Istifham (Kata Tanya) dalam Al-Qur’an al-Karim (1)



الاستفهام في القرآن الكريم

Istifham (Kata Tanya) dalam Al-Qur’an al-Karim (Bagian Pertama)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Istifham (Kata Tanya) dalam Al-Qur’an al-Karim ini masuk dalam Kategori al Quran

(الاستفهام) هو طلب العلم بشيء لم يكن معلوماً من قبل، وذلك بأداة من إحدى أدواته الآتية، وهي: الهمزة، وهل، وما، ومتى، وأيان، وكيف، وأين، وأنى، وكم، وأي، 

(Istifham) adalah menuntut pengetahuan tentang sesuatu yang belum diketahui sebelumnya, yaitu dengan menggunakan salah satu dari perangkat-perangkat berikut: Hamzah, Hal, Ma, Mata, Ayana, Kaifa, Aina, Anna, Kam, dan Ayyu.

عندما تدخل هذه الأدوات على الجملة الخبرية، فإنه يُسْتَفْهَمُ بها عن أحد أمرين: إما عن النسبة، أي الحكم المفاد من الجملة، ويسمى (تصديقاً) وهو إدراك النسبة بين شيئين، ثبوتاً أو نفياً، وإما عن أحد أجزاء الجملة المسند أو المسند إليه، أو أحد المتعلقات، ويسمى (تصوراً). 

Ketika perangkat-perangkat ini masuk ke dalam kalimat berita (jumlah khabariyyah), maka ia digunakan untuk menanyakan salah satu dari dua hal: baik tentang nisbah (hubungan), yaitu hukum yang dipetik dari kalimat tersebut yang disebut (tasdiq)—yakni mempersepsikan hubungan antara dua hal, baik secara penetapan (itsbat) maupun peniadaan (nafi)—atau tentang salah satu bagian kalimat seperti musnad atau musnad ilaih, atau salah satu keterkaitannya, yang disebut (tashawwur).

وقد يخرج الاستفهام عن هذا المعنى إلى معان أخرى، هي ميدان الدرس البلاغي، ففيها تتجلى الفكرة، وتشرق الرؤية، ويبرز الإبداع.

Terkadang istifham keluar dari makna dasar ini menuju makna-makna lain, yang menjadi bidang studi balaghah; di sanalah ide-ide menjadi nyata, visi bersinar, dan kreativitas muncul.

وقد خرج أسلوب الاستفهام في القرآن الكريم عن مجرد الاستعلام، وهو الأصل فيه، وورد لإفادة معان أُخر. 

Gaya bahasa istifham dalam Al-Qur’an al-Karim telah keluar dari sekadar mencari informasi (istilaam), yang merupakan makna asalnya, dan muncul untuk memberikan makna-makna lainnya.

وقد ألمح ابن عاشور إلى أن مجيء الاستفهام على غير معناه الحقيقي كثير في القرآن الكريم، وأن الغرض من هذا الأسلوب إعداد السامعين لتلقي ما يرد بعد الاستفهام، ووَصَفَ هذا الأسلوب بأنه من بديع أساليب القرآن. 

Ibnu ‘Asyur mengisyaratkan bahwa kemunculan istifham di luar makna hakikinya sangat banyak dalam Al-Qur’an al-Karim, dan tujuan dari gaya bahasa ini adalah mempersiapkan pendengar untuk menerima apa yang datang setelah istifham tersebut, serta menyifatkan gaya bahasa ini sebagai salah satu gaya bahasa Al-Qur’an yang sangat indah (badi’).

ومعلوم أن استعمال الاستفهام في غير معنى طلب الفهم، هو إما مجاز أو كناية. وهذا المقال يسعى لرصد هذا الأسلوب، والوقوف على تجلياته.

Maklum diketahui bahwa penggunaan istifham di luar makna menuntut pemahaman adalah berupa majas atau kinayah. Artikel ini berupaya memantau gaya bahasa tersebut dan menelaah manifestasinya.

ورد أسلوب الاستفهام في القرآن الكريم مراد به التقرير في مواضع عدة، من ذلك قوله عز وجل:

Gaya bahasa istifham dalam Al-Qur’an al-Karim muncul dengan maksud at-taqrir (pengukuhan/penetapan) di beberapa tempat, di antaranya adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla:

{وإذ قال إبراهيم رب أرنى كيف تحي الموتى قال أولم تؤمن} (البقرة:260)

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: ‘Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.’ Allah berfirman: ‘Belum yakinkah kamu?'” (Al-Baqarah: 260)

فـ (الهمزة) استفهام تقريري على هذه الحالة، وعامل الحال فعل مقدر، دلَّ عليه قوله سبحانه: {أرني} والتقدير: أأريك في حال أنك لم تؤمن، وهو تقرير مجازي، مراد به لفت عقله إلى دفع هواجس الشك.

Maka (Hamzah) adalah istifham taqriri dalam keadaan ini, dan ‘amil hal-nya adalah fi’il yang diperkirakan (muqaddar), yang ditunjukkan oleh firman-Nya: {Perlihatkanlah kepadaku}, dengan perkiraan makna: “Apakah Aku akan memperlihatkan kepadamu dalam keadaan engkau belum beriman?”, dan ini adalah taqrir majazi yang dimaksudkan untuk mengalihkan akalnya guna menepis bisikan-bisikan keraguan.

ومن أمثلته قول الحق تعالى:

Di antara contohnya adalah firman Allah Ta’ala:

{يوم يجمع الله الرسل فيقول ماذا أجبتم} (المائدة:109)

“(Ingatlah), hari di waktu Allah mengumpulkan para rasul lalu Allah bertanya (kepada mereka): ‘Apa jawaban kaummu terhadap (seruan)mu?'” (Al-Ma’idah: 109)

الاستفهام في قوله سبحانه: {ماذا أجبتم} غير وارد على حقيقته، بل مستعمَل في الاستشهاد، يُنتقل منه إلى لازمه، وهو توبيخ الذين كذبوا الرسل في حياتهم، أو بدلوا وارتدوا بعد مماتهم.

Istifham dalam firman-Nya: {Apa jawaban kamu?} tidaklah muncul dalam makna hakikinya, melainkan digunakan untuk mencari kesaksian (istisyhad), yang darinya berpindah kepada konsekuensinya, yaitu mencela (taubikh) orang-orang yang mendustakan para rasul di masa hidup mereka, atau orang-orang yang mengubah (ajaran) dan murtad setelah kematian para rasul.

ومن الاستفهام الذي خرج عن بابه قوله سبحانه:

Di antara istifham yang keluar dari maknanya adalah firman-Nya:

{وإذ قال الله يا عيسى ابن مريم أأنت قلت للناس اتخذوني وأمي إلهين من دون الله} (المائدة:116)

“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: ‘Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?”” (Al-Ma’idah: 116)

وقد علم سبحانه كون الملائكة وعيسى منزهين برآء مما وجِّه عليهم من السؤال الوارد على طريق التقرير، والغرض أن يقول ويقولوا، ويسأل ويجيبوا، فيكون تقريعهم أشد، وتعييرهم أبلغ، وخجلهم أعظم: وهو أنه ألزم، ويكون اقتصاص ذلك لطفاً لمن سمعه، وزاجراً لمن اقتص عليه”.

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengetahui bahwa para malaikat dan Isa tersucikan serta berlepas diri dari apa yang diarahkan kepada mereka berupa pertanyaan yang muncul dalam bentuk taqrir. Tujuannya adalah agar Dia berfirman dan mereka berkata, Dia bertanya dan mereka menjawab, sehingga cercaan (taqri’) terhadap mereka (orang-orang kafir) menjadi lebih keras, celaan mereka lebih mendalam, dan rasa malu mereka lebih besar: yaitu bahwa hal itu lebih mengikat, dan pengisahan hal tersebut menjadi kelembutan bagi yang mendengarnya serta peringatan bagi yang dikisahkan kepadanya.

ومنه قوله عز وجل:

Di antaranya adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla:

{قل لمن ما في السماوات والأرض قل لله} (الأنعام:12)

“Katakanlah: ‘Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi?’ Katakanlah: ‘Kepunyaan Allah.'” (Al-An’am: 12)

الاستفهام في الآية مستعمَل مجازاً في التقرير. والتقرير هنا مراد به لازم معناه، وهو تبكيت المشركين وإلجاؤهم إلى الإقرار بما يفضي إلى إبطال معتقدهم الشرك،

Istifham dalam ayat ini digunakan secara majazi untuk at-taqrir. Taqrir di sini dimaksudkan untuk konsekuensi maknanya, yaitu membungkam (tabkit) kaum musyrikin dan memaksa mereka untuk mengakui apa yang berujung pada pembatalan keyakinan syirik mereka.

فهو مستعمَل في معناه الكنائي مع معناه الصريح، والمقصود هو المعنى الكنائي. ولكونه مراداً به الإلجاء إلى الإقرار، كان الجواب عنه بما يريده السائل من إقرار المسؤول محقَّقاً لا محيص عنه، إذ لا سبيل إلى الجحد فيه أو المغالطة، 

Jadi, ia digunakan dalam makna kinayah-nya beserta makna sharih-nya, dan yang dimaksud adalah makna kinayah. Karena tujuannya adalah memaksa pengakuan, maka jawaban darinya—sebagaimana yang diinginkan penanya berupa pengakuan dari pihak yang ditanya—adalah pasti dan tidak terelakkan, karena tidak ada jalan untuk mengingkarinya atau berdalih.

فلذلك لم ينتظر السائل جوابهم، وبادرهم الجواب عنه بنفسه بقوله: {لله} تبكيتاً لهم؛ لأن الكلام مسوق مساق إبلاغ الحجة.

Oleh karena itu, sang penanya tidak menunggu jawaban mereka, melainkan menyegerakan jawabannya sendiri dengan firman-Nya: {Kepunyaan Allah} sebagai bentuk pembungkaman terhadap mereka; karena pembicaraan tersebut digiring dalam konteks penyampaian hujah.

ومنه قوله تعالى:

Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala:

{قل أرأيتم إن أخذ الله سمعكم وأبصاركم وختم على قلوبكم من إله غير الله يأتيكم به} (الأنعام:46)

“Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku jika Allah mengambil pendengaran dan penglihatanmu serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?'” (Al-An’am: 46)

قوله: {من إله} استفهام مستعمَل في التقرير، يُقْصَدُ منه إلجاء السامعين إلى النظر في جوابه، فيوقنوا أنه لا إله غير الله يأتيهم بذلك؛ لأنه الخالق للسمع والأبصار والعقول، فإنهم لا ينكرون أن الأصنام لا تخلق شيئاً؛ ولذلك قال لهم القرآن:

Firman-Nya: {siapakah tuhan} adalah istifham yang digunakan untuk at-taqrir, yang dimaksudkan untuk memaksa pendengar agar melihat jawabannya, sehingga mereka yakin bahwa tidak ada tuhan selain Allah yang sanggup mendatangkan hal itu; karena Dialah Sang Pencipta pendengaran, penglihatan, dan akal. Sebab mereka tidak memungkiri bahwa berhala-berhala tidak dapat menciptakan apa pun; oleh karena itu Al-Qur’an berfirman kepada mereka:

{أفمن يخلق كمن لا يخلق أفلا تذكرون} (النحل:17)

“Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (An-Nahl: 17)

ومن هذه البابة قوله عز وجل:

Termasuk dalam bab ini adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla:

{قل من ينجيكم من ظلمات البر والبحر تدعونه تضرعا وخفية لئن أنجانا من هذه لنكونن من الشاكرين} (الأنعام:63)

“Katakanlah: ‘Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dan dengan suara yang lembut (dengan mengatakan): ‘Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur’.'” (Al-An’am: 63)

الاستفهام مستعمَل في التقرير والإلجاء، لكون ذلك لا ينازعون فيه بحسب عقائد الشرك.

Istifham di sini digunakan untuk at-taqrir dan memaksa pengakuan (ilja’), karena hal tersebut tidak mereka perselisihkan menurut keyakinan kesyirikan mereka.

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : Islamweb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.