Istifham (Kata Tanya) dalam Al-Qur’an al-Karim (2)



الاستفهام في القرآن الكريم

Istifham (Kata Tanya) dalam Al-Qur’an al-Karim (Bagian Kedua)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Istifham (Kata Tanya) dalam Al-Qur’an al-Karim ini masuk dalam Kategori al Quran

ومنه قوله تعالى:

Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala:

{قل أرأيتم إن أخذ الله سمعكم وأبصاركم وختم على قلوبكم من إله غير الله يأتيكم به} (الأنعام:46)

“Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku jika Allah mengambil pendengaran dan penglihatanmu serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?'” (Al-An’am: 46)

قوله: {من إله} استفهام مستعمَل في التقرير، يُقْصَدُ منه إلجاء السامعين إلى النظر في جوابه، فيوقنوا أنه لا إله غير الله يأتيهم بذلك؛ لأنه الخالق للسمع والأبصار والعقول، فإنهم لا ينكرون أن الأصنام لا تخلق شيئاً؛ ولذلك قال لهم القرآن:

Firman-Nya: {siapakah tuhan} adalah istifham yang digunakan untuk at-taqrir, yang dimaksudkan untuk memaksa pendengar agar melihat jawabannya, sehingga mereka yakin bahwa tidak ada tuhan selain Allah yang sanggup mendatangkan hal itu; karena Dialah Sang Pencipta pendengaran, penglihatan, dan akal. Sebab mereka tidak memungkiri bahwa berhala-berhala tidak dapat menciptakan apa pun; oleh karena itu Al-Qur’an berfirman kepada mereka:

{أفمن يخلق كمن لا يخلق أفلا تذكرون} (النحل:17)

“Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (An-Nahl: 17)

ومن هذه البابة قوله عز وجل:

Termasuk dalam bab ini adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla:

{قل من ينجيكم من ظلمات البر والبحر تدعونه تضرعا وخفية لئن أنجانا من هذه لنكونن من الشاكرين} (الأنعام:63)

“Katakanlah: ‘Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dan dengan suara yang lembut (dengan mengatakan): ‘Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur’.'” (Al-An’am: 63)

الاستفهام مستعمَل في التقرير والإلجاء، لكون ذلك لا ينازعون فيه بحسب عقائد الشرك.

Istifham di sini digunakan untuk at-taqrir dan memaksa pengakuan (ilja’), karena hal tersebut tidak mereka perselisihkan menurut keyakinan kesyirikan mereka.

ومنه قول الحق تعالى:

Dan di antaranya adalah firman Allah Ta’ala:

{ثمانية أزواج من الضأن اثنين ومن المعز اثنين قل آلذكرين حرَّم أم الأنثيين أما اشتملت عليه أرحام الأنثيين نبئوني بعلم إن كنتم صادقين * ومن الإبل اثنين ومن البقر اثنين قل آلذكرين حرَّم أم الأنثيين} (الأنعام:143-144)

“(Yaitu) delapan binatang yang berpasangan, sepasang dari domba, sepasang dari kambing. Katakanlah: ‘Apakah dua yang jantan yang diharamkan Allah ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya? Terangkanlah kepadaku dengan berdasar ilmu jika kamu memang orang-orang yang benar.’ Dan sepasang dari unta dan sepasang dari lembu. Katakanlah: ‘Apakah dua yang jantan yang diharamkan ataukah dua yang betina?'” (Al-An’am: 143-144)

الاستفهام في قوله: {آلذكرين حرَّم} في الموضعين مستعمَل في التقرير والإنكار، بقرينة قوله قبله: {سيجزيهم وصفهم إنه حكيم عليم} (الأنعام:139).

Istifham dalam firman-Nya: {Apakah dua yang jantan yang diharamkan} di kedua tempat tersebut digunakan untuk at-taqrir (pengukuhan) dan al-inkar (penyangkalan), dengan bukti (qarinah) firman-Nya sebelumnya: {Allah akan membalas mereka atas sifat yang mereka buat-buat. Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui} (Al-An’am: 139).

ومنه قوله سبحانه:

Dan di antaranya adalah firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala:

{أهؤلاء الذين أقسمتم لا ينالهم الله برحمة} (الأعراف:49)

“Itulah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah.” (Al-A’raf: 49)

الاستفهام في قوله: {أهؤلاء الذين أقسمتم} ليس على حقيقته، بل مستعمَل في التقرير.

Istifham dalam firman-Nya: {Itulah orang-orang yang kamu telah bersumpah} bukanlah dalam makna hakikinya, melainkan digunakan untuk at-taqrir.

ومما خرج عن باب الاستفهام الحقيقي قوله عز وجل:

Dan di antara yang keluar dari bab istifham hakiki adalah firman-Nya ‘Azza wa Jalla:

{أفمن يخلق كمن لا يخلق أفلا تذكرون} (النحل:17)

“Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (An-Nahl: 17)

فالاستفهام في قوله: {أفلا تذكرون} مستعمَل في الإنكار على انتفاء التذكر، وذلك يختلف باختلاف المخاطبين، فهو إنكار على إعراض المشركين عن التذكر في ذلك.

Istifham dalam firman-Nya: {Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran} digunakan untuk al-inkar (penyangkalan) atas ketiadaan upaya mengambil pelajaran. Hal ini berbeda-beda sesuai dengan perbedaan lawan bicara; maka ini adalah pengingkaran terhadap berpalingnya kaum musyrikin dari mengambil pelajaran dalam hal tersebut.

ومنه أيضاً قوله عز وجل:

Dan di antaranya juga adalah firman-Nya ‘Azza wa Jalla:

{قل هل ننبئكم بالأخسرين أعمالا} (الكهف:103)

“Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?'” (Al-Kahf: 103)

افتتاح الآية باستفهامهم عن إنبائهم، استفهاماً مستعمَلاً في العرض؛ لأنه بمعنى: أتحبون أن نُنبئكم بالأخسرين أعمالاً، وهو عَرْضُ تهكُّم، لأنه منبِّئهم بذلك دون توقُّف على رضاهم.

Pembukaan ayat dengan menanyakan tentang pemberitahuan kepada mereka adalah istifham yang digunakan untuk al-‘aradh (penawaran); karena ia bermakna: “Apakah kalian suka jika Kami beritahukan tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”. Ini adalah penawaran yang bersifat ejekan (tahakkum), karena Dia akan memberitahu mereka tentang hal itu tanpa bergantung pada keridaan mereka.

ونحوه قوله سبحانه:

Dan yang serupa dengannya adalah firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala:

{أليس في جهنم مثوى للكافرين} (العنكبوت:68)

“Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir?” (Al-‘Ankabut: 68)

(الهمزة) في قوله عز وجل: {أليس في جهنم مثوى} للاستفهام التقريري، وأصلها: إما الإنكار بتنزيل المقِرِّ منزلة المنْكِر؛ ليكون إقراره أشدَّ لزوماً له، وإما أن تكون للاستفهام، فلما دخلت على النفي أفادت التقرير، لأن إنكار النفي إثبات للمنفي.

(Hamzah) dalam firman-Nya ‘Azza wa Jalla: {Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat} adalah untuk istifham taqriri. Asalnya bisa berupa al-inkar dengan menempatkan orang yang mengakui di posisi orang yang mengingkari agar pengakuannya lebih mengikat baginya; atau ia berupa istifham yang ketika masuk pada kalimat negatif (nafi) maka memberikan makna taqrir, karena pengingkaran terhadap sebuah negasi berarti penetapan terhadap hal yang dinegasikan tersebut.

قال ابن عاشور: “وهذا التقرير بالهمزة هو غالب استعمال الاستفهام مع النفي، ومنه قول جرير:

Ibnu ‘Asyur berkata: “Taqrir dengan Hamzah ini adalah penggunaan istifham yang paling dominan bersama kalimat negatif, di antaranya adalah perkataan Jarir:

ألستم خير من ركب المطايا … وأندى العالمين بطون راح

Bukankah kalian sebaik-baik orang yang menunggang unta… dan orang yang paling dermawan telapak tangannya di seluruh alam.

ومن مواضع الاستفهام التي تضمنت معنى التقرير قوله سبحانه:

Dan di antara tempat-tempat istifham yang mengandung makna taqrir adalah firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala:

{قل من يرزقكم من السماوات والأرض قل الله} (سبأ:24)

“Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?’ Katakanlah: ‘Allah.'” (Saba’: 24)

ولكون الاستفهام غير حقيقي، بل مفيداً للتقرير، جاء جوابه من قِبَل المستَفْهِم.

Karena istifham-nya tidak hakiki, melainkan bermakna taqrir, maka jawabannya datang dari pihak yang bertanya (al-mustafhim).

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : Islamweb

 



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.