أجر من صام رمضان 29 يوما وأتبعه ستا من شوال
Pahala Orang yang Berpuasa Ramadhan 29 Hari dan Mengikutinya dengan Enam Hari Syawal
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Pahala Orang yang Berpuasa Ramadhan 29 Hari dan Mengikutinya dengan Enam Hari Syawal ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
بالنسبة لمن صام 29 يوما في رمضان، هل تكفي 6 أيام من شوال ليدرك معنى الحديث، من صام رمضان……. وأتبعه ستا من شوال؟
Bagi orang yang berpuasa 29 hari di bulan Ramadhan, apakah cukup baginya berpuasa 6 hari di bulan Syawal untuk mendapatkan maksud hadits “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan… kemudian mengikutinya dengan enam hari dari bulan Syawal”?
ماذا بالنسبة لمن صام 29 يوما، وهو متأكد أن الدولة أخطأت في مراقبة الهلال، يعني رمضان 30 يوما؟
Bagaimana pula bagi orang yang berpuasa 29 hari, namun ia yakin bahwa negara telah keliru dalam memantau hilal (yang mana seharusnya Ramadhan berjumlah 30 hari)?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:
فقد جاء في الصحيحين وغيرهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: الشهر هكذا وهكذا. قال البخاري في صحيحه: يعني مرة تسعة وعشرين، ومرة ثلاثين. وقال صلى الله عليه وسلم:
Telah disebutkan dalam Shahihain dan kitab lainnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bulan itu begini dan begini.” Al-Bukhari dalam Shahihnya menjelaskan: “Maksudnya terkadang dua puluh sembilan hari, dan terkadang tiga puluh hari.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :
شَهْرَا عِيدٍ لَا يَنْقُصَانِ، رَمَضَانُ، وَذُو الْحِجَّةِ. رواه مسلم وغيره.
“Dua bulan hari raya tidaklah berkurang; yaitu Ramadhan dan Dzulhijjah.” (Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya).
قال الإمام النووي:
Imam An-Nawawi berkata :
الأصح أن معناه لا ينقص أجرهما، والثواب المرتب عليهما وإن نقص عددهما، … انتهى.
“Yang lebih tepat adalah maknanya tidak berkurang pahala keduanya serta ganjaran yang ditetapkan atas keduanya, meskipun jumlah harinya berkurang (29 hari).” (Selesai).
ولذلك فإن رمضان إذا قصر وكان تسعة وعشرين يوما؛ فإن من صامه يعتبر صام رمضان كاملا؛ فإذا صام بعده ستا من شوال؛ فقد حقق ما جاء في الحديث المشار إليه.
Oleh karena itu, jika Ramadhan pendek dan berjumlah dua puluh sembilan hari, maka orang yang berpuasa di dalamnya dianggap telah berpuasa Ramadhan secara sempurna. Jika ia berpuasa enam hari Syawal setelahnya, maka ia telah mewujudkan apa yang disebutkan dalam hadits yang dimaksud.
وبالنسبة لمن صام تسعة وعشرين يوما بناء على ثبوت الشهر عند المسلمين في بلده؛ فلا شيء عليه وفطره صحيح، فقد قال صلى الله عليه وسلم:
Mengenai orang yang berpuasa dua puluh sembilan hari berdasarkan ketetapan masuknya bulan di kalangan kaum Muslimin di negerinya, maka tidak ada beban dosa baginya dan berbukanya (Idul Fitri) adalah sah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ.
“Puasa adalah hari di mana kalian (secara kolektif) berpuasa, Idul Fitri adalah hari di mana kalian berbuka, dan Idul Adha adalah hari di mana kalian berkurban.”
وفي لفظ:
Dalam lafaz lain :
الْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ، وَالْأَضْحَى يَوْمَ يُضَحِّي النَّاسُ. رواه الترمذي
“Idul Fitri adalah hari di mana orang-orang berbuka, dan Idul Adha adalah hari di mana orang-orang berkurban.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi).
قال ابن قدامة في المغني:
Ibnu Qudamah berkata dalam Al-Mughni :
قِيلَ مَعْنَاهُ أَنَّ الصَّوْمَ وَالْفِطْرَ مَعَ الْجَمَاعَةِ، وَمُعْظَمِ النَّاسِ.. وقال: وَرُوِيَ عَنْهُ -الإمام أحمد- أَنَّ النَّاسَ تَبَعٌ لِلْإِمَامِ، فَإِنْ صَامَ صَامُوا، وَإِنْ أَفْطَرَ أَفْطَرُوا. اهـ.
“Dikatakan maknanya adalah bahwa puasa dan berbuka dilakukan bersama jamaah dan mayoritas manusia…” Beliau juga berkata: “Diriwayatkan darinya —Imam Ahmad— bahwa manusia mengikuti imam; jika ia berpuasa maka mereka berpuasa, dan jika ia berbuka maka mereka berbuka.” (Selesai).
فالأصل والمشروع للمسلم أن يفطر ويصوم مع جماعة المسلمين أينما كان، لكن من تيقن ثبوت الشهر، أو عدم ثبوته، عليه أن يعمل بما تيقن؛ فيصوم أو يفطر سرا؛
Maka prinsip dasarnya dan yang disyariatkan bagi seorang Muslim adalah berbuka dan berpuasa bersama jamaah kaum Muslimin di mana pun ia berada. Namun, barangsiapa yang benar-benar yakin akan tetapnya bulan atau tidaknya, maka ia wajib mengamalkan apa yang ia yakini; ia berpuasa atau berbuka secara sembunyi-sembunyi.
فقد نص أهل العلم على أن من رأى هلال رمضان وحده، أو لم تقبل شهادته، لزمه الصوم وجوبا عند الجمهور؛ كما جاء في الموسوعة الفقهية. وعلى ذلك؛ فإن على من تيقن عدم صحة رؤية شوال، أن يقضي اليوم الذي تأكد أنه من رمضان.
Para ahli ilmu telah menyatakan bahwa barangsiapa melihat hilal Ramadhan sendirian, atau kesaksiannya tidak diterima, maka ia wajib berpuasa menurut mayoritas ulama; sebagaimana disebutkan dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah. Atas dasar itu, bagi siapa saja yang yakin bahwa rukyat (penglihatan) Syawal tidak benar, ia wajib mengqadha hari yang ia yakini sebagai bagian dari Ramadhan.
وإذا صام ستا من شوال قبل قضاء ما عليه من رمضان، فقد حقق السنة، لكنه لم يحصل على الأجر المترتب على صيامها بعد إتمام رمضان -على قول بعض أهل العلم-؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال:
Apabila ia berpuasa enam hari Syawal sebelum mengqadha kewajiban Ramadhan-nya, maka ia telah melaksanakan sunnah, namun ia tidak mendapatkan pahala yang ditetapkan atas berpuasa setelah menyempurnakan Ramadhan —menurut pendapat sebagian ahli ilmu—. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
من صام رمضان، ثم أتبعه ستاً من شوال.. الحديث،
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan enam hari dari Syawal…” (Al-Hadits).
ومن فاته شيء من رمضان، لم يكن ممن صام رمضان كاملاً، وقد اختلف أهل العلم في هذه المسألة -كما أشرنا- وانظر الفتويين التالية هنا.
Dan barangsiapa yang terlewat sebagian dari Ramadhan, maka ia tidak termasuk orang yang berpuasa Ramadhan secara penuh. Para ahli ilmu telah berselisih pendapat dalam masalah ini sebagaimana telah kami isyaratkan. ٍSilahkan lihat fatwa lain disini :
- Memulai Puasa Enam Hari Syawal atau Qadha Ramadhan
- Mendapatkan Pokok Sunnah Puasa Tanpa Pahala Tambahan (Pahala Puasa Setahun Penuh)
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply