Suaminya Tidak Shalat dan Tidak Berpuasa



زوجها لا يصلي ولا يصوم

Suaminya Tidak Shalat dan Tidak Berpuasa

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Suaminya Tidak Shalat dan Tidak Berpuasa ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

فأنا أعيش بفرنسا و متزوجة من رجل مسلم، لكن لا علاقة له بالإسلام، حيث إنه لا يصوم و لا يصلي ويشرب الخمر كذلك، وأنا مسلمة وأقوم بواجباتي الدينية من صلاة و صوم، ولديه أطفال من زوجته الأولى النصرانية، ونفس الشيء لا صيام ولا صلاة، فسؤالي هو: 

Saya tinggal di Prancis dan menikah dengan seorang pria Muslim, namun ia tidak memiliki kaitan dengan Islam; di mana ia tidak berpuasa, tidak shalat, dan juga meminum khamr. Saya sendiri seorang Muslimah dan melaksanakan kewajiban agama saya seperti shalat dan puasa. Ia memiliki anak-anak dari istri pertamanya yang Nasrani, dan mereka pun sama saja; tidak puasa dan tidak shalat. Pertanyaan saya adalah:

1ـ هل الله يبارك لي في هذا الزواج؟ أم أنه غلط في غلط؟ 2-هل في رمضان يصح لي أن أطبخ لهم ونأكل من نفس الأكل على مائدة الإفطار؟ علما أن زوجي يشرب الخمر ـ حتى في رمضان ـ فهل يجوز لي الصيام وأنا معهم؟ 3 – وهل حياتي معه جائزة أم باطلة؟ مع العلم أنه لا يفكر بشيء يخص الإسلام نهائيا، ومع العلم أيضا أن لدي طفل منه. الرجاء الجواب على أسئلتي التي تجعلني في حيرة دائما.

1. Apakah Allah memberkahi saya dalam pernikahan ini? Ataukah ini adalah sebuah kesalahan demi kesalahan? 2. Di bulan Ramadan, apakah sah bagi saya untuk memasakkan untuk mereka dan kami makan dari makanan yang sama di meja makan saat berbuka? Mengingat suami saya minum khamr —bahkan di bulan Ramadan—, apakah boleh bagi saya berpuasa sementara saya bersama mereka? 3. Dan apakah hidup saya bersamanya diperbolehkan ataukah batil? Perlu diketahui bahwa ia sama sekali tidak memikirkan apa pun yang berkaitan dengan Islam, dan perlu diketahui juga bahwa saya memiliki seorang anak darinya. Mohon jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya yang selalu membuat saya bingung ini.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: 

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:

فعليك أن تنصحي لزوجك هذا وتذكريه بأن ما يفعله من ترك الصلاة والصيام وتعاطي الخمر من أكبر الكبائر، بل إن ترك الصلاة بالكلية كفر أكبر مخرج من الملة على الراجح من كلام أهل العلم، وقد بينا ذلك في الفتوى الأخرى هنا

Hendaknya Anda menasihati suami Anda ini dan mengingatkannya bahwa apa yang ia lakukan berupa meninggalkan shalat, puasa, dan mengonsumsi khamr termasuk di antara dosa-dosa besar yang paling besar. Bahkan, meninggalkan shalat secara total merupakan kekufuran besar yang mengeluarkan seseorang dari agama menurut pendapat yang kuat dari perkataan para ahli ilmu, dan kami telah menjelaskan hal tersebut dalam fatwa lain disini :

فإن أصر على ما هو عليه فلا يجوز لك البقاء معه، بل تجب عليك مفارقته، لأنه لا يجوز للمسلمة أن تبقى في عصمة من هدم أهم أركان الإسلام، وحياتها معه على هذه الحال حرام قطعا،

Jika ia bersikeras pada kondisinya tersebut, maka tidak boleh bagi Anda untuk tetap bersamanya, melainkan wajib bagi Anda untuk memisahinya. Karena tidak boleh bagi seorang Muslimah untuk tetap berada dalam ikatan pernikahan dengan orang yang menghancurkan rukun Islam yang paling penting, dan hidup bersamanya dalam kondisi seperti ini adalah haram secara pasti.

وقد سئل الشيخ ابن عثيمين ـ رحمه الله: 

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya:

ما حكم بقاء المرأة المتزوجة من زوج لا يصلي وله أولاد منها ؟ فأجاب: إذا تزوجت امرأة بزوج لا يصلي مع الجماعة ولا في بيته، فإن النكاح ليس بصحيح، لأن تارك الصلاة كافر، كما دل على ذلك الكتاب العزيز والسنة المطهرة وأقوال الصحابة، كما قال عبد الله بن شقيق: كان أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم لا يرون شيئا من الأعمال تركه كفر إلا الصلاة.

“Apa hukum menetapnya seorang wanita yang menikah dengan suami yang tidak shalat sementara ia memiliki anak-anak darinya?” Beliau menjawab: “Jika seorang wanita menikah dengan suami yang tidak shalat baik berjamaah maupun di rumahnya, maka nikahnya tidak sah. Karena orang yang meninggalkan shalat adalah kafir, sebagaimana ditunjukkan oleh Al-Kitab al-Aziz, Sunnah yang suci, dan perkataan para sahabat. Sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Syaqiq: ‘Dahulu para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melihat sesuatu dari amal perbuatan yang jika ditinggalkan merupakan kekafiran kecuali shalat’.”

والكافر لا تحل له المرأة المسلمة، لقوله تعالى: فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنّ {الممتحنة:10}. وإذا حدث له ترك الصلاة بعد عقد النكاح فإن النكاح ينفسخ إلا أن يتوب ويرجع إلى الإسلام. وبعض العلماء يقيد ذلك بانقضاء العدة، فإذا انقضت العدة لم يحل له الرجوع إذا أسلم إلا بعقد جديد.

“Dan orang kafir tidak halal baginya wanita Muslimah, berdasarkan firman-Nya: ‘Maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka benar-benar beriman maka janganlah kamu mengembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada pula halal bagi mereka.’ {Al-Mumtahanah: 10}. Dan jika ia meninggalkan shalat terjadi setelah akad nikah, maka nikahnya ter-fasakh (batal) kecuali jika ia bertaubat dan kembali kepada Islam. Sebagian ulama membatasi hal tersebut hingga berakhirnya masa iddah; jika masa iddah telah habis, maka ia tidak halal kembali kepadanya jika ia masuk Islam kecuali dengan akad yang baru.”

وعلى المرأة أن تفارقه ولا تمكنه من نفسها حتى يتوب ويصلي ولو كان معها أولاد منه، لأن الأولاد في هذه الحال لا حضانة لأبيهم فيهم. انتهى. وقد بينا هذا في الفتوى الأخرى هنا

“Dan wajib bagi wanita tersebut untuk memisahinya dan tidak memberikan dirinya kepadanya sampai ia bertaubat dan shalat, meskipun ia memiliki anak-anak darinya. Karena anak-anak dalam kondisi ini tidak ada hak asuh bagi ayah mereka atas mereka.” (Selesai). Kami telah menjelaskan hal ini dalam fatwa lain disini

وأما بخصوص صيام رمضان فلا يسقط عنك بحال إلا لعذر شرعي من حيض ونحوه، أما مجرد كونك معهم فلا يسقط عنك الصيام، ولكن لا يجوز لك أن تحضري لهم الطعام وقت وجوب الصيام عليهم، فلا تحضري لهم طعام الغداء مثلا، لأن هذا من باب التعاون على الإثم والعدوان، وقد نهى الله عن ذلك بقوله:

Adapun khusus mengenai puasa Ramadan, maka tidak gugur dari Anda dalam kondisi apa pun kecuali karena udzur syar’i seperti haid dan semisalnya. Adapun sekadar keberadaan Anda bersama mereka, maka hal itu tidak menggugurkan kewajiban puasa dari Anda. Akan tetapi, tidak boleh bagi Anda menyiapkan makanan untuk mereka pada waktu mereka wajib berpuasa; maka janganlah Anda menyiapkan makan siang untuk mereka misalnya, karena hal ini termasuk dalam bab tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran. Allah telah melarang hal tersebut dalam firman-Nya:

وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ {المائدة:2}.

“Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” {Al-Ma’idah: 2}.

ونوصيك حال فشلك في إصلاح زوجك أن تبادري إلى مفارقته. 

Dan kami menasihatkan Anda, jika Anda gagal dalam memperbaiki (mengarahkan) suami Anda, agar segera memisahinya.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.