Barangsiapa berbicara Al-Quran dengan pendapat sendiri…



معنى حديث: من قال في القرآن برأيه…

Makna Hadits: “Barangsiapa berbicara Al-Quran dengan pendapatnya sendiri…”

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Makna Hadits: “Barangsiapa berbicara Al-Quran dengan pendapatnya sendiri…” ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab tentang al Quran

السؤال

Pertanyaan:

ما المقصود بقول الرسول صلى الله عليه وسلم:

Apa yang dimaksud dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

(من قال في القرآن برأيه، فقد أخطأ ولو أصاب)؟

“Barangsiapa berbicara tentang Al-Quran dengan pendapatnya sendiri, maka ia telah bersalah meskipun (pendapatnya) benar”?

وهل يعني هذا عدم محاولة تفسير القرآن والتوقف على ما قاله الصحابة رضي الله عنهم فقط؟

Dan apakah ini berarti tidak boleh mencoba menafsirkan Al-Quran dan hanya terbatas pada apa yang dikatakan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum saja?

الإجابــة

Jawaban:

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabat beliau, amma ba’du:

فإن هذا الحديث رواه الترمذي بألفاظ مختلفة منها:

Sesungguhnya hadits ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dengan lafaz yang berbeda-beda, di antaranya:

“فليتبوأ مقعده من النار”.

“Maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka”.

والمقصود من الحديث التحذير من تفسير القرآن بغير علم.

Dan maksud dari hadits tersebut adalah peringatan agar tidak menafsirkan Al-Quran tanpa ilmu.

قال ابن تيمية -رحمه الله-:

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

فمن قال في القرآن برأيه، فقد تكلف ما لا علم له به، وسلك غير ما أُمِر به، فلو أنه أصاب المعنى في نفس الأمر، لكان قد أخطأ، لأنه لم يأتِ الأمر من بابه، كمن حكم بين الناس على جهل فهو في النار، وإن وافق حكمه الصواب. مجموع الفتاوى (١٣/٣٧١).

“Barangsiapa berbicara tentang Al-Quran dengan pendapatnya sendiri, maka ia telah membebani diri dengan apa yang tidak ia ketahui, dan menempuh jalan yang tidak diperintahkan kepadanya. Seandainya pun ia benar secara maknanya pada kenyataannya, ia tetap dianggap bersalah, karena ia tidak mendatangi perkara tersebut dari pintunya (metode yang benar). Seperti orang yang menghukumi di antara manusia atas dasar kebodohan, maka ia di neraka, meskipun keputusannya sesuai dengan kebenaran.” (Majmu’ al-Fatawa 13/371).

والأصل في تفسير القرآن أن يفسر بالقرآن، أو بالحديث النبوي، ثم بأقوال الصحابة،

Hukum asal dalam menafsirkan Al-Quran adalah ditafsirkan dengan Al-Quran itu sendiri, atau dengan hadits Nabawi, kemudian dengan perkataan para sahabat.

وإن لم يجد في تفسير الصحابة، فقد رجع كثير من أئمة التفسير إلى أقوال التابعين، كمجاهد وغيره، فمن خالف هذه الأصول، فهو مخطئ وإن أصاب، 

Jika tidak ditemukan dalam tafsir sahabat, maka banyak imam tafsir merujuk pada perkataan para tabi’in, seperti Mujahid dan lainnya. Barangsiapa yang menyelisihi ushul (dasar-dasar) ini, maka ia bersalah meskipun benar.

وليس من التفسير بالرأي المجرد ما كان جارياً على قوانين العلوم العربية، والقواعد الأصلية والفرعية.

Dan tidaklah termasuk kategori “tafsir dengan akal semata” (ar-ra’yi al-mujarrad) apabila tafsir tersebut berjalan sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu bahasa Arab serta kaidah-kaidah pokok (ashliyah) maupun cabang (far’iyah).

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb

Makna hadits tafsir Al-Quran dengan pendapat sendiri | Bahaya tafsir bir ra’yi | Urutan metode tafsir Al-Quran | Penjelasan Majmu’ al-Fatawa 13/371 | IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.