حكم تارك الصلاة
Hukum Meninggalkan Shalat
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Hukum Meninggalkan Shalat ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
حكم تارك الصلاة ؟
Apa hukum orang yang meninggalkan shalat?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:
فبالنسبة لمسألة حكم تارك الصلاة، ففيها تفصيل فإن تارك الصلاة على قسمين: الأول: من ترك الصلاة منكراً لوجوبها، فهذا كافر خارج عن دائرة الإسلام يقتل ردة باتفاق العلماء.
Mengenai masalah hukum orang yang meninggalkan shalat, terdapat rincian di dalamnya, karena orang yang meninggalkan shalat terbagi menjadi dua kelompok: Pertama: Orang yang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya. Orang ini adalah kafir, keluar dari lingkaran Islam, dan dijatuhi hukuman mati karena murtad berdasarkan kesepakatan para ulama.
الثاني: من ترك الصلاة تهاوناً وكسلاً، وهذا قد اختلف فيه العلماء على قولين: القول الأول: أنه لا يكفر كفراً مخرجاً عن الإسلام، وهو مذهب أكثر العلماء. القول الثاني: أنه يكفر كفرأ مخرجاً عن الإسلام، وهو المشهور من مذهب الإمام أحمد .
Kedua: Orang yang meninggalkan shalat karena meremehkan dan malas. Dalam hal ini, para ulama berbeda pendapat menjadi dua perkataan: Pendapat pertama: Bahwa ia tidak kafir dengan kekufuran yang mengeluarkan dari Islam; ini adalah mazhab mayoritas ulama. Pendapat kedua: Bahwa ia kafir dengan kekufuran yang mengeluarkan dari Islam; ini adalah pendapat yang masyhur dalam mazhab Imam Ahmad.
من أدلة القول الأول:
Di antara dalil pendapat pertama:
1- قوله تعالى:
1. Firman Allah Ta’ala:
إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكة بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ [النساء:47]،
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” [Al-Nisa: 47].
فعموم الآية دال على أن تارك الصلاة داخل تحت المشيئة.
Keumuman ayat ini menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan shalat masuk dalam kehendak Allah (apakah diampuni atau diadzab).
2- حديث عتبان بن مالك رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال:
2. Hadits Itban bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إن الله حرم على النار من قال لا إله إلا الله، يبتغي بذلك وجه الله.
“Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan Laa ilaha illallah dengan mengharap wajah Allah.”
ومن أدلة القول الثاني:
Di antara dalil pendapat kedua:
1- قوله تعالى:
1. Firman Allah Ta’ala:
فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ [التوبة:11]
“Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.” [Al-Tawbah: 11].
فدلت الآية على أن تارك الصلاة ليس بأخ في الدين فيكون كافراً، وخرجت الزكاة عن هذا الحكم ببعض النصوص.
Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan shalat bukanlah saudara seagama, sehingga ia menjadi kafir (mengenai zakat, ia dikecualikan dari hukum ini oleh beberapa nash lain).
2- الحديث الذي رواه أحمد والترمذي عن بريدة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال:
2. Hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة، فمن تركها فقد كفر .
“Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat; maka barangsiapa yang meninggalkannya, sungguh ia telah kafir.”
والذي يترجح عندنا – والله أعلم- هو أن من ترك الصلاة بالكلية فإنه كافر، لأن هذا هو الذي يصدق عليه أنه تارك للصلاة،
Pendapat yang kuat menurut kami —Wallahu a’lam— adalah bahwa barangsiapa yang meninggalkan shalat secara total, maka ia kafir. Karena orang seperti inilah yang benar-benar disebut sebagai “meninggalkan shalat”.
أما من يصلي أحياناً فلا يكفر؛ وإن كان على خطر عظيم. لحديث عبادة بن الصامت رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال:
Adapun orang yang kadang shalat dan kadang tidak, maka ia tidak kafir, meskipun ia berada dalam bahaya yang sangat besar. Hal ini berdasarkan hadits Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
خمس صلوات كتبهن الله على العباد، من آتى بهن لم يضيع منهن شيئاً استخفافاً بحقهن كان له عند الله عهد أن يدخله الجنة، ومن لم يأت بهن لم يكن له عند الله عهد، إن شاء عذبه وإن شاء أدخله الجنة. رواه مالك وأحمد وأبو داود و النسائي بإسناد صحيح.
“Lima shalat yang telah Allah wajibkan kepada para hamba. Barangsiapa yang melaksanakannya dan tidak menyia-nyiakan sedikit pun darinya karena meremehkan haknya, maka ia memiliki janji di sisi Allah untuk dimasukkan ke dalam surga. Dan barangsiapa yang tidak melaksanakannya, maka ia tidak memiliki janji di sisi Allah; jika Allah berkehendak Dia mengadzabnya, dan jika Dia berkehendak Dia memasukkannya ke dalam surga.” (Diriwayatkan oleh Malik, Ahmad, Abu Dawud, dan An-Nasa’i dengan sanad yang shahih).
وهذا هو اختيار شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله تعالى. والله أعلم.
Dan ini adalah pilihan (pendapat yang dipilih) oleh Syaikhul Islam Ibn Taymiyyah rahimahullahu ta’ala. Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply