Udzur-udzur yang Membolehkan Berbuka Puasa



الأعذار المبيحة للفطر

Udzur-udzur yang Membolehkan Berbuka Puasa

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Udzur-udzur yang Membolehkan Berbuka Puasa ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

ما هي رخص الصيام مع ذكر الدليل من القرآن والسنة؟

Apa saja keringanan-keringanan (rukhshah) dalam berpuasa disertai dengan penyebutan dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: 

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:

فالرخصة صدقة تصدق الله بها على عباده لرفع الحرج عنهم حال المشقة، فالمشقة تجلب التيسير، وقد رخص الله تعالى للصائم في الإفطار إذا وُجد عذر، فمن الأعذار المبيحة للصائم في الفطر:

Rukhshah (keringanan) adalah sedekah yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya untuk mengangkat kesulitan dari mereka saat terjadi kepayahan, karena kesulitan mendatangkan kemudahan. Allah Ta’ala telah memberikan keringanan bagi orang yang berpuasa untuk berbuka jika terdapat udzur. Di antara udzur-udzur yang membolehkan orang yang berpuasa untuk berbuka adalah:

– المرض، فمن كان مريضاً مرضاً لا يستطيع معه الصيام رخص الله له في الفطر، وعليه القضاء.

  • Sakit: Barangsiapa yang sakit dengan penyakit yang membuatnya tidak mampu berpuasa, maka Allah memberinya keringanan untuk berbuka, dan ia wajib meng-qadhanya.

– السفر، فمن كان مسافراً سفراً يبيح له قصر الصلاة الرباعية جاز له الفطر، ومسافة الفطر ثلاثة وثمانون كيلومترا تقريباً، ودليل ذلك قوله تعالى:

  • Safar (Perjalanan): Barangsiapa yang melakukan perjalanan dengan jarak yang membolehkannya meng-qashar shalat empat rakaat, maka boleh baginya berbuka. Jarak tempuh untuk diperbolehkan berbuka adalah sekitar delapan puluh tiga kilometer. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

(فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ) [البقرة:184].

“Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” [Al-Baqarah: 184].

– ورخص الله تعالى للشيخ الكبير والمرأة الكبيرة اللذين لا يستطيعان الصيام لهرمهما وكبر سنهما أن يفطرا، ويطعمان عن كل يوم مسكيناً. ومثلهما من كان مريضاً مرضاً مزمناً لا يُرجى برؤه كمرض الفشل الكلوي -غالباً- لاحتياج المريض إلى الماء والعلاج باستمرار، ومثل بعض أنواع مرضى السكر، ودليل ذلك قوله تعالى: 

  • Allah Ta’ala memberikan keringanan kepada laki-laki tua renta dan wanita tua renta yang tidak mampu berpuasa karena faktor usia dan ketuannya untuk berbuka, dan mereka memberi makan satu orang miskin untuk setiap harinya (fidyah). Semisalnya adalah orang yang menderita penyakit kronis yang tidak diharapkan kesembuhannya, seperti penderita gagal ginjal —pada umumnya— karena kebutuhan pasien akan air dan obat secara terus-menerus, serta sebagian jenis penderita diabetes. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

(وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ) [البقرة:184].

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” [Al-Baqarah: 184].

– ورخص الله تعالى للحامل والمرضع أن تفطرا إذا خافتا الضرر عليهما أو على ولديهما، وعليهما القضاء والفدية على القول الراجح، لقوله تعالى: 

  • Allah Ta’ala memberikan keringanan kepada wanita hamil dan menyusui untuk berbuka jika mereka khawatir akan bahaya pada diri mereka atau pada anak mereka. Menurut pendapat yang kuat, keduanya wajib meng-qadha dan membayar fidyah, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

(وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ) [البقرة:184]. وهما داخلتان في عموم الآية.

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” [Al-Baqarah: 184]. Keduanya termasuk dalam keumuman ayat ini.

– ومنها: الترخيص لمن أكل أو شرب ناسياً أن يتم صيامه، وليس عليه قضاءٌ ولا كفارة، لقول النبي صلى الله عليه وسلم: “من أكل أو شرب ناسياً فليتم صومه، فإنما أطعمه الله وسقاه” خرجه البخاري ومسلم.

– Di antaranya: Keringanan bagi orang yang makan atau minum karena lupa untuk tetap menyempurnakan puasanya, dan ia tidak wajib meng-qadha maupun membayar kaffarah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang makan atau minum karena lupa, hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah-lah yang telah memberinya makan dan minum.” (Dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim).

– ومنها: أن من غلبه الجوع والعطش فخاف الهلاك فله أن يفطر، وإن كان صحيحاً مقيماً، لقوله تعالى: 

  • Di antaranya: Bahwa barangsiapa yang dikalahkan oleh rasa lapar dan haus sehingga ia khawatir akan binasa, maka ia boleh berbuka, meskipun ia dalam keadaan sehat dan tidak sedang bersafar (muqim). Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

(وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ) [النساء:29]. 

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu.” [An-Nisa: 29],

ولقوله تعالى: 

dan firman-Nya:

(لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَهَا) [البقرة:286].

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” [Al-Baqarah: 286].

– ومنها: أن الصائم لو رأى مشرفاً على الغرق ونحوه ولم يمكنه تخليصه إلا بالفطر ليتقوى فله ذلك، بل يلزمه.

  • Di antaranya: Apabila orang yang berpuasa melihat seseorang yang hampir tenggelam atau semisalnya, dan ia tidak mungkin menyelamatkannya kecuali dengan berbuka agar ia memiliki kekuatan, maka ia boleh melakukannya, bahkan wajib baginya.

– ومنها: أنه رخص للصائم في ابتلاع ريقه المعتاد لعسر الاحتراز منه.

  • Di antaranya: Bahwa diberikan keringanan bagi orang yang berpuasa untuk menelan air liurnya yang biasa karena sulitnya menghindar darinya.

– ومنها: أن من ذرعه القيء -أي غلبه- لم يبطل صومه، لقوله صلى الله عليه وسلم: 

  • Di antaranya: Bahwa barangsiapa yang terdesak oleh muntah —yakni tidak sengaja muntah— maka puasanya tidak batal. Berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“من ذرعه القيء فلا قضاء عليه، ومن استقاء فليقض”. رواه أحمد وغيره بسند صحيح.

“Barangsiapa yang terdesak oleh muntah maka tidak ada qadha baginya, dan barangsiapa yang sengaja muntah maka hendaklah ia meng-qadha.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan lainnya dengan sanad yang shahih).

– ومنها: الترخيص للصائم في المضمضة والاستنشاق بشرط عدم المبالغة، لقوله صلى الله عليه وسلم: 

  • Di antaranya: Keringanan bagi orang yang berpuasa dalam berkumur-kumur (madhmadha) dan menghirup air ke hidung (istinsyaq) dengan syarat tidak berlebihan. Berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“وبالغ في الاستنشاق إلا أن تكون صائماً”. رواه أبو داود والترمذي، وقال: حديث حسن صحيح، والنسائي وابن ماجه. والله أعلم.

“Dan berlebih-lebihlah dalam menghirup air ke hidung kecuali jika engkau sedang berpuasa.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi —ia berkata: hadits hasan shahih—, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah). Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.