حكم الجمع بين نية القضاء وصيام ست من شوال
Hukum Menggabungkan Niat Qadha dan Puasa Enam Hari Syawal
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Hukum Menggabungkan Niat Qadha dan Puasa Enam Hari Syawal ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
رجل عليه صيام دين هل يجوز أن يصوم هذا الدين مع صيام تطوع ؟
Seorang laki-laki yang memiliki hutang puasa, apakah boleh baginya berpuasa untuk membayar hutang tersebut bersamaan dengan puasa sunnah (tathawwu’)?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du :
فإن من عليه صيام واجب من قضاء رمضان، أو من كفارة، أو نحو ذلك، فلا يصح له أن يجمعه مع صوم التطوع بنية واحدة،
Sesungguhnya barangsiapa yang memiliki kewajiban puasa baik qadha Ramadhan, kaffarah, atau semisalnya, maka tidak sah baginya untuk menggabungkannya dengan puasa sunnah dalam satu niat.
لأن كلاً من الصوم الواجب وصوم التطوع عبادة مقصودة مستقلة عن الأخرى، ولا تندرج تحتها، فلا يصح أن يجمع بينهما بنية واحدة، وهذه المسألة ـ أعني الجمع بين عبادتين في نية واحدة ـ هي المعروفة عند الفقهاء بمسألة: التشريك.
Hal ini dikarenakan masing-masing dari puasa wajib dan puasa sunnah merupakan ibadah yang dimaksudkan secara mandiri (maqsudhah) dan terpisah satu sama lain, serta tidak bisa saling mencakup satu di bawah yang lainnya. Maka tidak sah menggabungkan keduanya dalam satu niat. Masalah ini —yakni menggabungkan dua ibadah dalam satu niat— dikenal di kalangan fukaha sebagai masalah: Tasyrik (Pensyarikatan niat).
وبيان حكمها بالتفصيل أنه إذا كان ذلك الجمع في الوسائل، أو مما يتداخل صح التشريك بينهما، كما لو اغتسل الجنب يوم الجمعة للجمعة ولرفع الجنابة، فإن جنابته ترتفع، ويحصل له ثواب غسل الجمعة.
Penjelasan hukumnya secara terperinci adalah jika penggabungan tersebut terjadi pada wasilah (sarana), atau pada hal-hal yang saling tumpang tindih (tadakhul), maka tasyrik di antara keduanya dianggap sah. Contohnya seperti orang yang junub melakukan mandi pada hari Jumat dengan niat mandi Jumat sekaligus niat mengangkat janabah; maka janabahnya terangkat dan ia mendapatkan pahala mandi Jumat.
وإن كانت إحدى العبادتين غير مقصودة، والأخرى مقصودة بذاتها صح الجمع، ولا يقدح ذلك في العبادة كتحية المسجد مع فرض أو سنة أخرى، فتحية المسجد غير مقصودة بذاتها، إذ المقصود هو شغل المكان بالصلاة، وقد حصل
Jika salah satu dari dua ibadah tersebut bukan merupakan ibadah yang menjadi tujuan utama (ghairu maksudah), sedangkan ibadah lainnya adalah ibadah yang memang menjadi tujuan utama (maksudah bidzatiha), maka penggabungan niat tersebut sah dan tidak merusak ibadah tersebut. Contohnya seperti shalat Tahiyatul Masjid bersamaan dengan shalat fardhu atau shalat sunnah lainnya. Shalat Tahiyatul Masjid bukanlah tujuan utama dari segi zatnya, karena maksud utamanya adalah mengisi tempat tersebut dengan shalat, dan hal itu telah tercapai.
وأما الجمع بين عبادتين مقصودتين بذاتهما كمسألتنا هذه فلا يصح، لأن كل عبادة مستقلة عن الأخرى، مقصودة بذاتها لا تندرج تحت العبادة الأخرى.
Adapun menggabungkan dua ibadah yang keduanya merupakan tujuan utama secara zatnya —seperti masalah kita ini— maka hal itu tidak sah. Karena setiap ibadah berdiri sendiri, menjadi tujuan utama masing-masing, dan tidak bisa dimasukkan ke bawah ibadah lainnya.
وفي حالة ما إذا وقع هذا الجمع والتشريك بين هاتين العبادتين فهل يقع قضاء أم نفلا؟ أم لا يقع عن واحد منهما؟ فقيل: تصح قضاء. وقيل: نفلاً. وقيل: لا تقع عن واحد منهما. ولذا فإنا نقول للسائل لابد من تعيين نية الفرض وقصرها عليه، حتى تبرأ الذمة. فهو الأحوط والأولى، فالذمة لا تبرأ إلا بمحقق.
Dalam kondisi jika penggabungan dan tasyrik ini tetap dilakukan antara dua ibadah ini, apakah ia jatuh sebagai qadha atau sunnah? Ataukah tidak dianggap untuk keduanya? Ada pendapat yang menyatakan sah sebagai qadha. Ada pula yang menyatakan sebagai sunnah. Dan ada yang menyatakan tidak dianggap untuk satu pun dari keduanya. Oleh karena itu, kami sampaikan kepada penanya bahwa harus menentukan niat fardhu dan membatasinya pada niat tersebut agar tanggung jawab (dzimmah) terlepas. Itulah yang lebih berhati-hati (ahwath) dan lebih utama, karena tanggung jawab tidaklah terlepas kecuali dengan sesuatu yang meyakinkan.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply