كلمة هادية في أسباب الوساوس وسبل التغلب عليها
Petunjuk Mengenai Sebab-sebab Was-was dan Cara Mengatasinya (Bagian Ketiga)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Kalimat Petunjuk Mengenai Sebab-sebab Was-was dan Cara Mengatasinya ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab
وإذا استسلم الشخص للوساوس ولم يقطعها فقد تجره إلى ما لا تحمد عقباه والعياذ بالله، ومن أفضل السبل إلى قطعها والتخلص منها: الاقتناع بأن التمسك بها اتباع للشيطان.
Jika seseorang menyerah pada was-was dan tidak memutusnya, maka was-was tersebut dapat menyeretnya ke dalam akibat yang tidak terpuji, wal’iyadzu billah. Di antara cara terbaik untuk memutus dan membebaskan diri darinya adalah dengan meyakinkan diri bahwa terus menuruti was-was tersebut merupakan bentuk mengikuti setan.
وقد سئل ابن حجر الهيتمي رحمه الله عن داء الوسوسة هل له دواء؟ فأجاب: له دواء نافع وهو الإعراض عنها جملة كافية، وإن كان في النفس من التردد ما كان فإنه متى لم يلتفت لذلك لم يثبت، بل يذهب بعد زمن قليل، كما جرب ذلك الموفقون،
Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah pernah ditanya tentang penyakit was-was, apakah ada obatnya? Beliau menjawab: “Baginya ada obat yang sangat bermanfaat, yaitu berpaling darinya secara total. Meskipun di dalam jiwa masih ada keraguan, sesungguhnya kapan pun seseorang tidak mempedulikannya, keraguan itu tidak akan menetap, bahkan akan hilang setelah waktu yang singkat, sebagaimana hal itu telah dibuktikan oleh orang-orang yang diberi taufik.
وأما من أصغى إليها وعمل بقضيتها فإنها لا تزال تزداد به حتى تخرجه إلى حيز المجانين، بل وأقبح منهم، كما شاهدناه في كثيرين ممن ابتلوا بها وأصغوا إليها وإلى شيطانها… وجاء في الصحيحين ما يؤيد ما ذكرته وهو أن من ابتلي بالوسوسة فليستعذ بالله ولينته.
Adapun orang yang mendengarkannya dan mengamalkan bisikannya, maka was-was tersebut akan terus bertambah padanya hingga membawanya ke wilayah orang-orang gila, bahkan lebih buruk dari mereka, sebagaimana yang telah kami saksikan pada banyak orang yang diuji dengannya dan mereka mendengarkannya serta mendengarkan setannya… Dalam Shahihain terdapat riwayat yang mendukung apa yang aku sebutkan, yaitu bahwa barangsiapa yang diuji dengan was-was hendaknya ia memohon perlindungan kepada Allah dan berhentilah (meladeni bisikan tersebut).”
فتأمل هذا الدواء النافع الذي علَّمه من لا ينطق عن الهوى لأمته. واعلم أن من حرمه حرم الخير كله، لأن الوسوسة من الشيطان اتفاقا، واللعين لا غاية لمراده إلا إيقاع المؤمن في وهدة الضلال والحيرة ونكد العيش وظلمة النفس وضجرها إلى أن يخرجه من الإسلام وهو لا يشعر.
Maka renungkanlah obat yang bermanfaat ini, yang diajarkan oleh beliau (Nabi) yang tidak berbicara berdasarkan hawa nafsunya kepada umatnya. Ketahuilah bahwa barangsiapa yang terhalang darinya, maka ia terhalang dari seluruh kebaikan; karena was-was itu berasal dari setan secara kesepakatan ulama. Si terkutuk (setan) tidak memiliki tujuan selain menjerumuskan orang mukmin ke dalam jurang kesesatan, kebingungan, kesengsaraan hidup, serta kegelapan dan kejenuhan jiwa, hingga ia mengeluarkannya dari Islam tanpa ia sadari.
[إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا]..
“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh”…
ولا شك أن من استحضر طرائق رسل الله سيما نبينا صلى الله عليه وسلم وجد طريقته وشريعته سهلة واضحة بيضاء بينة، سهلة لا حرج فيها، [وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ] ومن تأمل ذلك وآمن به حق إيمانه ذهب عنه داء الوسوسة والإصغاء إلى شيطانها..
Tidak diragukan lagi bahwa barangsiapa yang menghadirkan cara-cara para rasul Allah, khususnya Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya ia akan mendapati metode dan syariat beliau sangat mudah, jelas, terang benderang, lagi lapang tanpa ada kesulitan di dalamnya. “dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” Barangsiapa yang merenungkan hal itu dan mengimaninya dengan sebenar-benarnya iman, niscaya penyakit was-was dan sikap mendengarkan setan akan hilang darinya.
وذكر العز بن عبد السلام وغيره نحو ما قدمته فقالوا: داء الوسوسة أن يعتقد أن ذلك خاطر شيطاني، وأن إبليس هو الذي أورده عليه، وأن يقاتله فيكون له ثواب المجاهد، لأنه يحارب عدو الله،
Al-Izz bin Abdussalam dan selainnya menyebutkan hal yang serupa dengan apa yang telah saya sampaikan. Mereka berkata: “Obat dari penyakit was-was adalah dengan meyakini bahwa hal itu merupakan lintasan pikiran setan, dan bahwa Iblis-lah yang mendatangkannya kepadanya. Hendaknya ia memeranginya sehingga ia mendapatkan pahala seorang mujahid karena ia sedang memerangi musuh Allah.
فإذا استشعر ذلك فرَّ عنه، وأنه مما ابتلي به نوع الإنسان من أول الزمان وسلطه الله عليه محنة له ليحق الله الحق ويبطل الباطل ولو كره الكافرون..
Jika ia menyadari hal itu, niscaya setan akan lari darinya. Hal ini merupakan sesuatu yang diujikan kepada jenis manusia sejak awal zaman, di mana Allah memberinya kekuasaan atas manusia sebagai ujian baginya ‘agar Allah memperkuat yang hak dan membatalkan yang batil walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai’.”
وبه تعلم صحة ما قدمته أن الوسوسة لا تسلط إلا على من استحكم عليه الجهل والخبل وصار لا تمييز له، وأما من كان على حقيقة العلم والعقل فإنه لا يخرج عن الاتباع ولا يميل إلى الابتداع..
Dengan ini Anda mengetahui kebenaran apa yang telah saya sampaikan bahwa was-was tidak akan berkuasa kecuali atas orang yang diliputi kebodohan serta kekacauan pikiran dan ia menjadi tidak memiliki kemampuan membedakan. Adapun orang yang berada di atas hakikat ilmu dan akal, sesungguhnya ia tidak akan keluar dari kepatuhan (ittiba’) dan tidak akan condong pada bid’ah.
ونقل النووي عن بعض العلماء أنه يستحب لمن بلي بالوسواس في الوضوء أو الصلاة أن يقول: لا إله إلا الله. فإن الشيطان إذا سمع الذكر خنس، أي تأخر وبعد، ولا إله إلا الله رأس الذكر. انتهى.
Imam An-Nawawi menukil dari sebagian ulama bahwa disukai (mustahab) bagi orang yang diuji dengan was-was dalam wudhu atau shalat untuk mengucapkan: “La ilaha illallah.” Karena setan apabila mendengar dzikir ia akan ‘khonasa’, yaitu mundur dan menjauh. Sedangkan “La ilaha illallah” adalah pokok dari segala dzikir. (Selesai).
٥- ومن أعظم الأسباب لعلاج الوسوسة هو مجالسة الصالحين وحضور مجالس العلم، والحذر من مجالسة أصحاب السوء أو الانفراد والانعزال عن الناس.
5- Di antara sebab terbesar dalam mengobati was-was adalah duduk bersama orang-orang shalih dan menghadiri majelis-majelis ilmu, serta berhati-hati dari duduk bersama teman yang buruk atau menyendiri dan mengisolasi diri dari orang-orang.
٦- عرض موضوعك على أحد المشايخ أو طلبة العلم في بلدك والأخذ بنصائحه وتوجيهاته. وفقنا الله وإياك لما يحبه ويرضاه.
6- Sampaikan masalah Anda kepada salah seorang syaikh atau penuntut ilmu di negeri Anda, serta ikutilah nasihat dan arahannya. Semoga Allah memberikan taufik kepada kami dan Anda menuju apa yang Dia cintai dan ridhai.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Alhamdulillah selesai rangkaian artikel 3 (Tiga) Seri
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply