أحوال جواز إفراد يوم الجمعة أو السبت بالصيام
Kondisi Dibolehkannya Menyendirikan Puasa pada Hari Jumat atau Sabtu
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Kondisi Dibolehkannya Menyendirikan Puasa pada Hari Jumat atau Sabtu ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
سمعت أن صيام الجمعة والسبت وحدهما حرام، فهل هذا صحيح؟ وما الحكمة في ذلك؟ ولنفترض أن أول يوم من رمضان كان يوم سبت فكيف يكون الوضع؟ وإذا صمت اليوم كله وسمعت أذان الجوال وسألت زوج عمتي وهو قاعد في البلكونة يعني سامع للأذان وقال لي نعم أذن وأفطرت واتضح أن أذان الجوال قبل الأذان الحقيقي فهل حسب لي أجر الصيام أم لا؟.
Saya mendengar bahwa berpuasa pada hari Jumat saja atau hari Sabtu saja hukumnya haram, apakah ini benar? Apa hikmah di baliknya? Misalkan hari pertama Ramadhan jatuh pada hari Sabtu, bagaimana situasinya? Dan jika saya berpuasa seharian kemudian mendengar adzan dari HP, lalu saya bertanya kepada paman (suami bibi) saya yang sedang duduk di balkon —berarti ia mendengar adzan— dan ia menjawab “Ya, sudah adzan”, lalu saya berbuka, namun ternyata adzan HP tersebut mendahului adzan yang sebenarnya, apakah pahala puasa saya tetap dihitung atau tidak?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:
فقد ورد النهي عن إفراد يوم السبت بصوم غير مفروض، وكذلك إفراد يوم الجمعة، وهذا النهي للكراهة عند جمهور العلماء وليس للتحريم، وتنتفي هذه الكراهة في أحوال سبق بيانها في الفتوى الأخرى هنا و الفتوى الأخرى هنا
Telah terdapat larangan untuk menyendirikan hari Sabtu dengan puasa yang bukan wajib, demikian pula menyendirikan hari Jumat. Larangan ini bermakna makruh menurut mayoritas ulama dan bukan bermakna haram. Kemakruhan ini hilang dalam beberapa kondisi yang telah dijelaskan sebelumnya pada fatwa lainnya di sini dan fatwa lainnya di sini.
ومنه يعلم أن صيام اليومين معا غير داخل في النهي كما أن صيام الفرض ليس داخلا في النهي كذلك، فإذا ثبت رمضان وجب الصيام بغض النظر عن اليوم الذي استهل به،
Dari situ diketahui bahwa berpuasa pada kedua hari tersebut secara bersamaan tidak termasuk dalam larangan, sebagaimana puasa fardhu juga tidak termasuk dalam larangan tersebut. Maka, jika bulan Ramadhan telah ditetapkan, wajib hukumnya berpuasa tanpa memandang hari apa bulan tersebut dimulai.
وقد اختلف في علة كراهة إفراد صوم يوم الجمعة والصحيح ـ كما قال النووي ـ أن العلة في ذلك أنه يضعف عن أعمال يوم الجمعة مما يتعلق بصلاتها وحضورها والاجتهاد في الدعاء يومها، والحكمة من كراهة إفراد يوم السبت، أنه يوم تعظمه اليهود ففي إفراده بالصيام تشبه بهم من حيث التخصيص والتعظيم.
Para ulama berbeda pendapat mengenai alasan (illat) makruhnya menyendirikan puasa pada hari Jumat. Yang benar —sebagaimana dikatakan Imam An-Nawawi— adalah bahwa illat-nya karena puasa tersebut dapat melemahkan seseorang dalam melaksanakan amal ibadah pada hari Jumat, seperti shalat Jumat, menghadirinya, dan bersungguh-sungguh dalam berdoa pada hari tersebut. Adapun hikmah dari makruhnya menyendirikan hari Sabtu adalah karena hari tersebut diagungkan oleh kaum Yahudi, sehingga menyendirikannya untuk berpuasa dianggap menyerupai mereka dalam hal pengkhususan dan pengagungan.
ففي الفتاوى الكبرى لابن حجر الهيتمي وهو يذكر علة كراهة إفراد يوم الجمعة بالصيام: وقيل: العلة أن لا يبالغ في تعظيمه كاليهود في السبت، وقيل: لئلا يعتقد وجوبه، وقال النووي: الصحيح أن علة الكراهة أنه يضعف عن القيام بالوظائف الدينية المشروعة فيه، أي من صلاة الجمعة وسوابقها ولواحقها ومن الاجتهاد في الدعاء يومه ليصادف ساعة الإجابة فيه،
Dalam Al-Fatawa Al-Kubra, Ibnu Hajar Al-Haitami menyebutkan illat makruhnya menyendirikan hari Jumat untuk berpuasa: “Dikatakan bahwa illat-nya adalah agar tidak berlebihan dalam mengagungkannya seperti kaum Yahudi terhadap hari Sabtu. Dikatakan pula: agar tidak disangka bahwa puasa tersebut wajib. Imam An-Nawawi berkata: Yang benar adalah bahwa illat kemakruhan tersebut karena ia melemahkan diri dari menunaikan tugas-tugas agama yang disyariatkan padanya, yaitu shalat Jumat, amalan sebelum dan sesudahnya, serta kesungguhan dalam berdoa agar bertepatan dengan waktu dikabulkannya doa.”
ومحل الكراهة حيث لم يصم قبله يوماً، أو بعده يوماً للحديث السابق ولأنه تبين أنه لم يقصد إضعاف نفسه في يوم الجمعة عن مقاصد الجمعة، وإنما قصد الصوم لا غير، ومحلها أيضاً في غير الفرض فصومه عن الفرض لا كراهة فيه، ويكره أيضاً إفراد يوم السبت لقوله:
“Letak kemakruhan adalah jika ia tidak berpuasa satu hari sebelumnya atau satu hari sesudahnya berdasarkan hadits terdahulu, dan karena hal itu menunjukkan bahwa ia tidak bermaksud melemahkan dirinya dari tujuan-tujuan hari Jumat, melainkan hanya bermaksud puasa saja. Kemakruhan ini juga berlaku pada selain puasa fardhu; adapun berpuasa fardhu padanya maka tidak ada kemakruhan. Dimakruhkan juga menyendirikan hari Sabtu berdasarkan sabda Nabi:
لا تصوموا يوم السبت إلا فيما افترض عليكم ـ رواه أصحاب السنن الأربعة وأحمد وصححه ابن حبان وحسنه الترمذي، قال، أعني الترمذي: ومعنى النهي أن يختصه الرجل بالصيام، لأن اليهود يعظمونه. انتهى.
‘Janganlah kalian berpuasa pada hari Sabtu kecuali pada apa yang diwajibkan atas kalian’ —diriwayatkan oleh Ashhabus Sunan yang empat dan Ahmad, dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan dihasankan oleh At-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata: Makna larangan tersebut adalah seseorang mengkhususkannya dengan puasa karena kaum Yahudi mengagungkannya.” (Selesai).
قال في كشاف القناع في الفقه الحنبلي: ويكره تعمد إفراد يوم السبت بصوم، لحديث عبد الله بن بشر عن أخته الصماء:
Disebutkan dalam Kasysyaf al-Qina’ (Fikih Hanbali): “Dimakruhkan sengaja menyendirikan hari Sabtu dengan puasa, berdasarkan hadits Abdullah bin Bisyr dari saudarinya Ash-Shamma’:
لا تصوموا يوم السبت إلا فيما افترض عليكم ـ رواه أحمد بإسناد جيد والحاكم وقال على شرط البخاري، ولأنه يوم تعظمه اليهود، ففي إفراده تشبه بهم. انتهى.
‘Janganlah kalian berpuasa pada hari Sabtu kecuali pada apa yang diwajibkan atas kalian’ —diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang baik dan Al-Hakim, ia berkata: sesuai syarat Al-Bukhari. Dan karena hari itu diagungkan kaum Yahudi, maka menyendirikannya berarti menyerupai mereka.” (Selesai).
وقد تقدمت الإجابة عن حكم الفطر ظنا أنه قد أذن للمغرب والحال أنه لم يؤذن بعد، فلتراجع الفتوى الأخرى هنا، وللفائدة يرجى الاطلاع على الفتوى الأخرى هنا و الفتوى الأخرى هنا
Adapun jawaban mengenai hukum berbuka karena mengira telah adzan Maghrib padahal kenyataannya belum adzan, silakan merujuk pada fatwa lainnya di sini. Untuk manfaat tambahan silakan merujuk pada fatwa lainnya di sini dan fatwa lainnya di sini.
أما عن الأجر في حال عدم صحة الصيام فالظاهر أنه قد يحصل بالنية ـ إن شاء الله تعالى ـ قال شيخ الإسلام ابن تيمية ـ رحمه الله: من نوى الخير وعمل منه مقدوره وعجز عن إكماله كان له أجر عامله. انتهى.
Mengenai pahala dalam kondisi puasa yang tidak sah (karena kesalahan waktu tersebut), maka secara lahiriah pahala tersebut tetap diperoleh melalui niat —insya Allah Ta’ala—. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Barangsiapa berniat melakukan kebaikan dan mengerjakan semampunya namun tidak sanggup menyempurnakannya, maka baginya pahala orang yang mengerjakannya.” (Selesai).
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply