حكم ابتلاع ما لا يؤكل عادة في نهار رمضان
Hukum Menelan Sesuatu yang Biasanya Tidak Dimakan di Siang Hari Ramadhan
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Hukum Menelan Sesuatu yang Biasanya Tidak Dimakan di Siang Hari Ramadhan ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
ما حكم ابتلاع شيء لا طعم له في نهار رمضان عمدًا؛ بحيث إنه يدخل في الفm ويبتلع، ولو لم يشاهد بالعين لما علم بدخوله؟ أرجو أن يكون الرد واضحًا فأنا مبتلاة بالوسواس القهري، ولا أريد أن أوسوس في صيامي أكثر من ذلك.
Apa hukum menelan sesuatu yang tidak memiliki rasa di siang hari Ramadhan secara sengaja; di mana benda tersebut masuk ke dalam mulut dan tertelan, yang seandainya tidak dilihat dengan mata niscaya tidak akan diketahui masuknya? Saya berharap jawabannya jelas karena saya sedang diuji dengan penyakit was-was (OCD), dan saya tidak ingin merasa lebih was-was lagi dalam puasa saya.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:
فنسأل الله لك العافية، وننصحك بضرورة ترك الوساوس, وعدم الاسترسال معها والالتفات إليها؛ وراجعي لزامًا الفتاوى الأخرى هنا
Kami memohon kepada Allah afiat (kesembuhan) untuk Anda, dan kami menasihati Anda untuk senantiasa meninggalkan was-was, serta tidak terus-menerus mengikuti atau memikirkannya. Silakan merujuk pada fatwa lain disini :
- Was-was Qahri (OCD): Hakikat dan Pengobatannya
- Tidak Mempedulikan Keraguan Membebaskan Seseorang dari Was-was
- Orang yang Diuji dengan Was-was dan Masalah Pengangkatan Kesulitan Darinya
ثم اعلمي أن سؤالك بحاجة إلى إيضاح فقولك: بحيث إنه يدخل في الفم ويبتلع، ولو لم يشاهد بالعين لما علم بدخوله. يحتاج إلى شرح، ولكن إن كنت تسألين عن حكم ابتلاع ما لا يؤكل عادة في نهار رمضان, فالجواب أن كلما وصل إلى جوف الصائم مما يؤكل عادة، ومما لا يؤكل فإنه يبطل صومه.
Kemudian ketahuilah bahwa pertanyaan Anda memerlukan kejelasan; perkataan Anda: “di mana benda tersebut masuk ke dalam mulut dan tertelan, yang seandainya tidak dilihat dengan mata niscaya tidak akan diketahui masuknya” membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Namun, jika Anda bertanya tentang hukum menelan sesuatu yang biasanya tidak dimakan di siang hari Ramadhan, maka jawabannya adalah bahwa segala sesuatu yang sampai ke rongga tubuh (lambung) orang yang berpuasa, baik itu berupa sesuatu yang biasa dimakan maupun yang tidak biasa dimakan, maka hal itu membatalkan puasanya.
قال الشيرازي في المهذب:
Asy-Syirazi berkata dalam Al-Muhadzdzab:
فإن استف ترابًا، وابتلع حصاة، أو درهماً أو ديناراً بطل صومه؛ لأن الصوم هو الإمساك عن كل ما يصل إلى الجوف، وهذا ما أمسك, ولهذا يقال: فلان يأكل الطين، ويأكل الحجر؛ ولأنه إذا بطل الصوم بما يصل إلى الجوف مما ليس يؤكل كالسعوط، والحقنة وجب أيضاً أن يبطل بما يصل مما ليس بمأكول. وعزاه النووي في شرحه على المهذب إلى عامة السلف، والخلف.
“Jika seseorang menelan debu, kerikil, dirham, atau dinar, maka puasanya batal. Karena puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang sampai ke rongga tubuh, sedangkan orang ini tidak menahannya. Oleh karena itu dikatakan: Si fulan memakan tanah, atau memakan batu. Juga karena puasa menjadi batal dengan sesuatu yang sampai ke rongga tubuh meskipun bukan sesuatu yang dimakan seperti obat hirup (sa’uth) dan suntikan (melalui dubur), maka wajib pula batal dengan segala sesuatu yang sampai meskipun bukan makanan.” Imam An-Nawawi dalam penjelasannya terhadap Al-Muhadzdzab menyandarkan pendapat ini kepada mayoritas ulama salaf dan khalaf.
قال النووي في المجموع شرح المهذب:
An-Nawawi berkata dalam Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab:
{فَرْعٌ} لَوْ ابْتَلَعَ شَيْئًا يَسِيرًا جِدًّا كَحَبَّةِ سِمْسِمٍ، أَوْ خَرْدَلٍ وَنَحْوِهِمَا أَفْطَرَ بِلَا خِلَافٍ عِنْدَنَا, وَبِهِ قَالَ جُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ, وَقَالَ الْمُتَوَلِّي: يُفْطِرُ عِنْدَنَا، وَلَا يُفْطِرُ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ كَمَا قَالَ فِي الْبَاقِي فِي خَلَلِ الْأَسْنَانِ. وعليه فدخول شيء ولو قليلًا – ولو بلا طعم – عمدًا يُفطِّرُ الصائم.
“[Cabang Masalah] Seandainya seseorang menelan sesuatu yang sangat kecil seperti biji wijen, atau biji sawi, dan yang semisalnya, maka ia berbuka (batal puasanya) tanpa ada perbedaan pendapat di kalangan kami (Syafi’iyah), dan ini adalah pendapat mayoritas ulama. Al-Mutawalli berkata: Hal itu membatalkan puasa menurut kami, namun tidak membatalkan menurut Abu Hanifah sebagaimana ia berpendapat pada sisa makanan di sela-sela gigi.” Berdasarkan hal tersebut, masuknya sesuatu meskipun sedikit —meskipun tanpa rasa— secara sengaja membatalkan puasa.
أما إذا لم يكن مختارًا فلا يُفطِرُ بذلك, قال البخاري في صحيحه: باب الصائم إذا أكل أو شرب ناسيًا، وقال عطاء:
Adapun jika hal itu terjadi bukan karena pilihannya (tidak sengaja), maka tidaklah membatalkan puasa. Al-Bukhari berkata dalam Shahihnya: “Bab Orang yang Berpuasa Jika Makan atau Minum Karena Lupa.” Atho berkata :
إن استنثر فدخل الماء في حلقه لا بأس إن لم يملك, وقال الحسن: إن دخل حلقه الذباب فلا شيء عليه.
“Jika seseorang menghirup air ke hidung (saat wudhu) lalu air masuk ke tenggorokannya, maka tidak mengapa jika ia tidak mampu menahannya.” Al-Hasan berkata: “Jika lalat masuk ke tenggorokannya, maka tidak ada kewajiban apa pun baginya.”
ولكن لا بد من تحقق دخوله، لا سيما مع الوسوسة، فلا تلتفتي للوسوسة بدخول شيء إلا أن تتحققي ابتلاع شيء من ذلك مع تعمده. والله أعلم.
Akan tetapi, harus ada kepastian bahwa benda tersebut benar-benar masuk, terutama bagi orang yang memiliki penyakit was-was. Maka janganlah Anda mempedulikan was-was tentang masuknya sesuatu, kecuali jika Anda benar-benar yakin telah menelan sesuatu dari hal tersebut secara sengaja. Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply