كيفية الصلاة والصيام في البلاد التي يطول نهارها أو يقصر جدا
Tata Cara Shalat dan Puasa di Negeri yang Siang Harinya Sangat Panjang atau Sangat Pendek (Bagian Kedua)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Tata Cara Shalat dan Puasa di Negeri yang Siang Harinya Sangat Panjang atau Sangat Pendek ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
وثبت أن النبي صلى الله عليه وسلم حَدَّث أصحابه عن المسيح الدجال ،
Dan telah tetap riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kepada para sahabatnya tentang Al-Masih Ad-Dajjal, mereka bertanya :
فقالوا : مَا لَبْثُهُ فِي الْأَرْضِ ؟ قَالَ : (أَرْبَعُونَ يَوْمًا ، يَوْمٌ كَسَنَةٍ ، وَيَوْمٌ كَشَهْرٍ ، وَيَوْمٌ كَجُمُعَةٍ ، وَسَائِرُ أَيَّامِهِ كَأَيَّامِكُمْ . قُلْنَا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، فَذَلِكَ الْيَوْمُ الَّذِي كَسَنَةٍ أَتَكْفِينَا فِيهِ صَلَاةُ يَوْمٍ ؟ قَالَ : لَا ، اقْدُرُوا لَهُ قَدْرَهُ) رواه مسلم (٢٩٣٧)،
“Berapa lama ia tinggal di bumi?” Beliau bersabda: “Empat puluh hari; satu hari seperti setahun, satu hari seperti sebulan, satu hari seperti sepekan, dan hari-hari lainnya seperti hari-hari kalian.” Kami bertanya: “Wahai Rasulullah, hari yang seperti setahun itu, apakah cukup bagi kami shalat satu hari saja?” Beliau bersabda: “Tidak, perkirakanlah (hitunglah) kadarnya.” (Hadits Riwayat Imam Muslim no. 2937).
فلم يعتبر اليوم الذي كالسنة يوماً واحداً يكفي فيه خمس صلوات، بل أوجب فيه خمس صلوات في كل أربع وعشرين ساعة، وأمرهم أن يوزعوها على أوقاتها اعتباراً بالأبعاد الزمنية التي بين أوقاتها في اليوم العادي في بلادهم،
Maka beliau tidak menganggap hari yang seperti setahun sebagai satu hari yang cukup dengan lima waktu shalat saja, akan tetapi beliau mewajibkan di dalamnya lima waktu shalat dalam setiap dua puluh empat jam. Beliau memerintahkan mereka untuk membaginya pada waktu-waktunya dengan mempertimbangkan jarak waktu antara waktu-waktu shalat tersebut pada hari biasa di negeri mereka.
فيجب على المسلمين في البلاد المسؤول عن تحديد أوقات الصلوات فيها أن يحددوا أوقات صلاتهم معتمدين في ذلك على أقرب بلاد إليهم يتمايز فيها الليل من النهار، وتعرف فيها أوقات الصلوات الخمس بعلاماتها الشرعية في كل أربع وعشرين ساعة .
Maka wajib bagi kaum Muslimin di negeri-negeri yang ditanyakan tentang penentuan waktu shalat di sana untuk menentukan waktu shalat mereka dengan bersandar pada negeri terdekat dengan mereka yang malam dan siangnya dapat dibedakan, serta waktu shalat lima waktu dapat diketahui dengan tanda-tanda syar’inya dalam setiap dua puluh empat jam.
وكذلك يجب عليهم صيام شهر رمضان، وعليهم أن يقدروا لصيامهم فيحددوا بدء شهر رمضان ونهايته، وبدء الإمساك والإفطار في كل يوم منه ببدء الشهر ونهايته، وبطلوع فجر كل يوم وغروب شمسه، في أقرب البلاد إليهم يتميز فيها الليل من النهار، ويكون مجموعهما أربعاً وعشرين ساعة؛
Demikian pula wajib atas mereka berpuasa bulan Ramadan, dan wajib bagi mereka untuk memperkirakan (menghitung) puasa mereka; maka mereka menentukan awal dan akhir bulan Ramadan, serta awal waktu imsak dan berbuka pada setiap harinya berdasarkan awal dan akhir bulan, terbitnya fajar setiap hari, serta terbenamnya matahari di negeri terdekat dengan mereka yang malam dan siangnya dapat dibedakan, di mana jumlah total keduanya adalah dua puluh empat jam.
لما تقدم في حديث النبي صلى الله عليه وسلم عن المسيح الدجال، وإرشاده أصحابه فيه عن كيفية تحديد أوقات الصلوات فيه إذ لا فارق في ذلك بين الصوم والصلاة. والله ولي التوفيق. انتهى منه بلفظه.
Hal ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah disebutkan tentang Al-Masih Ad-Dajjal, serta bimbingan beliau kepada para sahabat di dalamnya mengenai cara menentukan waktu-waktu shalat, karena tidak ada perbedaan dalam hal ini antara puasa dan shalat. Dan Allah-lah yang memberikan taufik. (Selesai kutipan keputusan sesuai lafaznya).
وأما تقدير وقت الصوم والصلاة بتوقit مكة مع وجود ليل ونهار في أربع وعشرين ساعة فلا شك في كونه من أكبر الخطأ.
Adapun memperkirakan waktu puasa dan shalat dengan mengikuti waktu Makkah padahal masih terdapat siang dan malam dalam siklus dua puluh empat jam, maka tidak diragukan lagi bahwa hal itu termasuk kesalahan besar.
قال العلامة العثيمين رحمه الله في فتوى له: قال الله تعالى: {أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَآئِكُمْ… وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّيْلِ…}. وقال النبي صلى الله عليه وسلم: «إن بلالاً لا يؤذن بليل فكلوا واشربوا حتى يؤذن ابن أم مكتوم، فإنه لا يؤذن حتى يطلع الفجر» وقال أيضاً: «إذا أقبل الليل من ههنا وأدبر النهار من ههنا وغربت الشمس فقد أفطر الصائم».
Al-’Allamah Al-Utsaimin rahimahullah berkata dalam salah satu fatwanya: Allah Ta’ala berfirman : “Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu… dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam…” Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan pada malam hari, maka makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan, karena ia tidak adzan sampai terbit fajar.” Beliau juga bersabda: “Jika malam telah datang dari arah sini, siang telah pergi dari arah sini, dan matahari telah terbenam, maka orang yang berpuasa telah berbuka.”
ففي هذه الآية الكريمة والحديثين الثابتين عن رسول الله صلى الله عليه وسلم دليل ظاهر على وجوب الإمساك على الصائم من حين أن يطلع الفجر حتى تغرب الشمس في أي مكان كان من الأرض، سواء طال النهار أم قصر، إذا كان في أرض فيها ليل ونهار يتعاقبان في أربع وعشرين ساعة،
Maka dalam ayat yang mulia ini dan dua hadits yang tetap dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat dalil yang nyata tentang wajibnya menahan diri (imsak) bagi orang yang berpuasa sejak terbit fajar hingga matahari terbenam di bagian bumi mana pun, baik siangnya panjang maupun pendek, selama ia berada di wilayah yang memiliki siang dan malam yang bergantian dalam siklus dua puluh empat jam.
والولاية التي أنتم فيها: فيها ليل ونهار يتعاقبان في أربع وعشرين ساعة، فيلزم من كان يصوم فيها أن يمسك من طلوع الفجر إلى غروب الشمس بدلالة الكتاب والسنة على ذلك، ومن أفتى بأن من كان في بلد يطول نهاره عليه فإنه يصوم بقدر نهار المملكة العربية السعودية فقد غلط غلطاً بيناً، وخالف الكتاب والسنة، وما علمنا أن أحداً من أهل العلم قال بفتواه.
Dan wilayah tempat Anda berada: memiliki siang dan malam yang bergantian dalam dua puluh empat jam. Maka wajib bagi siapa pun yang berpuasa di sana untuk menahan diri dari terbit fajar hingga terbenam matahari berdasarkan dalil Al-Kitab dan As-Sunnah tersebut. Barangsiapa yang berfatwa bahwa orang yang berada di negeri yang siangnya panjang hendaknya berpuasa sesuai dengan durasi siang di Kerajaan Arab Saudi, maka ia telah melakukan kesalahan yang nyata, menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah, dan kami tidak mengetahui seorang pun dari ahli ilmu yang berpendapat dengan fatwanya tersebut.
نعم من كان في بلد لا يتعاقب فيه الليل والنهار في أربع وعشرين ساعة كبلد يكون نهارها يومين، أو أسبوعاً، أو شهراً، أو أكثر من ذلك فإنه يقدر للنهار قدره، ولليل قدره من أربع وعشرين ساعة؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم لما حدَّث عن الدجال… قال: «لا. اقدروا له قدره»، وقد اختلف العلماء المعاصرون فيم يقدر الليل والنهار في البلاد التي يكون ليلها ونهارها أكثر من أربع وعشرين ساعة.
Benar, barangsiapa yang berada di negeri yang malam dan siangnya tidak bergantian dalam dua puluh empat jam, seperti negeri yang siangnya berlangsung dua hari, seminggu, sebulan, atau lebih dari itu, maka ia memperkirakan durasi siang dan malamnya dari siklus dua puluh empat jam; karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menceritakan tentang Dajjal… beliau bersabda: “Tidak, perkirakanlah (hitunglah) kadarnya.” Para ulama kontemporer berbeda pendapat mengenai dasar perkiraan siang dan malam di negeri-negeri yang siang dan malamnya lebih dari dua puluh empat jam.
فقال بعضهم: يقدر بالتساوي فيجعل الليل اثني عشر ساعة والنهار مثله، لأن هذا قدرهما في الزمان المعتدل والمكان المعتدل. وقال بعضهم: يقدر بحسب مدتهما في مكة والمدينة، لأنهما البلدان اللذان نزل فيهما الوحي، فتحمل مدة الليل والنهار على المعروف فيهما إذا لم تعرف للبلد مدة ليل ونهار خاصة به.
Sebagian mereka berpendapat: Diperkirakan secara seimbang, yaitu malam dijadikan dua belas jam dan siang demikian pula, karena inilah kadar keduanya pada waktu dan tempat yang normal. Sebagian lainnya berpendapat: Diperkirakan berdasarkan durasi di Makkah dan Madinah, karena keduanya adalah dua kota tempat turunnya wahyu, maka durasi malam dan siang disesuaikan dengan yang dikenal di keduanya jika negeri tersebut tidak memiliki durasi malam dan siang yang khusus baginya.
وقال بعضهم: يقدر بحسب مدتهما في أقرب بلد يكون فيه ليل ونهار يتعاقبان في أربع وعشرين ساعة، وهذا أقرب الأقوال إلى الصحة، لأن إلحاق البلد في جغرافيته بما هو أقرب إليه أولى من إلحاقه بالبعيد، لأنه أقرب شبهاً به من غيره،
Sebagian lainnya berpendapat: Diperkirakan berdasarkan durasi keduanya di negeri terdekat yang memiliki siang dan malam yang bergantian dalam dua puluh empat jam. Ini adalah pendapat yang paling mendekati kebenaran, karena menghubungkan suatu negeri secara geografis dengan negeri yang terdekat dengannya lebih utama daripada menghubungkannya dengan yang jauh, karena ia lebih mirip dengannya dibandingkan yang lainnya.
لكن لو شق الصوم في الأيام الطويلة مشقة غير محتملة بحيث لا يمكن تخفيفها بالمكيفات والمبردات ويخشى منها الضرر على الجسم أو حدوث مرض، فإنه يجوز الفطر حينئذ، ويقضي في الأيام القصيرة؛ لقوله تعالى في سياق آيات الصيام:
Akan tetapi, jika puasa pada hari-hari yang panjang terasa sangat berat dengan kesulitan yang tidak tertanggung, di mana tidak mungkin diringankan dengan alat pendingin dan dikhawatirkan akan membahayakan tubuh atau menimbulkan penyakit, maka diperbolehkan berbuka saat itu, dan menggantinya (qadha) pada hari-hari yang pendek; berdasarkan firman Allah Ta’ala dalam rangkaian ayat-ayat puasa:
{يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ…}
“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…”
وقوله:
Dan firman-Nya :
{وَمَا جَعَلَ عَلَيْكمْ فِى الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ…}
“dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan…”
وقوله:
Serta firman-Nya :
{لاَ يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا…}؟
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”
وخلاصة ما سبق: أن من كان في بلد فيه ليل ونهار يتعاقبان في أربع وعشرين ساعة لزمه صيام النهار وإن طال، إلا أن يشق عليه مشقة غير محتملة يخشى منها الضرر، أو حدوث مرض فله الفطر وتأخير الصيام إلى زمن يقصر فيه النهار. انتهى
Kesimpulan dari apa yang telah lalu: Bahwa barangsiapa yang berada di negeri yang memiliki siang dan malam yang bergantian dalam dua puluh empat jam, maka ia wajib berpuasa di siang hari meskipun panjang, kecuali jika hal itu sangat memberatkannya dengan kesulitan yang tidak tertanggung sehingga dikhawatirkan timbul bahaya atau penyakit, maka ia boleh berbuka dan menunda puasanya hingga waktu di mana siang hari menjadi pendek. (Selesai).
وبجميع ما تقدم يتبين لك أن الواجب على هذه الجالية هو فعل الصلوات في أوقاتها، وكذا يلزمهم الصيام من طلوع الفجر إلى غروب الشمس، فإن شق عليهم الصوم بحيث كانوا يخشون الضرر فإن لهم الفطر ويقضون الصوم في الأيام القصيرة،
Berdasarkan seluruh penjelasan di atas, jelaslah bagi Anda bahwa kewajiban bagi komunitas ini adalah melaksanakan shalat pada waktunya, demikian pula mereka wajib berpuasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Jika puasa tersebut memberatkan mereka hingga mereka khawatir akan timbul bahaya, maka mereka diperbolehkan berbuka dan mengqadha puasa tersebut pada hari-hari yang pendek.
وأنهم لا ينتقلون إلى التقدير إلا إذا لم تتمايز الأوقات وحينئذ يقدرون الأوقات بحسب أقرب البلاد التي تتمايز فيها الأوقات إليهم على الراجح. والله أعلم.
Dan mereka tidak beralih kepada metode perkiraan (taqdir) kecuali jika waktu-waktu tersebut tidak lagi dapat dibedakan, yang mana dalam kondisi tersebut mereka memperkirakan waktu berdasarkan negeri terdekat yang waktu-waktunya dapat dibedakan menurut pendapat yang kuat. Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply