها، أو تأخيرها عنه ظناً منه أنه ما زال باقياً، لعدم سماعهم لأذان الصلاة التي تليها.
Kami mengingatkan di sini bahwa mendahulukan adzan shalat sebelum masuk waktunya adalah tidak boleh, sebagaimana sengaja mengakhirkannya dari awal waktu juga tidak sepatutnya dilakukan, terutama jika dilakukan secara terus-menerus. Hal ini karena adzan disyariatkan untuk memberitahukan masuknya awal waktu, maka menempatkannya bukan pada waktunya dapat berakibat penyesatan bagi orang awam yang meyakini bahwa masuknya waktu hanya terkait dengan adzan saja. Mereka membangun tindakan di atas keyakinan tersebut yang bisa menjerumuskan pada perbuatan yang tidak diperbolehkan, seperti mendahulukan shalat dari waktunya, atau mengakhirkannya karena mengira waktu masih ada karena belum mendengar adzan shalat berikutnya.
وخاصة إذا كانت علامة دخول وقت الصلاة الثانية غير جلية للعامة، كما هي الحال بالنسبة للمغرب والعشاء والظهر والعصر، وكون الأذان لا ينبغي تأخيره عن أول دخول الوقت لا يعني أن الإقامة كذلك، بل السنة أن يكون بينهما وقت كافٍ للاستعداد للصلاة، واجتماع الجماعة، ونحو ذلك مما تقتضيه المصلحة، وتدعو إليه الحاجة، ففي الصحيحين أن النبي صلى الله عليه وسلم قال:
Terutama jika tanda masuknya waktu shalat kedua tidak tampak jelas bagi orang awam, sebagaimana halnya waktu Maghrib, Isya, Zhuhur, dan Ashar. Adapun fakta bahwa adzan tidak sepatutnya diakhirkan dari awal masuknya waktu, bukan berarti iqamah juga demikian; bahkan sunnahnya adalah ada jarak waktu yang cukup di antara keduanya untuk persiapan shalat, berkumpulnya jamaah, dan semisalnya dari apa yang menuntut maslahat dan kebutuhan. Dalam Shahihain disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“إذا اشتد الحر، فأبردوا بالصلاة، فإن شدة الحر من فيح جهنم”.
“Jika panas sangat menyengat, maka dinginkanlah shalat (tunggulah agak dingin), karena panas yang sangat itu berasal dari hembusan neraka.”
وقد كان يؤخر صلاة العشاء إلى ثلث الليل ويقول:
Beliau juga dahulu pernah mengakhirkan shalat Isya hingga sepertiga malam dan bersabda:
“لولا أن أشق على أمتي لأمرتهم أن يصلوها هكذا”.
“Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk shalat seperti ini.”
والحديث في الصحيحين أيضاً. وتأخير صلاة العشاء في رمضان تقتضيه حاجة الصائمين، ليأخذوا قسطاً من الراحة بعد الإفطار.
Hadits ini juga terdapat dalam Shahihain. Dan mengakhirkan shalat Isya di bulan Ramadhan menuruti kebutuhan orang-orang yang berpuasa agar mereka mendapatkan waktu istirahat setelah berbuka.
وبناءً على ما تقدم، فنقول للسائل الكريم: إنه إذا علم من طرف الجهات المختصة أن أذان العشاء في كل فصول السنة يؤذن به في أول دخول وقتها، فمعنى ذلك أن من صلى المغرب قبل الأذان ولو بعشر دقائق يعتبر مدركاً لها في وقتها، لقول النبي صلى الله عليه وسلم:
Berdasarkan penjelasan di atas, kami katakan kepada penanya: Bahwa jika diketahui dari pihak berwenang bahwa adzan Isya di setiap musim dikumandangkan tepat pada awal masuk waktunya, maka maknanya adalah orang yang melaksanakan shalat Maghrib sebelum adzan meskipun sepuluh menit dianggap telah mendapatinya pada waktunya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“من أدرك ركعة من الصبح قبل أن تطلع الشمس، فقد أدرك الصبح، ومن أدرك ركعة من العصر قبل أن تغرب الشمس، فقد أدرك العصر” متفق عليه.
“Barangsiapa yang mendapati satu rakaat shalat Subuh sebelum matahari terbit, maka ia telah mendapati Subuh. Dan barangsiapa yang mendapati satu rakaat shalat Ashar sebelum matahari terbenam, maka ia telah mendapati Ashar.” (Muttafaq ‘Alaih).
وإما إذا علمت أن أذان العشاء يؤخر عن أول دخول وقتها، فلا يجوز تأخير صلاة المغرب إليه، بل الواجب على المرء أن يحتاط في ذلك.
Namun jika Anda mengetahui bahwa adzan Isya diakhirkan dari awal masuk waktunya, maka tidak diperbolehkan mengakhirkan shalat Maghrib sampai waktu tersebut, melainkan wajib bagi seseorang untuk berhati-hati dalam hal tersebut.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply