Tidak Boleh Tetap Tinggal Bersama Suami yang Tidak Shalat



لا يجوز لمسلمة البقاء مع زوج تارك للصلاة

Tidak Boleh Bagi Muslimah Tetap Tinggal Bersama Suami yang Meninggalkan Shalat

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Tidak Boleh Bagi Muslimah Tetap Tinggal Bersama Suami yang Meninggalkan Shalat ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

كيف تعامل الزوجة زوجها الذي لا يصلي وقد حثته كثيرا على الصلاة دون جدوى؟ هل معاشرة ذلك الزoj حرام؟ أرجو الإفادة.

Bagaimana seorang istri memperlakukan suaminya yang tidak shalat, padahal ia telah sering mendorongnya untuk shalat namun tidak membuahkan hasil? Apakah berhubungan dengan suami tersebut hukumnya haram? Mohon penjelasannya.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: 

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:

فالصلاة أعظم دعائم الإسلام بعد الشهادتين وأهمها، وهي عنوان صدق الإيمان وأبرز علاماته.

Shalat adalah pilar Islam yang paling agung dan terpenting setelah dua kalimat syahadat. Ia adalah lambang kejujuran iman dan tanda-tandanya yang paling nyata.

ومن تركها منكراً لوجوبها فقد خرج عن ملة الإسلام باتفاق الأمة، لإنكاره ما هو ثابت بالكتاب والسنة، وما عرف من الدين بالضرورة، ومن تركها تهاوناً وكسلاً مع إقراره بوجوبها فقد كفر على الراجح من أقوال أهل العلم، لقول النبي صلى الله عليه وسلم 

Barangsiapa yang meninggalkannya karena mengingkari kewajibannya, maka ia telah keluar dari agama Islam berdasarkan kesepakatan umat, karena pengingkarannya terhadap sesuatu yang telah tetap dalam Al-Kitab dan As-Sunnah serta diketahui sebagai bagian dari agama secara pasti (dharuri). Adapun orang yang meninggalkannya karena meremehkan dan malas, padahal ia mengakui kewajibannya, maka ia telah kafir menurut pendapat yang kuat (rajih) dari perkataan para ahli ilmu. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“بين العبد وبين الكفر ترك الصلاة” وفي رواية “ليس بين العبد وبين الكفر إلا ترك الصلاة” والحديث في السنن وصحيح ابن حبان وغير ذلك.

“Antara seorang hamba dengan kekufuran adalah meninggalkan shalat,” dan dalam riwayat lain: “Tidak ada pembatas antara seorang hamba dengan kekufuran kecuali meninggalkan shalat.” Hadits ini terdapat dalam kitab-kitab Sunan, Shahih Ibnu Hibban, dan selainnya.

ولقوله صلى الله عليه وسلم 

Juga berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر ” كما في المسند وصحيح ابن حبان والسنن. 

“Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkannya sungguh ia telah kafir,” sebagaimana terdapat dalam Al-Musnad, Shahih Ibnu Hibban, dan kitab-kitab Sunan.

وبهذا تعلمين خطورة ما ارتكبه هذا الزوج، وأنه يجب عليك أن تحثيه حثاً جاداً على الإقلاع عن هذا الذنب العظيم، وتبيني له ما لعله يجهله من أن فعله هذا كفر كما تقرر بالأدلة السابقة،

Dengan demikian, Anda mengetahui besarnya bahaya dari apa yang dilakukan oleh suami ini. Wajib bagi Anda untuk mendorongnya dengan sungguh-sungguh agar berhenti dari dosa besar ini, dan menjelaskan kepadanya apa yang mungkin tidak ia ketahui bahwa perbuatannya ini adalah kekufuran sebagaimana ditetapkan oleh dalil-dalil sebelumnya.

وأعلميه أن العصمة بينكما منحلة شرعاً إذا لم يقلع عن هذا الذنب، وذلك لأن المسلمة لا يجوز أن تبقى في عصمة كافر، لقوله تعالى: 

Beritahukan kepadanya bahwa ikatan pernikahan (ishmah) antara Anda berdua terputus secara syariat jika ia tidak berhenti dari dosa ini. Hal itu dikarenakan seorang Muslimah tidak boleh tetap berada dalam ikatan pernikahan dengan seorang kafir, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

(لا هن حل لهم ولا هم يحلون لهن) 

“Mereka (wanita-wanita mukmin) tidak halal bagi mereka (laki-laki kafir) dan mereka tidak halal bagi mereka.”

فإن استجاب لنصحك وفاء إلى رشده فذلك المرجو، وإلا فامنعي نفسك منه، وارفعي أمرك إلى ولي أمرك، فإن نفع ذلك فبها، وإلا فارفعي أمرك إلى المحاكم الشرعية،

Jika ia menerima nasihat Anda dan kembali pada kesadarannya, maka itulah yang diharapkan. Jika tidak, maka tahanlah diri Anda darinya (jangan memberikan pelayanan seksual), dan laporkan urusan Anda kepada wali Anda. Jika hal itu bermanfaat maka itu yang diinginkan, namun jika tidak, maka laporkan urusan Anda ke pengadilan agama.

ولا يجوز لك البقاء معه في حالة إصراره على ترك الصلاة وتضييعه لها، فإن المرء إذا ضيع حق الله تعالى ولم يخش عقابه، فهو لما سوى ذلك أشد تضيعاً. 

Tidak diperbolehkan bagi Anda untuk tetap tinggal bersamanya dalam kondisi ia bersikeras meninggalkan shalat dan menyia-nyiakannya. Karena sesungguhnya seseorang jika telah menyia-nyiakan hak Allah Ta’ala dan tidak takut akan azab-Nya, maka ia terhadap urusan selain itu akan lebih menyia-nyiakannya lagi.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.