Orang yang Diuji dengan Was-was



المبتلى بالوسوسة ومسألة رفع الحرج عنه

Orang yang Diuji dengan Was-was dan Masalah Pengangkatan Kesulitan Darinya

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Orang yang Diuji dengan Was-was dan Masalah Pengangkatan Kesulitan Darinya ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

هل من به مرض الوسواس ينطبق عليه قول الله تعالى (ولا على المريض حرج) بمعنى أن الموسوس يكثر وهمه، فأحيانا مثلا في الصلاة يترك ركنا أو واجبا حقيقة، لكن يحاول تجاهل ذلك- لأنه يكثر منه التوهم – حتى لا يتغلب عليه الشيطان ويسيطر عليه.

Apakah orang yang menderita penyakit was-was termasuk dalam firman Allah Ta’ala “(dan tidak ada pula halangan) bagi orang yang sakit” (QS. An-Nur: 61), dalam artian bahwa orang yang was-was itu sering berhalusinasi, sehingga terkadang misalnya dalam shalat ia benar-benar meninggalkan suatu rukun atau kewajiban, namun ia mencoba untuk mengabaikannya —karena ia sering berhalusinasi— agar setan tidak mengalahkannya dan menguasainya?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:

فاعلم أولا أن الموسوس إذا تيقن أنه ترك ركنا أو واجبا كان عليه أن يتدارك ذلك النقص على الوجه المفصل في كتب الفقه، ومثله في ذلك مثل غير الموسوس إذا حصل عنده اليقين بالترك،

Ketahuilah terlebih dahulu bahwa orang yang was-was, jika ia yakin sepenuhnya bahwa ia telah meninggalkan suatu rukun atau kewajiban, maka ia wajib memperbaiki kekurangan tersebut sesuai dengan cara yang dirinci dalam kitab-kitab fikih. Dalam hal ini, posisinya sama seperti orang yang tidak was-was apabila telah mencapai tingkat keyakinan dalam hal meninggalkan (rukun/kewajiban) tersebut.

وأما إذا لم يحصل له اليقين بالترك، بل كان ذلك مجرد وهم وشك وخيالات يلقيها الشيطان في قلبه ليفسد عليه عبادته، فالواجب عليه هو أن يعرض عن الوساوس جملة فلا يلتفت إلى شيء منها،

Adapun jika ia tidak mencapai tingkat keyakinan bahwa ia telah meninggalkannya, melainkan hal itu hanyalah sekadar ilusi, keraguan, dan khayalan yang dilemparkan setan ke dalam hatinya untuk merusak ibadahnya; maka yang wajib baginya adalah berpaling dari was-was tersebut secara keseluruhan dan tidak mempedulikan sedikit pun darinya.

لأن التفاته إلى الوسوسة يفتح عليه من أبواب الشر شيئا عظيما، ولأن استرساله مع الوساوس يفضي إلى الزيادة في العبادة بيقين، ولا يتم علاج الوساوس إلا على هذا الوجه.

Hal ini karena mempedulikan was-was akan membukakan baginya pintu-pintu keburukan yang sangat besar, dan karena sikap terus-menerus mengikuti was-was akan menyebabkan penambahan dalam ibadah secara nyata. Pengobatan was-was tidak akan sempurna kecuali dengan cara seperti ini.

قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

وهذا الوسواس يزول بالاستعاذة وانتهاء العبد وأن يقول إذا قال لم تغسل وجهك: بلى قد غسلت وجهي. وإذا خطر له أنه لم ينو ولم يكبر يقول بقلبه: بلى قد نويت وكبرت. فيثبت على الحق ويدفع ما يعارضه من الوسواس،

“Was-was ini akan hilang dengan ber-isti’adzah (memohon perlindungan kepada Allah) dan berhentinya seorang hamba (dari meladeni was-was), serta dengan ia berkata ketika was-was itu membisikkan ‘engkau belum membasuh wajahmu’: ‘Bahkan, aku telah membasuh wajahku.’ Dan jika terlintas di benaknya bahwa ia belum berniat atau belum bertakbir, ia berkata dalam hatinya: ‘Bahkan, aku telah berniat dan bertakbir.’ Maka ia tetap teguh di atas kebenaran dan menolak apa yang menentangnya berupa was-was.

فيرى الشيطان قوته وثباته على الحق فيندفع عنه، وإلا فمتى رآه قابلا للشكوك والشبهات مستجيبا إلى الوساوس والخطرات أورد عليه من ذلك ما يعجز عن دفعه وصار قلبه موردا لما توحيه شياطين الإنس والجن من زخرف القول، وانتقل من ذلك إلى غيره إلى أن يسوقه الشيطان إلى الهلكة. انتهى.

Dengan begitu setan akan melihat kekuatan dan keteguhannya di atas kebenaran, sehingga setan pun menjauh darinya. Jika tidak demikian, kapan pun setan melihatnya mudah menerima keraguan dan syubhat serta merespons was-was dan lintasan pikiran, maka setan akan mendatangkan hal-hal tersebut kepadanya hingga ia tak mampu menolaknya, dan hatinya menjadi tempat bagi apa yang dibisikkan oleh setan-setan manusia dan jin berupa kata-kata indah yang menipu, lalu ia berpindah dari satu was-was ke yang lainnya sampai setan menggiringnya menuju kebinasaan.” (Selesai).

وقد نص الفقهاء على أنه لا يلتفت إلى الوسواس، وأن هذا هو الواجب عليه حتى يعافيه الله تعالى، قال في مطالب أولي النهى: ولا يشرع سجود السهو إذا كثر الشك حتى صار كوسواس فيطرحه. وكذا لو كثر الشك في وضوء وغسل وإزالة نجاسة وتيمم فيطرحه لأنه يخرج به إلى نوع من المكابرة فيفضي إلى زيادة في الصلاة مع تيقن إتمامها فوجب إطراحه واللهو عنه لذلك. انتهى. وراجع الفتوى الأخرى هنا

Para fukaha telah menyatakan bahwa was-was tidak boleh dipedulikan, dan inilah yang wajib dilakukan sampai Allah Ta’ala memberinya kesembuhan. Disebutkan dalam kitab Mathalib Ulin Nuha: “Tidak disyariatkan sujud sahwi jika keraguan itu sangat sering terjadi hingga menjadi seperti was-was, maka ia harus membuangnya. Demikian pula jika keraguan sering terjadi dalam wudhu, mandi, menghilangkan najis, dan tayamum, maka ia harus membuangnya; karena jika tidak, hal itu akan membawanya pada sejenis keras kepala (keras hati) yang mengakibatkan penambahan dalam shalat padahal ia yakin telah menyempurnakannya, maka wajib untuk membuang dan mengabaikannya karena alasan tersebut.” (Selesai). Silakan rujuk fatwa lain disini :

وهذا من تخفيف الله على عباده ورحمته بهم، فهو تعالى لم يكلفهم ما لا يطيقون، ورفع عنهم الحرج بقوله:

Ini termasuk bentuk keringanan dari Allah bagi hamba-hamba-Nya dan rahmat-Nya kepada mereka, karena Dia Ta’ala tidak membebani mereka dengan apa yang tidak mereka sanggupi, dan telah mengangkat kesulitan dari mereka dengan firman-Nya :

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ {الحج: ٨٧}

“dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” {QS. Al-Hajj: 78}.

وقال عز وجل:  

Dan Dia Azza wa Jalla berfirman :

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا {البقرة ٢٨٦}

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” {QS. Al-Baqarah: 286}.

وقال تبارك وتعالى: 

Dan Dia Tabaraka wa Ta’ala berfirman:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ {التغابن:١٦}،

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” {QS. At-Taghabun: 16}.

وقال صلى الله عليه وسلم: 

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إذا أمرتكم بأمر فائتوا منه ما استطعتم.

“Jika aku memerintahkan kalian akan suatu perkara, maka laksanakanlah semampu kalian.”

والآية المذكورة وهي قوله تعالى: وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ.

Adapun ayat yang disebutkan yaitu firman Allah Ta’ala: “dan tidak ada pula halangan bagi orang yang sakit,”

قد تصلح بعمومها للدلالة على المقصود، فإن المبتلى بالوسوسة مريض، فهو مأمور بأن يتقي الله ما استطاع، ويفعل ما يقدر عليه، ثم هو غير مؤاخذ بما عجز عنه، 

maka secara keumumannya bisa digunakan untuk menunjukkan maksud tersebut; karena orang yang diuji dengan was-was adalah orang yang sedang sakit. Ia diperintahkan untuk bertakwa kepada Allah semampunya, melakukan apa yang ia sanggupi, kemudian ia tidak dihukum atas apa yang ia tidak mampu melakukannya.

وقد ذكر الله تعالى أنه رفع الحرج عن المريض في موضعين من كتابه، أحدهما في سورة الفتح، وهو في رفع الحرج عنهم في ترك الجهاد باتفاق،

Allah Ta’ala telah menyebutkan bahwa Dia mengangkat kesulitan dari orang yang sakit dalam dua tempat di kitab-Nya: pertama dalam Surah Al-Fath, yaitu mengenai pengangkatan kesulitan bagi mereka dalam hal meninggalkan jihad secara kesepakatan ulama;

والثانية في سورة النور واختلف في سبب نزولها ومعنى الحرج المرفوع فيها على أقوال ذكرها ابن كثير رحمه الله، واختار السعدي رحمه الله أن الآية تعم كل حرج فهو مرفوع عنهم،

kedua dalam Surah An-Nur, di mana para ulama berbeda pendapat mengenai sebab turunnya dan makna kesulitan yang diangkat di dalamnya menjadi beberapa pendapat yang disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah. Imam As-Sa’di rahimahullah memilih pendapat bahwa ayat tersebut mencakup segala bentuk kesulitan, maka kesulitan itu diangkat dari mereka.

قال في تفسير آية النور:  

Beliau berkata dalam tafsir ayat di surah An-Nur :

يخبر تعالى عن منته على عباده، 

“Allah Ta’ala mengabarkan tentang anugerah-Nya kepada hamba-hamba-Nya,

وأنه لم يجعل عليهم في الدين من حرج بل يسره غاية التيسير،

bahwa Dia tidak menjadikan kesulitan bagi mereka dalam agama, melainkan memudahkannya dengan semudah-mudahnya.

فقال: 

Maka Dia berfirman:

لَيْسَ عَلَى الأعْمَى حَرَجٌ وَلا عَلَى الأعْرَجِ حَرَجٌ وَلا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ 

‘Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak ada halangan bagi orang pincang, tidak ada halangan bagi orang sakit,’

أي: ليس على هؤلاء جناح، في ترك الأمور الواجبة، التي تتوقف على واحد منها، وذلك كالجهاد ونحوه، مما يتوقف على بصر الأعمى، أو سلامة الأعرج، أو صحة للمريض، ولهذا المعنى العام الذي ذكرناه، أطلق الكلام في ذلك، ولم يقيد، كما قيد قوله: وَلا عَلَى أَنْفُسِكُمْ. انتهى كلامه رحمه الله.

maksudnya: tidak ada dosa bagi mereka dalam meninggalkan perkara-perkara wajib yang pelaksanaannya bergantung pada salah satu dari hal tersebut; seperti jihad dan semisalnya, dari perkara yang bergantung pada penglihatan orang buta, keselamatan fisik orang pincang, atau kesehatan orang yang sakit. Dan karena makna umum yang telah kami sebutkan inilah, pembicaraan dalam hal itu disampaikan secara mutlak (umum) dan tidak dibatasi, sebagaimana firman-Nya dibatasi pada kalimat: ‘dan tidak (pula) bagi dirimu’.” (Selesai perkataan beliau rahimahullah).

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.