موقف عمال البناء من صيام رمضان وقضائه
Sikap Pekerja Bangunan Terhadap Puasa Ramadhan dan Meng-qadha-nya
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Sikap Pekerja Bangunan Terhadap Puasa Ramadhan dan Meng-qadha-nya ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
يعمل طيلة النهار تحت أشعة الشمس كعامل بناء حيث يبدأ من الصباح الباكر وحتى المساء. هل يحق له رخصة الافطار والكفارة شرعا؟؟ عملا بالآية الكريمة: وعلى الذين يطيقونه …..فهل هو من هؤلاء؟؟
Seseorang bekerja sepanjang hari di bawah sinar matahari sebagai pekerja bangunan, di mana ia memulainya dari pagi buta hingga sore hari. Apakah ia berhak mendapatkan rukhsah (keringanan) untuk berbuka dan membayar kaffarah secara syariat? Hal ini merujuk pada ayat mulia: “Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya…” (Al-Baqarah: 184). Apakah dia termasuk golongan tersebut?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:
فقد بين العلماء حكم أصحاب الأعمال الشاقة وأن الأصل هو وجوب الصوم عليهم، فإن استطاعوا أن يجعلوا عملهم بالليل فعلوا وإلا فليبحثوا عن عمل لا يشق عليهم الصوم معه،
Para ulama telah menjelaskan hukum bagi para pekerja berat, bahwa hukum asalnya adalah wajib bagi mereka untuk berpuasa. Jika mereka mampu mengalihkan waktu kerjanya ke malam hari, maka hendaknya mereka lakukan. Jika tidak, maka hendaknya mencari pekerjaan lain yang tidak memberatkan puasa bagi mereka.
فإن لم يكن لهم بد من هذا العمل فالواجب عليهم أن يبيتوا نية الصوم فلا يفطروا فإن تضرروا بالصوم فلهم أن يفطروا بقدر ما يدفعون به الضرر عن أنفسهم، ثم عليهم قضاء ما يفطرونه من الأيام عند قدرتهم على ذلك.
Namun, jika tidak ada pilihan lain selain pekerjaan tersebut, maka wajib bagi mereka untuk menetapkan niat puasa di malam hari dan tidak berbuka sejak awal. Jika di tengah hari mereka merasa mudarat (bahaya) karena puasa, maka mereka diperbolehkan berbuka sekadar untuk menghilangkan mudarat tersebut, kemudian mereka wajib meng-qadha hari-hari yang mereka tinggalkan tersebut saat mereka mampu melakukannya.
جاء في فتاوى اللجنة الدائمة:
Disebutkan dalam Fatwa Lajnah Da’imah :
من المعلوم من دين الإسلام بالضرورة أن صيام شهر رمضان فرض على كل مكلف وركن من أركان الإسلام ، فعلى كل مكلف أن يحرص على صيامه تحقيقا لما فرض الله عليه ، رجاء ثوابه وخوفا من عقابه دون أن ينسى نصيبه من الدنيا ، ودون أن يؤثر دنياه على أخراه ،
“Telah diketahui secara pasti dari agama Islam bahwa puasa bulan Ramadhan adalah fardu bagi setiap mukallaf dan merupakan salah satu rukun Islam. Maka wajib bagi setiap mukallaf untuk bersungguh-sungguh dalam menjalankannya sebagai perwujudan dari kewajiban yang Allah tetapkan, dengan mengharap pahala-Nya dan takut akan siksa-Nya, tanpa melupakan bagian dunianya namun juga tidak mengutamakan dunianya di atas akhiratnya.
وإذا تعارض أداء ما فرضه الله عليه من العبادات مع عمله لدنياه وجب عليه أن ينسق بينهما حتى يتمكن من القيام بهما جميعا ، ففي المثال المذكور في السؤال يجعل الليل وقت عمله لدنياه، فإن لم يتيسر ذلك أخذ إجازة من عمله شهر رمضان ولو بدون مرتب ، فإن لم يتيسر ذلك بحث عن عمل آخر يمكنه فيه الجمع بين أداء الواجبين ولا يؤثر جانب دنياه على جانب آخرته ،
Jika pelaksanaan ibadah wajib bertentangan dengan pekerjaan dunianya, maka wajib baginya untuk menyelaraskan keduanya hingga ia mampu melaksanakan keduanya. Dalam contoh yang disebutkan pada pertanyaan, ia hendaknya menjadikan malam hari sebagai waktu bekerja. Jika tidak memungkinkan, ia mengambil cuti di bulan Ramadhan meskipun tanpa gaji. Jika itu pun tidak memungkinkan, ia mencari pekerjaan lain yang memungkinkannya menggabungkan dua kewajiban tersebut dan tidak mengutamakan sisi dunia di atas akhiratnya.”
فالعمل كثير ، وطرق كسب المال ليست قاصرة على مثل ذلك النوع من الأعمال الشاقة ، ولن يعدم المسلم وجها من وجوه الكسب المباح الذي يمكنه معه القيام بما فرضه الله عليه من العبادة بإذن الله،
“Sebab pekerjaan itu banyak, dan cara mencari nafkah tidak terbatas pada jenis pekerjaan berat seperti itu saja. Seorang Muslim insya Allah tidak akan kehabisan cara untuk mencari nafkah yang mubah yang memungkinkannya melaksanakan ibadah yang diwajibkan Allah.
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهو حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا . {الطلاق:٢، ٣}.
‘Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.’ (QS. At-Thalaq: 2-3).
فإذا لم يتيسر له شيء من ذلك كله واضطر إلى مثل ما ذكر في السؤال من العمل الشاق صام حتى يحس بمبادئ الحرج فيتناول من الطعام والشراب ما يحول دون وقوعه في الحرج، ثم يمسك، وعليه القضاء في أيام يسهل عليه فيها الصيام. انتهى.
Jika semua cara tersebut tidak memungkinkan baginya dan ia terpaksa melakukan pekerjaan berat tersebut, maka ia tetap berpuasa sampai merasakan tanda-tanda kesulitan yang membahayakan (al-haraj), lalu ia memakan atau meminum sesuatu yang dapat mencegahnya dari bahaya tersebut, kemudian menahan diri kembali (imsak), dan ia wajib meng-qadha-nya pada hari-hari lain di mana puasa terasa ringan baginya.” (Selesai).
وفي فتوى للشيخين عبد الله بن حميد وعبد العزيز بن باز رحمهما الله ما نصه:
Dalam fatwa Syaikh Abdullah bin Humaid dan Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahumallah disebutkan:
ونفيدكم أن الأصل وجوب صوم رمضان، وتبييت النية له من جميع المكلفين من المسلمين، وأن يصبحوا صائمين إلا من رخص لهم الشارع بأن يصبحوا مفطرين, وهم المرضى والمسافرون ومن في معناهم،
“Kami informasikan kepada Anda bahwa hukum asalnya adalah wajibnya puasa Ramadhan dan menetapkan niat (tabyitun niyah) bagi seluruh mukallaf dari kalangan Muslimin, dan mereka harus menyambut pagi dalam keadaan berpuasa kecuali mereka yang diberikan rukhsah oleh pembuat syariat untuk tidak berpuasa sejak pagi, yaitu orang sakit, musafir, dan yang semakna dengan mereka.
وأصحاب الأعمال الشاقة داخلون في عموم المكلفين, وليسوا في معنى المرضى والمسافرين، فيجب عليهم تبييت نية صوم رمضان, وأن يصبحوا صائمين، ومن اضطر منهم للفطر أثناء النهار فيجوز له أن يفطر بما يدفع اضطراره، ثم يمسك بقية يومه ويقضيه في الوقت المناسب، ومن لم تحصل له ضرورة وجب عليه الاستمرار في الصيام،
Adapun para pekerja berat termasuk dalam keumuman mukallaf, dan mereka tidak termasuk dalam kategori orang sakit atau musafir. Maka wajib bagi mereka menetapkan niat puasa Ramadhan dan menyambut pagi dalam keadaan berpuasa. Barangsiapa yang terpaksa berbuka di tengah hari, maka diperbolehkan baginya berbuka dengan sesuatu yang dapat menghilangkan keterpaksaannya tersebut, kemudian ia menahan diri di sisa harinya dan meng-qadha-nya di waktu yang sesuai. Dan barangsiapa yang tidak mendapati kondisi darurat, maka wajib baginya melanjutkan puasanya.”
هذا ما تقتضيه الأدلة الشرعية من الكتاب والسنة, وما دل عليه كلام المحققين من أهل العلم من جميع المذاهب. انتهى. وبهذا البيان الواضح تعلم ما يجب على من يعمل في العمل المذكور، وأنه ليس من المعنيين بقوله تعالى:
“Inilah yang ditunjukkan oleh dalil-dalil syariat dari Al-Kitab dan As-Sunnah, serta apa yang ditunjukkan oleh perkataan para peneliti (muhaqqiqin) dari ahli ilmu dari seluruh mazhab.” (Selesai). Dengan penjelasan yang gamblang ini, Anda mengetahui apa yang wajib bagi pekerja tersebut, dan bahwa ia tidak termasuk yang dimaksud dalam firman Allah Ta’ala :
وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين.
“Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.”
فقد قال ابن عباس في تفسيرها:
Ibnu Abbas berkata dalam tafsir ayat tersebut :
كَانَتْ رُخْصَةً لِلشَّيْخِ الْكَبِيرِ وَالْمَرْأَةِ الْكَبِيرَةِ وَهُمَا يُطِيقَانِ الصِّيَامَ أَنْ يُفْطِرَا وَيُطْعِمَا مَكانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا وَالْحُبْلَى وَالْمُرْضِعُ إِذَا خَافَتَا أَفْطَرَتَا وَأَطْعَمَتَا. ذكره أبو داود.
“Dahulu ini adalah keringanan bagi laki-laki tua renta dan wanita tua renta yang berat melaksanakan puasa untuk berbuka dan memberi makan seorang miskin sebagai ganti setiap harinya. Begitu pula wanita hamil dan menyusui jika mereka khawatir (akan keselamatan diri atau bayinya), maka mereka berbuka dan memberi makan (fidyah).” (Disebutkan oleh Abu Dawud).
وعند كثير من العلماء أن هذه الآية منسوخة بقوله تعالى: فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ. ففي صحيح البخاري: قال ابن عمر وسلمة بن الأكوع نسختها:
Menurut banyak ulama, ayat ini telah dinasakh (dihapus hukumnya) oleh firman Allah Ta’ala: “Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” Dalam Shahih Bukhari disebutkan: Ibnu Umar dan Salamah bin Al-Akwa’ berkata bahwa ayat tersebut dinasakh oleh ayat :
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ. {البقرة: ١٨٥}.
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” {QS. Al-Baqarah: 185}.
وعلى كل تقدير فهذه الآية لا يدخل فيها المسؤول عنه.
Dalam segala pertimbangan, ayat ini tidaklah mencakup orang yang ditanyakan dalam masalah ini.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply