Hukum Menyendirikan Hari Jumat dalam Puasa Enam Hari Syawal



حكم إفراد الجمعة في صيام ست من شوال

Hukum Menyendirikan Hari Jumat dalam Puasa Enam Hari Syawal

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Hukum Menyendirikan Hari Jumat dalam Puasa Enam Hari Syawal ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

هل يجوز إفراد يوم الجمعة في صيام الست من شوال؟

Apakah diperbolehkan menyendirikan hari Jumat (berpuasa hanya di hari Jumat saja) saat melakukan puasa enam hari Syawal?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: 

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:

فإفراد يوم الجمعة بالصيام مكروه عند جمهور أهل العلم ، فعن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : 

Menyendirikan hari Jumat untuk berpuasa hukumnya adalah makruh menurut mayoritas ahli ilmu. Dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” لا تختصوا ليلة الجمعة بقيام من بين الليالي ، ولا تخصوا يوم الجمعة بصيام من بين الأيام ، إلا أن يكون في صوم يصومه أحدكم” رواه مسلم .

“Janganlah kalian mengkhususkan malam Jumat dengan shalat malam di antara malam-malam lainnya, dan janganlah kalian mengkhususkan hari Jumat dengan puasa di antara hari-hari lainnya, kecuali jika itu merupakan puasa yang biasa dilakukan oleh salah seorang dari kalian.” (Hadits Riwayat Imam Muslim).

فيكره التطوع بالصيام يوم الجمعة منفرداً به عن بقية الأيام ، ولو كان من صيام الست من شوال لأن صيام الست من شوال من باب التطوع فيدخل في عموم النهي.

Maka dimakruhkan melakukan puasa sunnah pada hari Jumat secara tunggal tanpa menyambungnya dengan hari lain, meskipun itu termasuk bagian dari puasa enam hari Syawal, karena puasa Syawal termasuk dalam bab puasa sunnah sehingga masuk ke dalam keumuman larangan tersebut.

فإن وصله بيوم قبله أو يوم بعده أو وافق عادة له كمن يصوم يوماً ويفطر يوماً ، أو وافق يوم الجمعة يوماً استحب صيامه كصيام عرفة ، أو نذر أن يصوم يوم يقدم فلان ، أو يوم شفاء فلان فوافق يوم الجمعة فلا حرج في صيامه لانتفاء علة التخصيص.

Namun, jika ia menyambungnya dengan satu hari sebelumnya atau satu hari sesudahnya, atau bertepatan dengan kebiasaan puasanya (seperti puasa Daud), atau hari Jumat tersebut bertepatan dengan hari yang dianjurkan berpuasa seperti hari Arafah, atau ia bernazar berpuasa pada hari pulangnya seseorang atau hari sembuhnya seseorang lalu bertepatan dengan hari Jumat, maka tidak ada halangan untuk berpuasa padanya karena alasan pengkhususan (illat at-takhshish) telah hilang.

وقد رأى بعض أهل العلم جواز الإفراد بل واستحبه ، ولعل من قال ذلك لم يبلغه خبر النهى كما ذكر النووي في شرحه لصحيح مسلم ، وقال ابن عابدين : 

Sebagian ahli ilmu berpendapat bolehnya menyendirikan hari Jumat bahkan menganjurkannya; barangkali orang yang berpendapat demikian belum sampai kepadanya kabar tentang larangan tersebut sebagaimana disebutkan oleh Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim. Ibnu Abidin berkata:

( ثبت بالسنة طلبه والنهي عنه ، والآخر منهما النهي لأن فيه وظائف ، فلعله إذا صام ضعف عن فعلها ) انتهى .

“(Telah tetap dalam sunnah anjuran untuk mencarinya dan juga larangan darinya, dan yang terakhir dari keduanya adalah larangan karena pada hari itu terdapat berbagai tugas ibadah, barangkali jika ia berpuasa maka ia menjadi lemah untuk melakukannya).” (Selesai).

وعن الحكمة في النهى عن إفراده بالصيام مع جواز صيامه مع يوم قبله أو يوم بعده ، أو عند موافقة عادة له يقول النووي رحمه الله : قال العلماء : 

Mengenai hikmah larangan menyendirikan hari Jumat untuk berpuasa —padahal boleh jika dibarengi hari sebelum atau sesudahnya, atau saat bertepatan dengan kebiasaan— Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: Para ulama berkata:

والحكمة في النهى عنه : أن يوم الجمعة يوم دعاء وذكر وعبادة ، من الغسل والتبكير إلى الصلاة وانتظارها واستماع الخطبة وإكثار الذكر بعدها لقوله تعالى 

Hikmah dilarangnya adalah karena hari Jumat adalah hari doa, dzikir, dan ibadah, mulai dari mandi janabah (mandi Jumat), berangkat pagi-pagi menuju shalat, menunggu shalat, mendengarkan khutbah, dan memperbanyak dzikir setelahnya berdasarkan firman Allah Ta’ala:

( فإذا قضيت الصلاة فانتشروا في الأرض وابتغوا من فضل الله واذكروا الله كثيراً ) [سورة الجمعة الآية :10 ]

“Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak…” [QS. Al-Jumu’ah ayat 10].

وغير ذلك من العبادات في يومها ، فاستحب الفطر فيه ، فيكون أعون له على هذه الوظائف وأدائها بنشاط وانشراح لها ، والتذاذ بها من غير ملل ولا سآمة ، وهو نظير الحاج يوم عرفة بعرفة فإن السنة له الفطر كما سبق تقريره لهذه الحكمة ،

Dan ibadah-ibadah lainnya pada hari tersebut, maka dianjurkan untuk berbuka (tidak puasa) padanya agar lebih membantunya dalam menjalankan tugas-tugas ibadah tersebut dengan penuh semangat, dada yang lapang, dan merasakan kenikmatan tanpa rasa bosan atau letih. Hal ini serupa dengan jamaah haji pada hari Arafah di padang Arafah, di mana sunnah bagi mereka adalah tidak berpuasa berdasarkan hikmah yang telah ditetapkan ini.

فإن قيل : لو كان كذلك لم يزل النهي والكراهة بصوم قبله أو بعده لبقاء المعنى ؟ فالجواب : أنه يحصل له بفضيلة الصوم الذي قبله أو بعده ما يجبر ما قد يحصل من فتور أو تقصير في وظائف يوم الجمعة بسبب صومه ، فهذا هو المعتمد في الحكمة في النهي عن إفراد صوم الجمعة ) انتهي من شرح صحيح مسلم. 

Jika ditanyakan: Jika alasannya demikian, mengapa larangan dan kemakruhan itu hilang hanya dengan berpuasa sehari sebelum atau sesudahnya padahal alasan (keletihan) itu tetap ada? Jawabannya adalah: Sesungguhnya ia mendapatkan keutamaan puasa yang sebelum atau sesudahnya yang dapat menutupi apa yang mungkin terjadi berupa kelesuan atau kekurangan dalam menunaikan tugas ibadah hari Jumat akibat puasanya. Inilah pendapat yang dijadikan pegangan mengenai hikmah larangan menyendirikan puasa hari Jumat. (Selesai dari Syarah Shahih Muslim).

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.