كيف يحسب وقت العشاء والفجر في البلاد طويلة النهار قصيرة الليل
Cara Menghitung Waktu Isya dan Fajar di Negeri dengan Siang yang Panjang dan Malam yang Singkat
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Cara Menghitung Waktu Isya dan Fajar di Negeri dengan Siang yang Panjang dan Malam yang Singkat ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
أنا في مدينة إدمنتون بكندا، عندنا في شهر يونيو وأيام من مايو ويوليو يطول النهار جدا، وبعد غروب الشمس يغيب الشفق الأحمر ويبقى ضوء أبيض في السماء، وبذلك لا تكون هناك علامة على طلوع الفجر، لأن الضوء لا يذهب أصلا ليطلع،
Saya berada di kota Edmonton, Kanada. Pada bulan Juni serta beberapa hari di bulan Mei dan Juli, siang hari menjadi sangat panjang. Setelah matahari terbenam, mega merah (syafaq ahmar) menghilang namun cahaya putih tetap tertinggal di langit. Dengan demikian, tidak ada tanda bagi terbitnya fajar, karena cahaya tersebut tidak benar-benar hilang untuk kemudian terbit kembali.
وفي بعض الأيام بعد غياب الشفق الأحمر تبقى كدرة صفراء إلى بنية في السماء مع الضوء الأبيض،
Pada beberapa hari, setelah mega merah hilang, muncul kekeruhan berwarna kuning hingga kecokelatan di langit bersama cahaya putih tersebut.
والسؤال هو: عند انعدام علامة الفجر، فهل نقدر الفجر والعشاء؟ أم نقدر الفجر فقط ونصلي العشاء وقت علامته؟ وكيف يكون التقدير في أي من الحالتين إذا قسنا على أقرب مدينة تتمايز فيها العلامات؟ وهل هناك طرق مختلفة للتقدير محل خلاف سائغ؟
Pertanyaannya adalah: Ketika tanda fajar tidak ada, apakah kami memperkirakan (taqdir) waktu Fajar dan Isya? Ataukah kami memperkirakan Fajar saja dan shalat Isya pada saat muncul tandanya? Bagaimana cara melakukan perkiraan tersebut jika kami mengukurnya berdasarkan kota terdekat yang tanda-tandanya dapat dibedakan? Apakah ada metode perkiraan yang berbeda yang menjadi objek perbedaan pendapat yang diperbolehkan?
وإذا كنا نقيس بالنسب كأن نعرف مثلا أن العشاء في البلدة القريبة يدخل وقته نصف الليل فنجعله نصف الليل عندنا أيضا، أقول في هذه الحالة كيف نحسب الليل أصلا وليس عندنا علامة على الفجر؟ وجزاكم الله خيرا وغفر لنا ولكم.
Dan jika kami mengukur menggunakan rasio/persentase, misalnya kami mengetahui bahwa waktu Isya di kota terdekat masuk pada tengah malam lalu kami menjadikannya tengah malam juga di tempat kami; pertanyaannya, dalam kondisi ini bagaimana kami menghitung (durasi) malam sementara kami tidak memiliki tanda bagi waktu fajar? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan dan mengampuni kami serta Anda.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:
فوقت العشاء، طالما أن الشفق الأحمر ـ وهو وقت دخول العشاء عند مالك، والشافعي، وأحمد، وصاحبي أبي حنيفة ـ يشاهد، فالواجب اعتماده، ففي مسند أحمد وسنن الترمذي عن أبي هريرة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم:
Mengenai waktu Isya, selama mega merah (syafaq ahmar) —yang merupakan tanda masuknya waktu Isya menurut Malik, Syafi’i, Ahmad, dan dua sahabat Abu Hanifah— masih terlihat, maka wajib menjadikannya sebagai patokan. Dalam Musnad Ahmad dan Sunan At-Tirmidzi, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
وَإِنَّ أَوَّلَ وَقْتِ العِشَاءِ الآخِرَةِ حِينَ يَغِيبُ الأُفُقُ، وَإِنَّ آخِرَ وَقْتِهَا حِينَ يَنْتَصِفُ اللَّيْلُ. ولا يجوز العدول إلى التقدير.
“Dan sesungguhnya awal waktu Isya adalah ketika ufuk (mega merah) menghilang, dan akhir waktunya adalah hingga tengah malam.” Maka tidak diperbolehkan beralih menggunakan perkiraan (taqdir).
وإنما الذي يُقدر له الفجر، وقد سئل الشيخ محمد بن إبراهيم ـ رحمه الله ـ ما نصه:
Hanyalah waktu Fajar yang diperkirakan. Syekh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah pernah ditanya sebagai berikut:
محل إقامتي في شمال كندا، والحمد لله عندنا جامع، ومواظبين على فرائض الله وسنة رسوله، والآن أطلب الإفادة عن صيام شهر رمضان المبارك، لأن رمضان القادم علينا تكون الأيام عندنا طويلة إلى حد الغاية، لأنه تشرق علينا الشمس 20 ساعة من 24 في النهار والليل، والقرآن يقول: كلوا واشربوا حتى يتبين لكم الخيط الأبيض من الخيط الأسود من الفجر الأسود من الفجر ـ لكن الخيط الأبيض لم يزل، بل إنه يبقى إلى جهة الشمال، والشمس تغيب من الشمال وتطلع من الشمال، وتغيب عنا 4 ساعات لا غير، ولكن يبقى بهجة الضوء في نصف الليل ـ يعني ضوء قليل، ونطلب الإفادة كيف يكون صيامنا؟
“Tempat tinggal saya berada di utara Kanada, alhamdulillah kami memiliki masjid dan kami menjaga kewajiban-kewajiban dari Allah serta sunnah Rasul-Nya. Sekarang saya memohon penjelasan mengenai puasa bulan Ramadan, karena Ramadan yang akan datang waktu siangnya sangat panjang bagi kami; matahari menyinari kami selama 20 jam dari 24 jam sehari semalam. Al-Qur’an menyatakan: ‘Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam yaitu fajar’ —akan tetapi benang putih tersebut tidak pernah hilang, bahkan tetap berada di arah utara. Matahari terbenam dari utara dan terbit dari utara, ia menghilang dari kami hanya selama 4 jam saja, namun sisa cahaya tetap ada pada tengah malam —maksudnya cahaya yang sedikit— kami mohon penjelasan bagaimana puasa kami?”
فأجاب:
Beliau menjawab :
إن على أهل تلك الجهة أن يقدروا حصة الفجر تقديراً، أخذاً من حديث الدجال: أن أول أيامه كسنة، فسئل عن الصلاة فأجاب النبي صلى الله عليه وسلم أقدروا لها قدرها، قلنا يارسول الله فذاك اليوم الذي كسنة أتكفينا فيه صلاة يوم؟ قال: لا، اقدروا له ـ رواه مسلم في صحيحه،
“Wajib bagi penduduk wilayah tersebut untuk memperkirakan porsi waktu Fajar, dengan mengambil dalil dari hadits Dajjal: Bahwa hari-hari pertamanya seperti setahun, lalu beliau ditanya tentang shalat maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Perkirakanlah kadarnya.’ Kami bertanya: ‘Wahai Rasulullah, hari yang seperti setahun itu apakah cukup bagi kami shalat satu hari saja?’ Beliau bersabda: ‘Tidak, perkirakanlah kadarnya’ (Hadits Riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya).
فقياساً على هذا تقدر حصة الفجر آخر الليل، وحصة العشاء أول الليل تقديراً فتجعل نصف ساعة قبل طلوع الشمس هي حصة الفجر التي يجب الإمساك عندها أي قبل طلوع الشمس بنصف ساعة يحرم الأكل والشرب على الصائم ـ والله أعلم ـ
Maka berdasarkan kias (analogi) terhadap hal ini, diperkirakanlah porsi Fajar pada akhir malam, dan porsi Isya pada awal malam. Maka dijadikanlah waktu setengah jam sebelum matahari terbit sebagai porsi waktu Fajar yang wajib digunakan untuk mulai menahan diri (imsak), artinya setengah jam sebelum matahari terbit diharamkan makan dan minum bagi orang yang berpuasa —Wallahu a’lam—.
وقد قال الفقهاء بنحو ذلك في البلاد القطبية التي يكون ليلها ونهارها شهوراً، قال الفقهاء: أنهم يقدرون أوقات الصلاة والصيام تقديراً، والله أعلم، قال ذلك علماء مكة المكرمة. انتهى.
Para fukaha telah berpendapat serupa mengenai negeri-negeri kutub yang siang dan malamnya berlangsung selama berbulan-bulan; mereka berkata bahwa waktu shalat dan puasa di sana dilakukan dengan perkiraan (taqdir), Wallahu a’lam. Hal ini dinyatakan oleh para ulama Makkah Al-Mukarramah.” (Selesai).
وأما اختلاف طرق التقدير: فيقول الشيخ ابن عثيمين ـ رحمه الله ـ في رسالة مواقيت الصلاة: أما إذا كان المكان لا يتخلله الليل والنهار في أربع وعشرين ساعة طيلة العام في الفصول كلها فإنه يحدد لأوقات الصلاة بقدرها،
Adapun mengenai perbedaan metode perkiraan: Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata dalam risalah “Mawaqit al-Shalah”: “Adapun jika suatu tempat tidak memiliki pergantian malam dan siang dalam waktu dua puluh empat jam sepanjang tahun pada semua musim, maka waktu-waktu shalat ditentukan dengan memperkirakan kadarnya.
لما رواه مسلم من حديث النواس بن سمعان ـ رضي الله عنه ـ أن النبي صلى الله عليه وسلم ذكر الدجال الذي يكون في آخر الزمان فسألوه عن لبثه في الأرض، فقال: أربعون يوماً، يوم كسنة، ويوم كشهر، ويوم كجمعة، وسائر أيامه كأيامكم قالوا: يا رسول الله فذلك اليوم كسنة أتكفينا فيه صلاة يوم؟
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang Dajjal yang akan muncul di akhir zaman. Para sahabat bertanya tentang lamanya ia tinggal di bumi, beliau menjawab: ‘Empat puluh hari; sehari seperti setahun, sehari seperti sebulan, sehari seperti sepekan, dan hari-hari lainnya seperti hari-hari kalian.’ Mereka bertanya: ‘Wahai Rasulullah, hari yang seperti setahun itu apakah cukup bagi kami shalat satu hari saja?’
قال:
Beliau bersabda:
لا، اقدروا له قدره،
‘Tidak, perkirakanlah kadarnya’.”
فإذا ثبت أن المكان الذي لا يتخلله الليل والنهار يقدر له قدره فماذا نقدره؟ يري بعض العلماء، أنه يقدر بالزمن المعتدل، فيقدر الليل باثنتي عشرة ساعة وكذلك النهار، لأنه لما تعذر اعتبار هذا المكان بنفسه اعتبر بالمكان المتوسط، كالمستحاضة التي ليس لها عادة ولا تمييز،
“Jika telah tetap bahwa tempat yang tidak memiliki pergantian malam dan siang itu harus diperkirakan kadarnya, lantas bagaimana cara kita memperkirakannya? Sebagian ulama berpendapat bahwa waktu tersebut diperkirakan dengan waktu yang moderat (normal), yaitu malam diperkirakan dua belas jam dan demikian pula siang hari. Karena ketika tempat tersebut sulit untuk dijadikan patokan bagi dirinya sendiri, maka ia disamakan dengan tempat yang moderat; seperti wanita istihadhah yang tidak memiliki siklus haid tetap maupun pembeda (darah).
ويرى آخرون أنه يقدر بأأقرب البلاد إلى هذا المكان مما يحدث فيه ليل ونهار في أثناء العام، لأنه لما تعذر اعتباره بنفسه اعتبر بأقرب الأماكن شبهاً به وهو أقرب البلاد إليه التي يتخللها الليل والنهار في أربع وعشرين ساعة وهذا القول أرجح، لأنه أقوى تعليلاً وأقرب إلى الواقع، والله أعلم.
Sedangkan ulama lainnya berpendapat bahwa waktu diperkirakan berdasarkan negeri terdekat dengan tempat tersebut yang mengalami pergantian malam dan siang sepanjang tahun. Karena ketika sulit menjadikannya patokan bagi diri sendiri, maka ia disamakan dengan tempat yang paling mirip dengannya, yaitu negeri terdekat yang memiliki pergantian malam dan siang dalam waktu dua puluh empat jam. Pendapat inilah yang lebih kuat (rajih), karena memiliki argumentasi yang lebih kokoh dan lebih mendekati kenyataan, Wallahu a’lam.”
وهذا وإن كان في بالبلاد التي يتصل فيها النهار أو الليل، فإنه مفيد كذلك في مسألتك، فيكون التقدير بأقرب بلد، كما يمكن الاعتماد على التقاويم الموثوق بها، وراجع الفتوى الأخرى هنا
Penjelasan ini, meskipun berkaitan dengan negeri-negeri yang siang atau malamnya bersambung (tidak bergantian), namun sangat bermanfaat juga bagi permasalahan Anda. Maka perkiraannya adalah berdasarkan negeri terdekat, sebagaimana diperbolehkan juga bersandar pada kalender-kalender yang terpercaya. Silakan rujuk fatwa lain disini :
وأما قولك: كيف نحسب الليل، وليس عندنا علامة الفجر، فيمكن أن تحسب من المغرب إلى الشروق، في البلدين، ثم تحسب نسبة حصة الفجر ـ من الفجر إلى الشروق ـ في البلد المعلومة، وتقيس بلدك بمثلها،
Adapun perkataan Anda: “Bagaimana kami menghitung malam sementara kami tidak memiliki tanda fajar?”, maka Anda dapat menghitung durasi dari Maghrib hingga terbit matahari (syuruq) di kedua negeri tersebut, kemudian hitunglah rasio porsi waktu Fajar —yaitu dari Fajar hingga terbit matahari— di negeri yang sudah diketahui waktunya, lalu kias-kan (analogikan) negeri Anda dengan rasio yang sama.
مثال: أقرب بلد: المغرب ٦م الفجر 5ص، الشروق ٦ص :إذن نسبة وقت الفجر =١ـ ١٢ كندا: المغرب ٥م ، الفجر ؟ الشروق 5ص: إذن حصة الفجر إلى الشروق=١ـ ١٢ *١٢ـ ما بين العشاء إلى الفجرـ1إذن حصة الفجر ساعة واحدة ، إذن ، أول وقت الفجر الساعة ٤ص.
Contoh: Di negeri terdekat: Maghrib pukul 18.00, Fajar pukul 05.00, terbit matahari pukul 06.00. Maka rasio waktu Fajarnya adalah 1/12. Di Kanada: Maghrib pukul 17.00, Fajar (?), terbit matahari pukul 05.00. Maka porsi Fajar hingga terbit matahari adalah: 1/12 dikali durasi malam (12 jam) = 1 jam. Maka porsi Fajarnya adalah satu jam, yang berarti awal waktu Fajar adalah pukul 04.00.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply